
š¹š¹
Buka hal biasa makan di dampingi tiga cowok tampan, hingga aku merasa hidupku tak seberuntung itu. makan tak tenang, takut di perhatikan, dan tentu harus menjaga etika makan.
semua menu makanan bagi lidahku sungguh luar biasa, tapi kebebasan ku saat makan perlu ku jaga. bahkan ketiga pria itu makan dengan tenang dan hanya aku yang sesekali menimbulkan suara piring yang terbentur sendok.
"makan lah yang banyak"
suara kak nidhom memecahkan keheningan sesaat, setelah dua udang goreng mendarat di depanku. mungkinkah dia tahu jika aku sebenarnya banyak makan meski bertubuh kecil.
"ya, terimakasih" jawaban yang terdengar cukup canggung tapi keluar juga.
adiba beranjak dari tempat duduk, setelah makanan di piringnya ludes dan tentu pergi tanpa pamit, meski hanya sekedar untuk basa-basi. banding terbalik dengan kak akhza yang terlihat cuek, tapi dia masih bisa berkata meski hanya sekedar basa-basi.
"kalian lanjutkan makan, aku pergi dulu" ucapnya membuat aku menatap kepergiannya.
***
Tak terasa pernikahan sudah berjalan seminggu. tapi keadaan kami tetap sama. aku yang tidak peduli, dan dia yang cuek. entah mengapa di dalam rumah ini hanya nenek kirana dan kak Akhza yang membuat diriku sedikit nyaman. jika di ada adiba aku lebih suka menghindar, dan begitupun dia. jika di dekat kak nidhom aku merasa canggung. selayaknya aku berdekatan dengan pejabat tinggi dan aku hanyalah rakyat biasa.
menunggu kuliah juga lama, hidup menjadi pengangguran sendiri di rumah besar sungguh membosankan. andai ada fathan mungkin aku tak akan se bosan ini.
"fa, Kemarilah" panggil nenek ketika aku sudah sampai di tangga terakhir.
aku segera menghampiri dan duduk di sofa panjang bersama wanita yang sudah ku panggil nenek, tapi terlihat masih muda.
"kapan kamu akan kuliah?"
"mungkin tiga minggu lagi nek"
"sudah daftar?"
"tinggal nunggu pengumuman registrasi ulang nek"
"ohhh, itu kamu udah bilang sama suamimu kan"
*ya, itu yangĀ belum aku lakukanĀ *
"nanti kalian bicarakan setelah dia pulang"
seperti apa yang di katakan nenek, malam ini aku belum tertidur meskiĀ jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, dan dia belum pulang. aku tak pernah tau dia pulang jam berapa?, yang ku tahu ketika aku bangun tidur dia juga sudah terjaga, melakukan kegiatannya di meja belajar itu. dan tentu kami jarang bersapa, seolah kamar ini memiliki dua dimensi yang berbeda, aku dengan dunia ku dan dia dengan dunianya. sebenarnya hal yang ingin ku tanyakan pernikahan ini atas keinginannya atau atas keinginan mama melody, dan jawabannya sudah pasti dengan sikap dia kepadaku. mungkin kami saling keterpaksaan...
jarum jam terus berputar, bersama dengan rasa kantukku. untuk menghilangkan nya aku memilih berjalan mengitari sofa panjang di kamar, kemudian berhenti di lemari besar yang terdapat beberapa buku tertata rapi, dan tentu beberapa piala dan penghargaan terpajang di sana.
aku tersenyum membaca beberapa penghargaan. fakta yang baru ku tahu bahwa kak nidhom bukan lah orang yang biasa, penghargaan itu menunjukkan beberapa prestasinya di bidang akademi dan non akademi. dari olimpiade sampai olah raga, tapi lebih dominan karate dan basket.
sepertinya dua manusia tampan yang singgah di hidupku bagaikan satu manusia di belah dua, ya kak nidhom dan kak akhza memiliki kemiripan, sayang nya cuek dan satunya lebih cuek lagi, takutnya jika berdekatan aku bisa membeku. mungkin hatinya juga membeku...
Ceklekkk
suara pintu membuat aku tersadar, sosok yang baru masuk menatap sekilas aku yang masih berdiri di depan lemarinya.
seperti biasanya ketika aku di hadapi situasi seperti ini mulutku hanya diam dan mataku menunduk kebawah, ku lirik kak nidhom masuk kedalam kamar mandi, dan aku langsung bernafas lega sambil duduk di pinggir ranjang.
ya, aku harus menyapanya duluan sebelum bicara, semangaatttt fathin!!
tak lama suara pintu berbunyi, aku segera menatap wajah suamiku yang menatapku heran, mungkin wajah ku terlihat aneh di matanya. tapi abaikan saja..
"kak, ada yang perlu ku bicarakan?" kataku langsung pada intinya, rencana yang mau basa-basi lenyap sudah ketika menatap netra nya.
"aku lelah besok pagi saja"
jawaban yang cukup mengecewakan untuk ku, aku sudah berusaha untuk tidak tidur hanya untuk menunggunya. dan sekarang aku terabaikan. tapi aku bisa apa? selain diam dan menurutinya, akhirnya aku masuk kedalam selimut, namun sekilas ku menatap dia yang duduk di meja belajar sambil menyalakan laptop.
apa yang di bilang lelah tadi?...
huh, jika boleh, izinkan aku marah pada suamiku itu ya allah....
Bersambung....
JANGAN LUPA VOTE KOMEN DAN LIKEā¤ā¤