
🌼🌼
Entah itu sebuah keberuntungan atau kebetulan, intinya hatiku sangat bahagia. aku gak bisa mengelak atau menolak kata hatiku yang bersemayam di dalam dada, yang ku tahu adalah cara menjaganya.
Aku dan irtifa duduk di kursi panjang, memandang sosok yang ingin aku tabrak tadi. Pandangan ku terlihat normal, tidak menyiratkan rasa kekaguman atau suka, beda dengan gadis berjilbab di sampingku yang memandang dia tanpa berkedip. coba apa yang dipikirkannya.
“kak akhza keren kalau lagi gini ya” ucap irtifa berbisik kepadaku, menyampaikan pendapatnya.
Aku hanya menyipitkan mata. perasaan biasanya selalu begitu dech batinku tak setuju dengan ucapan irtifa.
Orang yang kami maksud adalah kak akhza yang sedang memperbaiki mesin kopi yang di bantu aggy, sedangkan wildan ikut menjadi penonton seperti kita.
“yes, sudah selesai”
ucap aggy kegirangan, seolah dia yang paling berjasa, padahal tugasnya membantu saja. Sedangkan kak akhza mencoba menghidupkan mesin kopi.
“akhirnya mesin kopi papa bisa di gunakan, gak salah dech, pilih calon menantu,,,upsss” ucap irtifa yang berakhir dengan menutup mulutnya.
kami yang mendengar langsung memandang ke arahnya, sedangkan yang dibicarakan tadi bersikap biasa. Masih sama dalam mode datar.
Aku memandang irtifa, dengan tatapan menelisik, aku tau kak akhza tampan, jenius, karismatik, yang membuat semua suka padanya, tak luput pun irtifa, tapi mengapa kalau irtifa yang bilang hatiku sangat tidak suka.
Kak akhza berjalan menghampiri kami, lebih tepatnya menghampiri baju putih yang tersampir di meja sampingku. Ya aku akui saat ini emang kak akhza berbeda kalau pakai kaos hitam sama pas pakai seragam, apalagi kalau lagi bawa peralatan perkakas , kesannya sich ..gitu..hehehe
“makasih kak..” ucap irtifa, yang entah sejak kapan sudah berdiri dengan tangan mengulurkan seragam kak akhza, sedangkan yang di ajak bicara hanya mengangguk cuek.
“fatin ada yang perlu saya bicarakan padamu” ucapnya sambil melangkah keluar dari stand kami.
Aku segera bangkit, namun langkahku terhenti oleh ucapan irtifa.
“aku ikut..”
Aku hanya mengangguk, ya itu lebih baik dari pada aku berduaan saja, meski tidak akan ada apa-apa di antara kami,namun aku tak mau hati ku semakin menjadi, karena rasa cinta yang tumbuh oleh perasaan sangat sulit terkendalikan. Biarlah rasa ini terpenjara, sampai rasa itu menemukan tempat berlabuh yang tepat.
Kami berdua mengikuti langkah kak akhza dari belakang, mengabaikan tatapan para siswi yang mungkin iri dengan kami.
“silahkan duduk” ucap kak akhza terhadap kami.
kata yang terlontar sangat terlihat formal, hingga aku merasa sedang di hadapi seorang calon CEO sebuah perusahaan yang memerintah kliennya untuk duduk.
Kami hanya mengangguk, irtifa yang awalnya orang supel jadi ikut kaku kayak aku.
“besok acara resmi pembukaan, kamu jadi mc, dan ini teksnya, saya harap kamu dapat belajar dalam waktu singkat” ucapnya ringan tanpa beban.
Rasanya jantungku berdetak kencang, ya sedikit syok, pasalnya aku belum pernah jadi Mc. Apalagi ini acara resmi, yang dihadiri pemilik yayasan yang selama ini memberikan beasiswa kepada kami.
“gak keberatan kan?” ucap kak akhza setelah melihatku hanya terdiam.
aku hanya menatapnya bingung, ingin maju tapi aku takut mempermalukan nanti, ingin menolak tapi ini sebuah kesempatan.
“kenapa kakak pilih aku?” tanyaku.
Upss, salah ucapan seharusnya aku tak menanyakan itu, ini lebih tepatnya aku sedang di tembak, dan aku terlalu percaya diri sekali menanyakan perihal itu.
“maksudku, kenapa aku. tidak yang lain saja, yang pernah bertugas menjadi mc” ralat ku,
“aku tau kamu punya kemampuan” jawabnya.
Membuat aku terbengong, perasaan aku gak pernah jadi mc sekalipun, dari mana kemampuan itu hadir.
“tapi ini mendadak kak..”
“itu bukan sebuah masalah, kamu masih punya waktu nanti malam untuk mempelajarinya..” ucapnya, yang membuat aku menghela nafas kasar.
“baiklah” akhirnya aku pasrah.
Mungkin benar apa yang di katakan kak akhza, setidaknya aku mencoba,,tapi pembukaan
acara resmi itu bukan sebuah percobaan.
“nanti jika ada kesulitan, kau bisa telfon aku” ucapnya lagi.
“iya, kalau gitu kami pergi kak”
kataku di susul irtifa, sedangkan kak akhza masih sama hanya mengangguk, tapi hari ini dan kemarin aku bisa berbincang-bincang dengannya, kenyataannya ia tak secuek itu jika membahas suatu yang penting. Sedangkan irtifa dari tadi hanya jadi penonton di antara kami hehehehe.
Saat kami sudah keluar dari kantor osis barulah irtifa membuka suaranya untuk mencurahkan perasaannya.
“rasanya aku jadi obat nyamuk dech”
Aku melirik irtifa sekilas.
“siapa suruh ikut” jawabku
“gue ini peduli loe dan sangat
peduli kak akhza, jadi gue ikutt, nantikan hati ku gak tenang fa..”
“lebayy, emang loe apanya?” tanyaku,
yang buat wajah kesal irtifa.
“ihhh,gak peka sich kamu, gue itu sedikit mengagumi kak akhza”
Ucap irtifa dengan menggerakkan jari-jarinya mengukur kata sedikit.
“terus apa hubungannya, kan cuma membicarakan masalah acara bukan perasaan”
“tapi aku iri sama kamu,, yuk tukar posisi”
“ya silahkan …” jawabku enteng, yang membuat irtifa tambah merenggut gak jelas. Tuh wajah bebek sampai di bawa ke dalam stand.
“muka loe jelek amat” sapa aggy yang tangannya sibuk memindahkan cangkir.
“tuhhh Fatin…” jawab irtifa sambil menunjuk kearah ku.
aku lagi yang salah.
“kenapa?”tanya wildan ikutan menimpali.
“kalah saing gue” jawab irtifa yang di buat-buat.
“hahahaha, emang dari dulu udah kalah loe sama fatin,,, di hati gue aja dia yang pertama..” jawab wildan. membuat ia kena pukul irtifa.
“ngeselin low jadi cowok” teriak irtifa yang buat teman kelas yang lagi ikutan bantu-bantu menatap kearahnya.
Aku hanya diam saja, biarlah mereka berkelahi pun aku tak mau menjadi pemisah.
“ehhh, teriak-teriak bikin rusak gendang telinga gue” sahut aggy yang duduk di dekat irtifa sambil menggosok telinganya.
🌼🌼
"mbak fatin bukain pintunya donk" teriak Fathan dari luar.
"ada apa?" tanyaku setelah gagang pintu kutarik dan menemukan sosok adikku yang tengah berdiri di depan pintu kamarku.
"bantuin kerjain tugas donk.."ucapnya , dengan tangan membawa setumpuk buku.
"'maaf hari ini aku lagi sibuk, lain kali aja ya" ucapku malas,tanganku segera menutup pintu. tak memperdulikan tampang adikku seperti apa. meraih kembali teks yang tergeletak di atas ranjang, kemudian bibirku komat-kamit tidak jelas. menghafalkan kata per kata yang ada di dalam kertas, dengan memperhatikan intonasinya.
ting
notifikasi whatsapp memecahkan konsentrasi ku. mataku melirik sebuah pesan dari nomer yang tidak di simpan di ponselku. aku masih menatap layar ponsel, namun pada akhirnya ku putuskan untuk membukanya.
+62***: bagaimana persiapannya?
bersambung...
JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE❤❤