
sebuah telapak tangan sudah membungkam mulutku yang reflek iku. ku tatap wajah kak nidhom yang hanya sejengkal dengan wajahku.
"maaf" kataku tersadar jika kaki ku telah menumpang di atas kakinya.
"jangan bergerak" katanya yang membuat diam. kini aku meras tidak nyaman dengan tubuhku yang terasa ngilu karena tidur dengan posisi tidak nyaman.
"aku ingin ke kamar mandi" kataku. tak lama kak nidhom berdiri dan memberi akses ku untuk jalan.
"aaauuu" teriak ku.
setelah sebuah jari melayang membentur keningku. ku tatap sosok tinggi yang cengengesan. siapa lagi kalau bukan fathan.
"maaf kak, kukira belum bangun" ucap sambil ngancir pergi begitu saja. pagi pagi aku sudah ketiban musibah dia kali, pertama bangun kaget melihat kondisi kami tidur, kedua udah di ketuk keningku sama adik ku yang sangat tampan.
"kau tidak jadi ke kamar mandi"
"jadi" jawabku sambil menoleh menatap kak nidhom yang merapikan selimut kami.
apa yang terjadi tadi malam, sungguh membuatku malu, ya meski itu hanya satu selimut bersama. tapi aku masih utuh belum ada yang tercuil sedikit. mengingat bagaimana dekatnya kami, membuat aku mengangkat sudut bibirku sebentar dan segera melenggang ke lokasi tujuan.
***
"mbak fathin aku dengar sudah nikah"
ucap salah satu ibu yang sedang membeli sayur di depan rumahku. inilah yang gak ku harapan ketika tadi aku menolak perintah ibu untuk belanja di tukang sayur.
"iya buk"
"kok gak undang-undang, acaranya di rumah suami ya"
"iya" jawabku pendek.
"pengantin baru kok gak ada semangatnya ta mbak fathin, cerita dikit kek pengalamannya"
aku hanya mengernyit kan kening ketika mendengarkan ucapan mereka yang saling berkesinambungan.
dari pada menjawab lebih baik aku senyum, senyum termasuk ibadah kan.
"suami mbak fathin tunjukkan donk, biar kami tahu"
ucap salah satu ibu. aku hanya menggaruk kepala sambil memilih sayur. belum sempat aku menjawab mereka malah berspekulasi yang tidak-tidak.
"suami mbak pacar yang sering nganterin itu kan? "
"yang kaya bawa mobil, terus berhenti disi itu. "
"oh buk.. "
belum selesai bicarakan ku di potong lagi.
"jadi ini sudah berapa bulan? "
aku yang di tanya tercengang tak paham, berapa bulan pernikahan kami atau kenalan ku atau yang lain aku tak tahu.
"maksudnya"
"ya, itu nya"
jawab salah satu ibu sambil menunjukkan perutku.
"udah dech fatin jujur aja gak usah di tutupin, lulus sekolah mendadak nikahkan mencurigakan, apalagi gak tahu orang se RT kan, mbak fathin lagi menyembunyikan aib kan"
aku tak bisa menjawab, apa-apaan coba di fitnah begitu saja. meski pernikahanku tidak di selenggarakan di rumahku bukan berarti mereka seenaknya berspekulasi yang tidak tidak mengenai diriku.
"maaf ya bu, aku tidak seperti apa yang kalian pikirkan" jawabku, yang malah mendapatkan tatapan cemooh.
ku pandang sayuran yang tidak menarik di hati lagi, mood ku buruk karena ulah mereka, tanggung jawab dech jika aku masak kesiangan.
mengingat makanan di rumah kak nidhom yang berkualitas dari pada jualan bapak sayur membuat aku memilih lama.
"pak bawa udang gak? " tanyaku, namun telingaku masih mendengar mereka membicarakan ku.
"sudah di ambil ibu ini" ucap sang bapak.
"ohh, "
"mbak fathin kalau lagi ngidam udang gak papa ambil saja punyaku" ucap Ibu itu membuat aku tercengang.
"enggak kok bu" jawabku.
"beneran ni, nanti kasian kalau anaknya meler"
harus sudah salah menilai, ini malah do'a in anak ku meler. kalau gak punya rasa sopan satu udah ku debat semua ibu-ibu di sini.
"gak usah bu makasih"
jawabku sambil membawa seikat sawi yang ku pilih paling terbaik dari saudaranya lainnya.
"mbak jangan terburu-buru pergi dach" kata ibu di sampingmu. sambil memegang tanganku yang akan membayar.
"kenapa bu? " tanyaku.
"kenalin suaminya ke kita donk"
dalam hatiku sudah beristighfar berkali-kali, ini para emak-emak pagi pagi sudah buat tensi anak muda naik.
"emm, dia sedang... " ucapku terhenti ketika para lima emak-emak yang memojokkan ku mengabaikan aku begitu saja.
ku ikuti pandangan mereka yang menghadap ke arah rumahku.
"wahh, tampan nya, itu anak siapa ya? " tanya meraka. aku yang kesal, suamiku di pandang dengan mata melotot yang hampir copot bolanya hanya mampu mendengus.
"ini bang" ucap ku pada bapak sayur yang ikutan gagal fokus sama suamiku.
"ehhh, mbak fathin mau kemana" teriak salah satu ibu yang melihatku melangkah ke arah rumah.
sudahlah abaikan meraka, gak penting juga kan?
kak nidhom yang berada di teras rumah juga kena impas dari ke jelousan ku, ku abaikan dia, dan memilih melewatinya. namun aku kemabli mudur ketika tanganku di tarik kebelakang.
"kau cuma, beli sayur ini? "
"iya"
"aku tidak suka sayur"
masa bodo jawabku dalam hati.
kak nidhom mengambil seikat sayur sawi yang kubawa. jangan bilang dia akan melemparkannya.
"kita belanja" ucapnya membuat aku menatapnya.
apakah suamiku akan mengajakku belanja lagi bersama emak-emak yang sedang menatap kami.
fathan yang baru saja keluar dari rumah karena di suruh ibu untuk melihatku yang tidak kembali berhenti di depan kami.
"kami keluar sebentar dik" ucap kak nidhom sambil memberikan seikat sawi ke tangan fathan. fathan haya mengangguk. dan aku segera berjalan setelah kak nidhom menggandeng ku.
alhamdulillah, ku pikir kak nidhom akan nimbrung bersama mereka, ternyata dia mengajakku belanja ku supermarket terdekat.
lihatkan para emak-emak itu masih melototi suami ku meski sudah berada di dalam mobil, kenapa coba kaca mobil tidak di naikan, apa mungkin kak nidhom sedang tebar pesona?
kok aku jadi istri agresif sih, kami kan tidak saling suka?.
hanya dalam hitungan menit kami sampai, kak nidhom segera mengambil troli dan aku menemani di sampingnya.
"ada apa? " tanyaku ketika kak nidhom menatapku cukup lama, namun bukan menjawab dia malah mendengus.
"belanja adalah pekerjaan wanita, bukanya yang lebih tau urusan dapur adalah wanita" jelas kak nidhom. aku mengerti maksudnya, tapi jika ingin menyuruhku tinggal bilang bukan penjelasan seperti bahasa pelajaran gitu.
aku segera mengambil beberapa makanan, tentu sebelum memasukkan ke troli terlebih dahulu aku menatapnya, dan jika dia mengangguk aku akan memasukkan sebagai daftar belanja kami.
"minyak sudah, sayur, ikan kecap, makanan seafood, terus, kita belum beli buah" kataku sambil berlari kecil ke tempat jauh sedangkan kak nidhom mengikuti dari belakang.
"kak ingin mangga apa apel? " tanyaku.
"apa saja"
aku menatap kesal dia sejenak.
"mangga saja ya lebih murah" kataku memutuskan. akhirnya aku mengambil mangga dua kilo.kemudian melanjutkan perjalanan kami ke kasir.
kini aku hanya menunggu kak nidhom membayarnya.
"kita mau beli apa lagi? " tanyaku. melihat kak nidhom menitipkan barang belanjaan kami dan malah menarik ku.
"aku butuh ganti baju" jawabnya.
iya aku lupa, dia ke rumah ku tanpa membawa baju ganti.
setelah menemani kak nidhom membeli pakaian aku baru ingat bahwa hari ini aku datang bulan. ya dari bada bolak balik ke toko lebih baik aku beli di sini sekalian.
"kak, boleh aku pinjam uangnya" ucapku setelah melihat dia selesai membayar di kasir.
kak nidhom menatapku heran,
"ada sesuatu yang ingin ku beli" lanjut ku.
" ya sudah kita kesana" jawabnya.
"emmm, tidak usah, maksudku kakak tidak perlu ikut, aku yang akan cari sendiri"
kata kataku membuat kak nidhom menatapku ku curiga, mungkin aku terlihat seperti orang mencurigakan.
"aku butuh uang 10000 an cukup kok" kataku sambil menengadahkan tanganku, dan uang berwarna merah itu dia berikan, dengan nol lima di belakangnya, aku pinjam sepuluh ribu kan bukan seratus.
"makasih, aku pergi dulu kakak tunggu di mobil aja" ucapku sambil bergegas pergi.
tentu seorang wanita tahu apa kebutuhan wanita ketika datang bulan?
tanpa di jawab, aku langsung pergi ke sana, menjadi apa yang sedang aku butuhkan.
"bisakah petugas mall, tidak meletakkan itu di atas, aku tau benda itu ringan dan jika jatuh tidak pecah maupun menyakiti kepala, tapi konsumen susah ambilnya, andai saja jika rata-rata tinggi wanita indonesia sama dengan tinggi caroline welz
mungkin tak perlu pakai kursi"
gerutu sambil mendongak ke atas, mengukur tinggi rak yang di tempati benda itu, ku lirik kanan kiri untuk mencari kursi, atau petugas mall yang membantuku untuk mengambilkannya.
namun sayang mereka memilih tidak muncul jika di butuhkan. akhirnya aku berusaha untuk menggapai, meski tanganku kurang sejengkal.
akhirnya berhasil benda keramat itu ku dapatkan tapi sayang teman-temannya ikut berjatuhan dan menimpaku, gak sakit tapi bikin terkejut.
"kenapa gak bilang dari tadi" suara khas cowok itu menyadarkan, saat aku membuka mata sudah di hadapi kak nidhom yang memunguti benda itu.
"aku hanya beli satu" ucapku. ketika benda yang terjatuh itu masuk ke dalam ranjang belanja.
"aku malas mengembalikan, kamu beli semua saja"
ucapnya membuat aku tercengang.
tentu dengan malu aku membawa keranjang yang isinya penuh pembalut.
bersambung...