
Mengetahui kenyataan, bahwa wanita cantik yang hampir mendekati kata sempurna itu, kini membuat rasa percaya diriku yang sudah tidak ada sejak dulu menurun drastis, benar apa yang di katakan ara, jika di banding kan dengan mbak monika aku bukanlah apa-apa.
tapi bukan itu yang sedang ingin dipertanyakan?, jika dihatinya sudah ada wanita lain. mengapa dia harus menerima pernikahan ini, jika dulu dia tidak menyetujui, seharusnya dia mengatakan kepada almarhumah mama.
ku lirik, kak nidhom yang keluar dari kamar mandi, dalam hatiku ada rasa kecewa padanya, perasaan itu yang sering hinggap pada hatiku.
sungguh, aku tak ingin menjalani rumah tangga dalam suasana yang seperti ini, andaikan waktu dapat kembali. aku ingin menolak pada saat itu...
"ada sesuatu yang ingin di tanyakan"
suara kak nidhom membuyarkan lamunanku yang tengah duduk di pinggir ranjang. aku menatapnya datar, tak ada sekilas senyum setitik yang selalu ku sunggingan.
"a, ak ku, aku" ucapku tersangkut di dalam tenggorokan, kini kak nidhom menghampiriku, yang membuat aku menjadi gugup, sedikit ku geser kan tubuh ketika dia ikut duduk di samping. meski tidak terlalu dekat, rasanya enggan untuk di sampingnya.
"akku, ingin sendiri" ucapku membuat kak nidhom menatapku dengan ekspresi tanda tanya.
"kita akhir saja rumah tangga ini" ucapku cepat, dan lirih. mengapa aku jadi gugup dan takut kepadanya.
"maksud mu? "
tanyanya, matanya yang menatapku, membuat aku juga menatap netra nya.
"kita tak saling suka, bukankah lebih baik jika kita punya kehidupan sendiri-sendiri" kataku memberanikan diri, hatiku tak sanggup untuk mengucapkan kata yang di benci allah itu.
kak nidhom menatapku dengan sudut bibir terangkat, sekilas aku memberanikan diri untuk menatapnya, namun apa dayaku, aku kembali menunduk.
"aakg"teriakku ketika tanganku di tarik keras, hingga kami berdiri. tanpa ku sadari posisiku sudah bersandar pada dinding.
apa yang dia lakukan? batinku, namun aku waspada ketika kak nidhom menatapku dengan seringai kecil di bibirnya, pria cuek dan dingin menjadi menakutkan di mataku.
" kau ingin mengakhiri pernikahan kita begitu cepat hmm" tanya-nya, membuat aku terdiam, dari pada menjawabnya aku lebih memilih mengalihkan pandanganku, sungguh tatapannya membuat situasi tidak nyaman.
"tak semudah itu fathin" katanya penuh penekanan.
"tapi, ak, aku.. "
kondisiku membuat aku grogi berbicara, apalagi wajah kak nidhom yang mengikis jarak diantara kami,
"aku tidak menyukaimu" kataku cepat, tapi bukan itu yang ingin ku katakan, aku tidak bisa mempertahankan pernikahan ini, karena kau mencintai wanita lain, aku tidak tahan denganmu.
"benarkah" ucap kak nidhom terdengar mengejek,
"bukan masalah bagiku kau suka dan tidak suka, aku akan membuat kau bertahan disisi ku" ucapnya membuat aku mengerutkan keningku.
"aku tidak mau" ucapku pelan, namun terhenti tak kala suatu hal tak terduga telah terjadi, aku mematung, diam dengan jantung berdetak kencang, ketika kak nidhom mengikis jarak diantara kami begitu saja, ketika nafasku mulai tersengal, disitulah kesadaran ku kembali, mataku kian membulat sempurna. menatap wajah nya, segera aku mendorong tubuhnya, dia tersenyum tanpa bersalah padaku.
"ak, ak"
"sudahlah aku lelah berdebat denganmu" ucapnya memotong, sungguh aku ingin mengatakan aku membencinya.
belum selesai aku melampiaskan kekesalanku, kini tubuhku melayang, aku hanya bisa tergagap tanpa suara, ingin memprotes tindakannya.
"aku membencimu" ucapku lirih, setelah aku mendarat di kasur.
"aku tahu, tapi aku tak salah" jawabnya, sambil membalikkan tubuhku.
aku sadar, bahwa dia suamiku, tapi aku tidak suka ketika tindakannya begitu saja, tanpa seizin ku.
mampukah aku memejamkan mata dalam kondisi seperti ini, ini pertama kalinya dalam pernikahan kami, tidur dalam posisi berhadapan, memandang dia sedekat ini, bahkan nafasnya yang mulai teratur menyapu wajahku.
...tuhan, tolong jangan buat aku menyukainya, aku sangat takut, jika melepaskan dirinya, akan menjadi hal yang sulit dalam hidupku.......
pemandangan semalam telah hilang dari hadapanku, aku terbangun dari mimpiku, dan tidak kutemukan kak nidhom, mungkinkan semalam mimpi, tapi aku yakin itu nyata, hal yang kutemukan ketika bangun adalah wangi yang sama, aroma kak nidhom. kulihat ponselku yang tergeletak di atas nakas.
"sudah jam lima" ucapku
aku segera bangun, dan mengambil air wudhu.
hari ini ada jadwal dua mata kuliah, dan aku segera pulang ke apartemen untuk mengambil buku, setelah mandi dan membereskan kamar aku segera turun.
"iya" jawabku malu, meski aku tak telat bangun tidur, tapi aku malu turun dari lantai dua ketika meja makan sudah di penuhi anggota keluarga.
"mat pagi semuanya" sapaku, yang di jawab seluruh penghuni meja makan kecuali suamiku dan ara si gadis tetangga.
aku segera mengambil tempat duduk di samping kak nidhom dan adiba, kerena tinggal itu tempat duduk yang tersisa.
ku lirik nenek yang sedang mengambilkan nasi untuk kakek, dan itu membuatku tidak enak jika tidak melakukan tindakan yang sama pada suamiku, pembicaraan semalam membuat aku kesal padanya, tapi tak mungkin jika ditunjukkan di depan banyak orang. dengan terpaksa aku mengambilkan lauk dan nasi untuknya.
"terimakasih sayank" ucapnya, lebih tepat dia sedang berbisik di dekat telingaku, namun aku yakin adiba di sampingku masih mendengarnya meskipun dia pura-pura tak tahu. aku melirik kak nidhom yang menatapku dengan senyuman aneh, yang berkesan mengejek ku. sungguh menjengkelkan. teriakku dalam hati. aku tak habis pikir dia berubah begitu drastis, dia tidak sedang mempermainkan hatiku bukan?
"nidhom kapan kamu libur? " tanya nenek padanya.
"ada apa oma? " jawabnya.
"saya rasa kalian perlu liburan, nenek baru sadar jika kalian tak pernah pergi bulan madu"
kata nenek terakhir membuat aku tersedak, aku pikir bulan madu bukan suatu hal penting lagi.., maafkan hamba mu ini ya allah, yang di otak nya hanya berpikir tentang berpisah.
"hati-hati " ucap kak nidhom sambil memberikan air minum di tanganku.
"hmm, lain kali saja ma" jawab kak nidhom tenang.
"ya saya saran kan agar kalian segera punya keturunan, mumpung masih muda, gak kayak nenek" ucap nenek di susul tawa kecil, ya maklumlah nenek punya cucu Segede kak nidhom dan memiliki anak sendiri seusiaku. kini dia yang menjadi tersedak, air minum yang tinggal separuh itu di ambil kak nidhom, sedangkan akhza yang berada di meja seberang sedikit menutup bibirnya, adakah yang lucu disini?.
"kenapa? apa kalian belum merencanakan? padahal nenek pengen punya cicit, biar gak sepi-sepi amat rumah ini, hidup dengan kalian itu membosankan bukankah begitu fathin"
aku hanya mengangguk saja.
"lagian fathin masih kuliah ma, biar dia menikmati hidupnya tanpa kerepotan mengurusi anak"
"nenek, bisa mengasuh anak kalian jika fathin kuliah"
"sudahlah kirana, ini urusan mereka, jika kamu ingin anak-anak mintalah putramu untuk menikah saja dari pada melanjutkan pendidikannya" lerai kakek, yang membuat nenek kirana cemberut.
"sudahlah, lupakan" ucap nenek.
***
entah malaikat mana yang menghinggapi tubuh suamiku, hari ini dia akan mengantarkan ku kuliah, padahal aku sudah ingin bareng akhza yang akan mengantarkan ara sekolah.
"kita ke apartemen dulu" ucapku.
"tidak perlu, buku mu sudah di belakang"
aku segera menoleh ke kursi belakang, benar di sana sudah ada beberapa buku ku, kini aku hanya diam setelah menatapnya.
dalam perjalanan kami hanya diam, hingga tak terasa sudah sampai di basemen kampus, dengan cepat ku lepas sabuk pengaman. ingin cepat ku turun dan enyah dari pandangannya, namun ku urungkan ketika tangan kak nidhom mencegahku.
"tiga hari aku sibuk, jika tidak berani di apartemen sendirian, kau bisa pulang ke rumah oma"
aku hanya mengangguk, namun tangannya tak segera menyingkir dari lenganku.
"nanti pulang, aku akan minta akhza menjemputmu"
aku juga menjawab dengan anggukan, tak lama kak nidhom melepas lenganku dan meletakkan di kepalaku, wajahku yang menghadap depan dengan menunduk dia putar untuk menghadapnya.
"dan ingat!!!, jangan mudah percaya dengan orang yang belum kamu kenal"
kenapa? tanyaku dalam hati. namun aku masih melakukan hal sama, mengangguk patuh.
"gadis baik" ucap kak nidhom membuat aku menatapnya, namun segera ku sambar tangannya ketika wajahnya mendekat. aku segera mencium tangannya dan bergegas keluar.
apa yang mau dia lakukan?
bersambung...