I'M On Your

I'M On Your
Chapter 23



๐ŸŒน๐ŸŒน


"Bu jangan buat fathin penasaran" Ucapku,


"Maaf kan ibu fatin, ibu baru bisa menyampaikan ini"


Perkataan ibu membelit, sebenarnya apa yang sedang beliau sampaikan.


"Bu, tolong intinya saja. Aku tidak mengerti, jika perkataan ibu berbelit-belit. "


Ku dengar ibu menghela nafas berkali-kali.


"Kau masih ingat teman ayahmu, "


"Iya, tante melody kan"


Ibu mengangguk.


"Besok malam keluarganya akan datang kesini, dan itu membawa iktikad baik untuk melamar mu fa"


Tiada hujan malam ini, tapi di atas kepalaku terdapat petir yang menyambar-nyambar. Aku masih diam menatap ibu yang juga menatapku.


Tidak aku belum siap dilamar...


Aku belum ingin menjadi seorang..


Aku gak mau jauh dari ibu...


bagaimana dengan mimpi dan harapanku...


Aku masih ingin meraih mimpi ku dengan kebebasan...


"Ibu ini tidak benarkan? " Tanyaku menyakinkan bahwa ucapan ibu adalah sebuah kebohongan atau telingaku yang salah dengar.


"Iya, bahkan seharusnya ibu sudah membicarakan padamu satu bulan yang lalu, tapi ibu tak ingin mengganggu konsentrasi belajar mu, faa. Ibu tau kau punya mimpi yang ingin kau gapai, jadi apapun keputusanmu ibu akan dukung, ibu tak akan memaksa, tapi perlu kamu ingat fathin ini janji ayahmu pada tante melody."


"Maksud ibu? "


Aku tak mengerti mengenai janji ayah, dan aku butuh penjelasan. Sehingga ibu menceritakan segala hal. Aku syok, menatap ibu penuh permohonan. kini pikiranku melayang entah kemana, bingung, dan apa yang harus ku lakukan. dalam waktu dekat aku harus memutuskan nya.


Mengapa keluarga tante melody melamar ku...


Aku masih bingung dengan semua itu, bahkan aku tak begitu mengenal. Pertemuan kami pun hanya sekali, dan mengenai putranya itu aku tak tau. Apa setelah ini aku harus ta'aruf dulu. Atau aku harus menolak saat keluarga itu mengatakan niatnya padaku nanti malam.


Ayah apakah ini sebuah janji yang belum kau tepati pada tante melody, dan haruskah aku yang melaksanakan janjimu ini..


sungguh aku belum kepikiran tental hal semacam itu, otak ku di isi untuk belajar, belajar dan belajar mengenai materi, menikah belum ada dalam daftar rancangan ku, apalagi dalam waktu dekat.


Ya Alloh tolong aku yang dalam kebimbangan....


Kabar ini terlalu mendadak untuk ku mengerti...


Ibu keluar dari kamarku setelah menceritakan semuanya, dia memintaku untuk tidur dan melupakan tentang apa yang di katakan tadi.


Sebagai manusia yang di berikan akal, itu mustahil jika aku tenang tenang saja. Perkataan ibu bagaikan bongkahan puzzle yang terangkai dan terurai lagi...


Hingga akhirnya malam yang semakin larut, menuntunku untuk terlelap, dan melupakan segalanya sementara...


Tolong, bahwa ini hanya sekedar bunga tidur...


dan besok aku terjaga dengan kelegaan..


๐Ÿ’๐Ÿ’


berpelukan, dengan kedua wanita yang menemani masa masa bangku SMA. setelah melihat kelulusan kami berempat merayakan di kaffe dekat sekolah. irtifa yang dermawati menanti kami makan stik daging. cukup menguras isi dompet, tapi tak masalah uangnya banyak jadi tak akan habis jika hanya untuk makan biasa.


"setelah ini kita bakal kangenan" ucap irtifa kepada kami bertiga.


"aku kali yang jarang ketemu" timpal Wildan cemberut.


lucu amat jika cowok cemberut. terlihat aneh aja wajah cowok jika sebentar wajah cewek. kemanakah pengaruh hormon testosteronnya?.


"seharusnya loe merayu bapak mu, biar bisa sekampus sama kita"


ucap irtifa, hari ini dia yang paling semangat, Wildan wajah kucel gak semangat, sedangkan aggy cuek bebek, diakan mah selalu gitu..


sedangkan aku tentu iri, tapi bukan dengki ya...


aku ingin seperti mereka, tapi tak ingin membebankan ibuku, di terimanya beasiswa di kampus biasa itu, mengingatkanku pada mimpi semalam yang seperti nyata...


timpalku, nadanya terdengar melow melebihi Wildan.


satu jam berlalu, pulang dari kaffe aku berhenti di taman kota. duduk di salah satu kursi panjang menghadap danau buatan, hijaunya air oleh rindangnya tumbuhan sedikit menghilangkan penatku.


namun tatapanku kini menatap sepasang keluarga yang bermain bersama anaknya. tanpa sadar tetesan air sudah jatuh di telapak tanganku. aku baru sadar menangis, merindukan masa kanak-kanak yang selalu menyenangkan. hati ku yang hampa, membuatku terbawa suasana masa itu, ketika mendapat kabar bahwa ayah telah tiada...


"tidak, aku harus bergegas pulang" monolog ku.


ku hapus air mataku yang sudah meleleh bak lahar dari gunung merapi. lalu menghampiri sepeda kesayanganku.


"assalamu'alaikum"


salamku, namun tidak ada jawaban. kemana perginya fathan dan ibu. pintu rumah di biarkan terbuka begitu saja. aku memandang sekeliling rumah yang terlihat bersih dan rapi dari biasanya. meja makan yang biasanya di tengah di singkirkan ke pojok.


"ibu kemana? " tanyaku pada fathan uang baru nongol dari kamar. ini anak kalau lagi liburan semester kerjanya rebahan melulu. apa gak capek..?


"belanja"


jawab fathan sambil duduk di kursi ruang tamu sekaligus ruang keluarga.


"tumben"


"katanya mau ada acara.. "


jawaban fathan membuat aku menatap horor padanya.


"kenapa mbak? "


tanyanya, yang merasa aneh dengan tatapanku


"tidak apa-apa" jawabku langsung nyelonong ke kamar.


kini pikiranku ke mana-mana.


sebenarnya tadi malam mimpi apa nyata sich


batinku, kini aku sudah ketar-ketir gak karuan, ki dengar suara fathan dengan ibu yang baru saja pulang dari belanja.


ku langkahkan kaki ku keluar, tapi ku urungkan. karena aku belum ganti seragam. tapi perasaanku sudah tidak enak. inginku tanyakan lagi masalah tadi malam sama ibu. agar mendapatkan bahwa itu hanya sebuah mimpi.


ya hanya sebuah mimpi...


yakinku.


setelah ganti baju akhirnya ku putuskan tidur siang saja. agar perasaanku tenang.


๐ŸŒน๐ŸŒน


apa yang kau rasakan setelah bangun dari tidur lelap mu? tentu bahagia tanpa beban, tubuh menjadi rileks dan bugar. asalkan tidak mendapatkan mimpi buruk yang membuat bangun dengan hati berdebar dan keringat dingin.


jam di dinding menunjukkan kan pukul tiga sore. namun bukan itu yang menjadi perhatianku. kehadiran gamis abaya warna milo yang tergantung di dekat pintu.


ku kucek mataku, mungkin salah lihat. tapi ternyata tidak. aku masih menatap gaun itu, indah sich, aku juga suka warnanya. tapi untuk siap baju itu, kalau untuk ku. tumben ibu membelikannya. ini bukan hari ulang tahunku.


ku turunkan kakiku dari ranjang yang berukuran satu meter lebih lebarnya. mengambil handuk dari gantungan dan keluar kamar. tercium bau wangi masakan langsung menusuk hidungku dan bikin suara perutku keroncongan.


ternyata stik daging yang ku makan dari traktiran irtifa belum sepenuhnya mengganjal perutku. dengan malas aku belok ke dapur, yang seharusnya aku ke kamar mandi.


"tumben ibu masak banyak? " tanyaku, setelah melirik makanan di meja yang sudah sebagian matang.


ibu yang menghadap kompor kini berbalik ke arahku.


"bukanya tadi malam ibu sudah bilang"


dorrrr


perkataan ibu memecahkan keyakinan ku bahwa tadi malam bukan lah sebuah mimpi..


tapi nyata..


bersambung,....


jangan lupa like komen dan vote


biar aku tambah semangattttt nulisnya๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ