
happy reading 📖📖
dalam remang-remang, aku terbangun dalam tidur nyenyak. suasana yang tak biasanya ketika aku menatap plafon putih di atas. sejak kapan kamarku berganti chat menjadi putih perasaan berwarna pastel. kasurnya juga tak senyaman ini.
ku kumpulkan segera kesadaran ku dan menatap jam dinding yang biasanya terpasang di dinding depan tempat tidur. namun tidak ku temukan benda itu. kini kesadaran ku mulai terkumpul.
ini masih mimpikan….
batinku, namun hal yang membuat aku terkejut, dan hampir menjerit karena ada seorang pria yang tidur di sebelahku..
ya allah, kemarin nyata…, aku telah menikah dan dia suamiku,,
aku segera menyentuh kepalaku, dan tidak kutemukan jilbab di atasnya, mata ku segera menyusuri seluruh ruangan agar dapat menemukan benda itu. dan aku baru ingat bahwa jilbabku berada di kamar yang ku tempati bersama ibu, tadi malam aku hanya diberi baju tidur sebagai ganti. ku lirik pria yang masih terlelap…
“syukurlah dia masih tertidur” ucapku yang terdengar seperti bergumam.
dengan perlahan aku menuruni ranjang, agar pergerakan ku tidak membangunkannya.
jam berapa ini aku tak tahu tapi sepertinya masih malam. ponselku juga tertinggal di kamar itu. ada ponsel yang tergeletak di atas nakas, tapi itu bukan milikku. beberapa kali mulut ini menguap, rasa lelah karena acara kemarin membuatku masih mengantuk. hingga akhirnya ku putuskan bersandar di ranjang dengan memeluk bantal, tak lupa selimut yang menjuntai ke bawah sebagai hijab.
***
“hey, bangun”
sayup sayup aku mendengar suara memasuki gendang telinga. di susul pandanganku yang terlihat kabur, yang terhalang oleh kotoran mata. dengan pelan ku kucek mataku, dan sosok pria tinggi berdiri di depan.
“sudah waktu subuh” ucapnya terdengar datar.
“iya” jawabku kikuk. aku hanya menjawab tapi tak melakukan pergerakan untuk segera ke kamar mandi, tentu sebagai kaum wanita pasti tau, jika aku mendapatkan tamu bulanan.
pria itu kini melewati ku menuju nakas yang tak jauh dari tempatku duduk. ya sejak bangun tadi malam aku tertidur dengan duduk di lantai. untung dia tidak menanyakan hal itu…
kami dua makhluk asing yang bertemu dalam ikatan pernikahan ini, bagaikan batu, diam dan hanya berkata jika perlu, karena aku tak bisa menerima kehadiran seorang pria secara mendadak, apalagi dalam status suami istri secara dadakan pula, tentu butuh proses untuk saling mengenal bukan…
setelah membangunkan ku dia pergi terlebih dahulu, entah sejak tadi juga belum kembali. tak lama terdengarlah suara langkah kaki mendekati pintu. dan tubuhku merespon dengan waspada, bagaimana ini? tubuhku merespon kedatangan suamiku layaknya penjahat yang akan datang.
“nona, anda sudah bangun,”
aku menghembuskan nafas dengan lega. ku pikir dia, ternyata bukan?
“iya, aku sudah bangun” jawabku
“baiklah, kalau begitu silahkan keluar, keluarga besar anda sudah menunggu untuk sarapan”
tanpa menjawab aku langsung membuka sedikit pintu.
“mbak”
“iya”
“bisakah kau ambilkan baju ganti dan jilbab ku di kamar yang ku tempati kemarin” kataku pada petugas hotel itu.
petugas wanita menatapku dengan heran. ya mungkin dia bingung karena tak mungkin masuk seenaknya ke kamar pengunjung.
“plisss, tolong ya, ibuku tak punya benda berharga jadi aman, jangan takut” ucapku menyakinkan.
“tapi nona, ibu anda yang membawa kartunya”
“oh iya ya, kalau gitu tolong bilang ibu ku untuk mengambilkan”
aku segera menutup pintu kembali dan tak lupa menguncinya, oh iya seingat ku tadi malam aku mengunci pintu kamar ini, bagaimana dia bisa masuk?
astagfirullah, kenapa setelah menikah aku menjadi sedikit bodoh, tentu dia punya punya kartunya.
tak lama terdengar suara pintu diketuk, aku segera membuka, dan ibu tengah berdiri sambil membawa bajuku.
“ayuk masuk bu,,,” ucapku
“tidak usah, ini baju dan jilbabmu”
ucap ibu sambil menyodorkan pakaian ganti.
“kenapa gak sekalian kopernya?” tanyaku
“ihhh, gak terimakasih sekali kamu, tadi ibu dari lantai bawah naik pakai tangga fathin”
“heheh, maaf bu dan makasih, “ ucapku sambil mencium ibu, kemudian clingak clinguk untuk melihat apakah ada orang, namun aku segera menarik masuk kepalaku mengingat bahwa di hotel pasti ada CCTV.
“cepat ganti bajunya, di tunggu di Restoran lantai bawah”
“iya bu, kenapa gak tunggu fatin” ucapku, namun sudah tidak ada sahutan.
mengganti baju tak butuh waktu lama, apalagi aku sudah mandi setelah dibangunkan pria tadi. dengan segera aku keluar kamar dan tak lupa menguncinya.
entah ini jam berapa?
aku segera naik lif untuk untuk ke bawah.
sampai lantai paling dasar dari bangunan ini, sekarang aku kebingungan. mana tahu aku letak restoran ini. setelah beberapa menit aku kebingungan dan sempat kesasar akhirnya aku ketemu mbak petugas hotel tadi dan memintanya untuk mengantarkan.
“maaf, telah menunggu ku lama” ucapku setelah masuk ruang privasi.
“nggak kok sayang, ayo duduk” tante melody menyambut ku dengan suka cita. kini yang membuatku sungkan wanita itu menarikan kursi untukku. ku lirik fathan yang ada di sampingku, namun mataku malah tertuju pada pria di samping adikku.
Kak akhza,...
tentu sejenak aku mengingat hari pernikahanku, yang kupikir dia calon suamiku.
“untuk menunggu yang lainya, maka sebagai anggota keluarga baru, mama akan perkenalkan satu persatu anggota keluarga kami, pasti kamu belum sempat mengenal kan, karena pernikahan nya dilakukan secara cepat, “ ucap tante melody.
aku hanya mengganggu saja.
tante melody memperkenalkan satu persatu, dari kakek adam, nenek kirana yang terlihat seperti kakak perempuan tante melody, dan yang membuat aku terkejut bahwa kak akhza adalah putra bungsunya
jadi dia adik ipar ku teriak ku dalam batin..
namun lamunanku segera buyar ketika nama tak asing memanggilku
“fathin…”
brakkk
bersambung….
Jangan lupa tinggal kan jejak komen vote dan like❤❤