I'M On Your

I'M On Your
chapter 14



🐇🐇


Raga dan pikiranku ku terasah lelah, tapi kondisi memaksa untuk bertahan. bertahan dari dinginnya angin malam, dan bertahan akan perasaan yang ku simpan. malam ini adalah puncak acara, sedangkan aku masih melamun dengan tangan menyangga dagu di meja depan stand. orang-orang berjalan di depan pelupuk mataku, namun tak ada satu pun yang ku kenal kecuali memang siswa satu sekolah yang dekat atau sering bertemu di rapat. panggung gembira di pasang di tengah lapang utama, yang terlihat indah di suasana yang malam.


"woiyy, si cantik masih suka ngelamun aja" suara wildan yang masuk kedalam gendang telinga membuyarkan lamunanku.


"apa sich ganggu" jawabku malas.


wildan mengambil tempat duduk di seberang ku, tapi tidak terlalu dekat.


"kemana si aggy dan irtifa" tanyanya padaku.


aku hanya menggeleng karena dari tadi belum ada satupun di antara mereka berdua yang ku temui.


"coba kamu cari, spa tau mereka hilang" jawabku asal.


"mana mungkin hilang, gue aja gak tertarik sama dua nenek lampir apalagi orang lain" ucapnya asal bicara, kalau orang nya dengar udah di geprek masal tu.


semenjak berteman dengan mereka hidupku yang kalem-kalem aja, jadi berwarna.


"hello guys, lagi berduaan aja"


yah itu yang di nanti telah datang, suara irtifa membuatku menatap malas padanya.


"lihat aggy gak?"tanyaku pada irtifa.


"mana gue tau, emang gue emaknya apa?"


"ya siapa tau..." jawabku.


Setelah sekian purnama, orang yang di tunggu baru hadir. Keningku mengernyit menatap temanku satu yang beda dengan lainnya. Meski dia menggunakan jaket denim kedodoran, terlihat jelas bahwa di dalamnya terdapat kaos pertandingan basket yang sering ia pakai.


“ ehhh, malam-malam gak ada pertandingan woyy, lo mau dribel bola di atas panggung apa?”


Ucapan irtifa, mewakili pertanyaan ku yang bersemayam, meski  jika keluar kata-kata tidak sama seperti ucapannya.


“habis tanding di kampus sebelah,” jawabnya sambil meminum air mineral yang dia bawa.


Ada beberapa bekas keringat yang menghiasi wajah dan leher aggy yang menandakan dia memang baru saja berolah raga sore.


“bau asem, ni pasti belum mandi” ucapku


"eh wangi gini" jawab Aggy yang mendengar perkataan ku dibarengi cengengesan gak jelas.


“loe udah shalatkan gy?” tanyaku,memastikan temanku ini tidak lupa kewajibannya.


“hehehe,,Belum”


“ya allah udah mau isyak ni” ucap irtifa seolah syok dan menepuk jidatnya.


“udah sana sholat, tinggal 15 menit ini masuk sholat isyak” perintahku sambil mendorong tubuh aggy agar beranjak pergi.


“susah dach,,, mau bolos sholat gagal” ucapnya bercanda, yang kemudian bangkit, dan ku ikuti . Aku mengikutinya, bukan tak percaya pada aggy. Namun waktu sholat isyak sebentar lagi, maka ku putus untuk ikut ke masjid sekolah.


“kamu ikut gak Ir?” tanyaku,


“enggak, lagi dapan dispensasi liburan”.


jawabnya, yang membuat wildan sedari tadi terdiam menatap irtifa penuh tanda tanya. Wajar cowok mana tau kalau bicaranya tidak gamblang, sedangkan wanita memang makhluk tuhan yang memiliki sejuta kode dan simbol untuk mengutarakan keinginannya.


🐰🐰


Acara malam ini semakin ramai, panggung di tengah lapangan, memunculkan banyak penyanyi papan atas ibu kota. Para penonton yang bertebaran memenuhi lapangan utama berbagai penjuru, termasuk siswa-siswi sekolah kami, ada yang nongkrong di stand, ada pula yang berjoget ria. Namun yang membuat aku heran diriku yang merasakan kantuk berat, sedangkan ketiga sahabatku entah kemana perginya.


“baaaa”


 sebuah suara  tiba tiba mengejutkanku, melenyapkan kantukku begitu saja. Ku pandang siapa yang telah mengganggu ketenangan ku.


“maaf…” ucapnya setelah mendapat tatapan jengkel dari ku.


“jaga stand sendirian?” tanyanya,


aku hanya menggeleng malas.


Sisa-sisa kantuk beratku tadi menjadikan mood ku sedikit buruk. sehingga adiba yang bertanya  hanya mendapatkan jawaban gelengan kepala dariku, mendongakkan kepala  menatap kedalam stand kami yang terdapat dua temanku tengah duduk dibawah, yang tidak terlihat dari luar.


“lagi mager bangett” jawabku. Malah di susul tawa kecil adiba.


stand ku, mengusung tema perpustakaan mini, dan sedikit ada pameran lukisan loe..” ucapnya lagi.


“ya udah dech” kata ku mengiyakan, dari pada gabut gak jelas di depan stand, bukannya lebih baik aku baca-baca buku.


Aku dan adiba melangkah beriringan tapi masih ada jarak di antara kami, lokasi stand nya sedikit jauh. pasalnya dia anak IPA  yang lokasinya tentu terpisah dengan anak IPS. Sedangkan jurusan itu dulu sangat aku minati, sayang harus terdampar di kelas IPS, tapi gak papa setidaknya aku punya teman yang dapat menghiasi hari-hariku.


Ditengah perjalanan kami berpapasan tiga manusia yang tega meninggalkan ku sendirian sedari tadi.


“eh loe mau bawa calon bini gue kemana, mentang-mentang di tinggal sebentar udah loe sikat aja” Ucap wildan yang langsung menerobos di sela kami, aku sedikit menyingkirkan diri agar tidak ketabrak wildan.


“emmm, memang fatin pacar loe?” tanya  adiba.


“ bukan”


“iyalah”


Jawab ku dan wildan bersamaan. Jawaban wildan membuat aku memelototinya tapi malah dia hiraukan. Ya allah dosa apa aku, setelah di sukai kang ujang sekarang ditambah wildan yang mulai stress itu. Adiba menatap kami bergantian kemudian terbit senyum tipis yang sulit di artikan.


Aggy dan irtifa yang tadinya menonton, akhirnya turun tangan.


“fatin itu punya gue” ucap aggy


sambil merangkul bahu wildan  dan memukul kecil kepala temannya. Irtifa yang tadi nya ingin mengutarakan kalimat yang sudah sering ku dengan hanya menganga, dan membatalkan ucapannya.


“loe gak normal ya gy,” ucap irtifa,sambil menarik ku didekatnya.


“iya sich loe gak normal banget, hati-hati fa jangan dekat-dekat sama aggy, entar loe gak luruss,,,”


ucap wildan yang di susul tangan aggy yang menabok mulut wildan.


“maksud gue gak gitu kali, fatin itu besti gue, jadi ku carikan pacar yang waras gak kayak kalian”


“ghemm” deheman adiba, menyadarkan mereka jika ada keberadaannya. Tentu adiba pasti tersinggung dengan ucapan aggy. Karena dia juga berada di antara mereka, jadi dia juga termasuk gak waras


gitu menurut versi aggy.


“udah ya ributnya, yang dibahas lagi gak minat cari calon pacar atau mau di jodohin sama kandidat yang kalian maksud masing-masing” ucapku. Yang membuat wajah irtifa dramatisasi.


“kan kak azzam cocok sama kamu fa,ihh kok di tolak, nanti nyesel low”


Aku memutar bola mata jengah.


“emang kak azzam mau sama gue?”


tanyaku. Membuat irtifa menghela nafas dan memampangkan wajah cute -nya.


Pertemuan mereka, membuatku mengurungkan niat untuk ke stand kelas adiba. Kalau gini udah berasa aku primadona sekolah, hehehe pede sekali aku. Ya aku tidak tau mereka sekedar bercanda atau sungguhan, bagiku itu adalah sebuah topik untuk di jadikan alat berkomunikasi yang seru, tapi sayang aku yang jadi objeknya.


“ ghemm, kalau gitu gue izin bawa fatin ke stand gue” Ucap adiba.


“oh now” ucap wildan sembari menatap adiba penuh selidik.


Menjiwai sekali suting ftv –nya bpk wildan yang terhormat Batinku.


“gue harus ikut” lanjut wildan, disusul aggy dan irtifa.


Aku hanya menghela nafas, bukannya asyik membaca aku pasti akan lebih fokus mendengarkan perdebatan kecil mereka. Lebih baik tak jadi dari pada terganggu. Namun keuntungan selalu datang di saat yang tepat, untuk melepaskan ku dari kukungan mereka yang sungguh mengesalkan.


Terimakasih kak akhza telah menyelamatkanku.


“ fatin, di suruh kak akhza ke ruang osis,,” ucap seorang siswa yang menghampiriku.


yang membuat aku tersenyum bahagia...


sebahagi-bahagianya


Bersambung..


😘😘