I'M On Your

I'M On Your
Chapter 54



"kia kau bangun nak!!!,"


teriak kan ibu membangunkan ku dari alam bawah sadar, dengan pandangan remang remang aku menangkap jarum jam yang tidak jelas antara pendek dan yang panjang.


aku segera bangun dengan gelagapan, meski ku tahu hari ini tidak ada jadwal kuliah, tapi anak gadis bangun siang kan gak etis.


"kupikir sudah jam 12" ucapku setelah kembali memastikan jam yang menempel pada dinding kamar. ibu sungguh membuatku serangan jantung saja.


tadi malam yang tidur hampir mendekati pukul 3 pagi membuat kepalaku sakit, hingga setelah sholat subuh tanpa sadar aku tertidur, lebih tepatnya baru saja, karena kepalaku terasa pusing.


"kia, buka pintunya"


"iya" jawabku lemah, dengan kondisi yang masih pening aku melangkah mendekati pintu.


glekk


air liur yang ku telan terhenti di tenggorokan ketika menghadap suami pagi-pagi dengan penampilan yang cukup membuat ku malu. kantuk yang bersarang tadi dengan cepat terhempas. mataku membulat sempurna menatap kak nidhom.


"baru bangun" ucapannya yang singkat itu langsung masuk dalam telingaku, dan diolah oleh otakku, tak butuh waktu lama, pipiku memanas menahan malu.


"hmm iya"


"kau bisa tidur kembali jika mengantuk" ucap kak nidhom membuat aku tak berkutik, tanpa ku sadari dia sudah masuk dalam kamar ku.


"aku sudah bangun"


"aku tahu"


"hmm iya" jawabku,


ya tuhan sungguh malu aku, kenapa juga kak nidhom menjemput ku sepagi ini? ku pikir tadi malam. mengingat tadi malam, mengapa kemejanya tak asing di mataku.


tidak fathin, batinku, aku tak ingin Su'udzon dengan nya..


setelah usai sarapan pagi aku dan kak nidhom pulang, hari ini tidak langsung ke apartemen melainkan rumah nenek. ya itu akan lebih baik untuk menenangkan ku.


"gitu donk fa, sering kesini" sapa nenek setelah melihatku, tak luput aku mencium tangannya.


"hari ini nenek bakal di temani gadis-gadis cantik di rumah" ucap nenek membuat aku mengernyitl, namun ekspresi ku segera memudar tak kala suara gadis SMA itu terdengar.


"mat pagi nek" ucap gadis yang bernama ara itu.


"eh ada mbak fathin" ucapnya dengan nada tak suka.


"kok gak sekolah dek" tanyaku basa-basi.


" suka aku, itu bukan urusanmu"


"oh" reponku masih dengan tersenyum. dari pada membuat wajah buruk ara, lebih baik aku masuk kedalam kamar. sebelum itu aku pamit pada nenek.


sampai dalam kamar tak kutemukan kak nidhon, suamiku itu seolah memiliki kekuatan (berpindah) , karana datang dan pergi tanpa kabar. sungguh banyak bersabar untuk menjadi suaminya. seandainya dia adalah pria yang ku cintai, mungkin sudah banyak makan hati aku. tapi entah akhir-akhir ini aku merasa kecewa padannya, memikirkan hal yang negatif tentang nya, ya meski tak di cintai, hal yang ku harapkan adalah aku dapat di hargai disini.


kini aku melangkah ke balkon kamar, di halaman rumah terlihat gadis SMA Itu duduk di kursi panjang. sebenarnya aku penasaran tentangnya, mengapa dia bagaikan perangko jika ada akhza, mengatakan jika kak nidhom dan akhza adalah kakaknya, mungkinkah masih saudara atau hanya sekedar tetangga dekat.


ku putuskan untuk turun kebawah tak kala nenek pergi dari kursi itu dan meninggalkan gadis itu sendirian.


"hay" sapa ku.


"kenapa kesini? " tanyanya judes.


"ingin duduk aja" jawabku masih dengan senyum mengembang.


"di ruang tamu masih ada sofa"


"tapi sendirian" jawabku, yang membuat gadis berambut panjang itu melirikkan mata padaku.


"tidak, hanya aku tidak suka" jawabnya jujur apa adanya meski menyakitkan.


"apa yang tidak membuatmu suka? "


"hih, kak itu jangan banyak tanya dech"


aku hanya tertawa kecil melihat wajah sebalnya.


"gak lucu"


kini ku tatap gadis yang menatapku dengan kejengkelan itu.


"aku hanya ingin tahu saja, siapa tahu aku dapat merubah sikapku yang tidak kau suka itu" kataku.


"dengar ya kak fathin, aku gak suka kakak, karena kakak berbeda dengan kak harmonika, dia cantik dan sempurna sedangkan kakak buka apa-apa" jawab gadis itu membuat aku sekilas tersenyum kecut, namun segera ku lepas.


"itu bukan sebuah alasan ara, andai kau berada di posisiku, bagaimana jika aku menatapmu seperti kamu menatapku"


"aku gak peduli, toh aku bukan kakak"


"baiklah, kau benar, kamu bukan aku, tapi yang perlu kamu tahu rasa suka mu itu tidak beralasan, jalan takdir kak nidhom yang kau anggap sempurna itu harus menikah dengan ku itu sebuah takdir, jika kau membenciku karena aku menikah dengannya, kenapa kau tak membencinya yang telah menikah denganku"


"karena dia terpaksa"


"aku pun juga terpaksa"


"kenapa kakak tidak meminta cerai saja"


ucapan ara membuat aku menatapnya tajam.


"allah tidak suka perceraian, apa kau punya rasa pada suamiku itu? " tanyaku pada intinya.


"tidak, aku lebih suka kak akhza" jawabnya, namun gadis itu segera menimpuk mulutnya.


"anggap saja kau tak dengar" ucapnya sewot.


aku hanya mampu menelan senyumku ketika di pandang tak suka.


"aku ingin tanya lagi, seperti apakah mantan kak nidhom yang kamu anggap sempurna itu"


ucapnku membuat ara menatapku dengan penuh tanda tanya.


"apa kakak gak tahu kak harmonika? "


aku hanya menggeleng setelah mendengar pertanyaan ara.


"kau sungguh kampungan, bahkan modeling seterkenal itu kakak gak kenal"


"tak semua orang itu memiliki kesukaan yang sama, jika aku yang tanya padamu mengenai siapakah raja islam penakluk kota Konstantinopel pertama apa kah kamu tahu? "


gadis itu menggeleng.


"ya seperti itulah kamu dan aku, coba lihat seperti apa mantan kak nidhom yang menurutmu sesuai bersanding dengannya itu"


kini gadis itu melirikku sebal, tak lama dia membuka akun instragramnya dan mengetikkan sesuatu di pencarian.


"ini dia, cantik bukan? "


wajah model cantik yang terdapat pada layar ponsel ara membuatku terdiam.


mengapa harus dia?


bersambung...