I'M On Your

I'M On Your
Chapter 40



sejak kepergiannya tanpa pamit sampai saat ini dia belum pulang, tanpa kabar, dan tak ada satupun yang membahas ketidak pulangaannya. semua berjalan normal tapi berbeda. ini sudah satu minggu kak nidhom belum pulang, aku tau aku tak berguna baginya, tapi ada rasa khawatir dan kecewa.


hari ini hari pertamaku masuk kuliah, akhza memberiku tumpangan karena dia juga ada keperluan ke kampus. jika ku gambarkan saat ini, suasana rumah sepi, tidak ada canda, semua serius, hanya beberapa kali nenek berbicara tapi tak sebahagia dulu.


“akhza, kenapa kak nidhom belum kembali?” tanya ku memberanikan diri. akhza menatapku lembut, aku tak tahu arti tatapan itu.


“dia pasti pulang, aku tahu kamu rindu kakakku”


aku hanya mengangguk


aku bukan rindu, tapi khawatir saja kemana dia pergi, apa yang sedang diurus. mengurus pemakaman mama tak selama ini. jika mama di sana tak punya kerabat kenapa mereka tak makamkan di sini, mereka bukan orang yang tak punya. batinku menerka.


tapi semenjak kepergian mama, tak ada yang membahas, karena ketikaa di bahas maka semua akan menyesakkan.


tak terasa, sudah sampai di basement kampus. aku segera turun dan mengucapkan terimakasih pada adik iparku. kemudian kami terpisah ke tujuan masing-masing.


dari jauh aku melihat aggy yang sedang berjalan kemari, beruntung sekali di pertama masuk aku bertemu dengannya.


“hayyy” ucapku sambil melambaikan tangan.


“fathin” ucap aggy sambil menghampiriku.


“kau masuk jurusan apa?” tanyaku langsung the point tanpa tanya kabar terlebih dahulu.


aggy menyiku ku, aku hanya menarik senyum simpul.


“bagaimana kabarmu?”


“ya seperti ini lah, gue baik” jawabnya.


“eh masuk jurusan apa kamu?” ucapku mengulangi pertanyaan.


“psikologi pendidikan” jawabnya.


“sama donk”


kataku senang.


“yaudah masuk kelas gitu”


ajak aggy, dan aku langsung mengikutinya.


***


aku tidak sedang jatuh cinta pada seseorang, tapi entah darimana rindu datang


sudah beberapa hari perkuliahan berlangsung, dan dia belum pulang.


malam ini ada banyak yang kupikirkan selain tugas yang terdesak oleh deadline. akhirnya untuk mengusir isi kepalaku yang mulai panas karena banyak digunakan untuk berfikir lebih baik aku mendinginkan dengan menonton drama mandarin.


“kak nidhom,”


Kapan dia pulang,


aku segera menyingkir ketika kak nidhom menutup pintu, di dalam hatiku merasa berbunga setelah melihatnya. bukan saling menyapa atau menanyakan kabar dia lebih memilih pergi, dan aku di anggap bagaikan angin, atau benda mati yang tak berarti.


sejak kepulangannya dia diam, lebih dingin dari biasanya dan pendiam. aku memaklumi dia terpukul setelah kehilangan seorang ibu. tapi tak seharusnya dia memperlakukanku seperti makhluk tak kasat mata. mengapa dia berbeda? pertanyaan ku yang selalu terlintas ketika kami saling bertemu dan dia hanya menatap lurus kedepan.


apa ada sesuatu yang salah dariku ?


dan jawabn iyu kutemukan, kami menikah karena permintaan mama melody, tentu beliau sudah tiada maka aku bukanlah apa-apa, aku jadi sadar dimana posisiku dan siapa aku?


jika pernikahan ini karena mamanya, kenapa dia tidak menolak, kenapa dia tak datang pada hari lamaran, dan tak mengatakan apapun tentang ketidaksetujuannya  menikah dengan ku, aku bisa menolak jika dia tak mampu menolak permintaan mamanya.


“ fa, kau sudah buat bahan untuk diskusi nanti” tanya aggy yang ada di sampingku, ketepatan kami juga satu kelas.


“sudah…” jawabku. namun mataku menangkap sosok dia yang tengah berjalan dengan salah satu dosen perempuan  yang sangat cantik dan modis, membahas sesuatu dengan akrab dan tidak ada tampang kaku di wajahnya.


jujur aku kecewa, aku ingin menyerah untuk hubungan ini, jika aku telah lelah....


“hay fa” suara aggy mengembalikan kesadaranku.


“dari tadi melamun”


“lagi banyak pikiran ngy”


“curhat sama aku”


“lain kali, ayuk kita masuk” kataku sambil mengajak aggy masuk, sebelum dia semakin mendekati kearah kami.


jam pertama masuk aku tidak ada semangat hidup, apalagi hari ini hanya satu mata kuliah, biasanya aku sangat apresiasi dalam segala pelajaran mengingat bahwa masuk di kampus ini adalah sebuah impian, dan aku diberi sebuah kesempatan untuk menimba ilmu disini.


“gy, kamu perah gak rasanya tiba-tiba sakit hati”


tanya ku membuat aku menatap penuh tanda tanya.


“enggak sich, soalnya gue males suka cowok” jawaban aggy membuat aku mengulurkan tanganku.


“nggy kamu masih normalkan, aku jadi merinding deketan kamu” kataku sambil mengeser tempat duduk.


“gue normal ya, tapi semenjak pernah jatuh cinta dan di kecewakan, aku jarang memikirkan masalah perasaan lagi” jawabnya membuat aku mengangguk.


“aku suka kak akhza apa itu di katakan jatuh cinta, tapi aku gak sakit hati jika dia deket cowek lain”


sudahlah lupakan fathin fokus fokus kata batin ku menghilangkan segala pikiran yang gak penting.


bersambung