
terlalu nyaman dalam dekapan, hingga aku tak tahu sudah sejauh mana perjalananku, kini mataku mulai silau oleh teriknya matahari di atas kepala, langit yang kupandang juga bergerak. kini aku sadar aku dalam gendongan seseorang.
"kak" icapku hampir setengah berbisik.
"kita sudah sampai rumah" ucanya membuat aku mendongakkan kepala menatap sebuah minimalis yang cukup besar.
"ini dimana? " tanyaku, setelah menyadari ini bukan rumah nenek atau pun apartemen.
"rumah kita" jawab kak nidhom sambil tersenyum,
kini seorang pria bergegas mendahului kami dan membukan pintu.
"aku bisa duduk di kursi roda" ucapku malu, maski pria itu menghiraukan kami, tapi bukan berarti aki merasa nyaman.
kak nidhom meletakkanku di kursi roda yang sidah di bawakan oleh pria itu. aku mengamati seluruh ruang rumah yang katanya rumah kami. segala detail rumah ini terasa tak asing.
"kak, kenapa rumah ini seperti.. "
"seperti uang kau tuliskan di buku diary mu" potong kak nidhom membuat aku mendadak menatapnua dengan melotot, namun tak lama otakku mulai berkerja, uang membiat tanganku menutup wajahku.
jika dia sudah membuka buku ku, berarti dia tahu semua tentang isi bukuku, tentang...
"sajauh mana kakak membacanya? " tanyaku masih dengan menutup mata, ya aku malu jika menyangkut hal pribadi di ketahui orang lain apalagi kak nidhom.
"semuanya" jawabnya ringan tanpa kedala.
"tetmasuk.. "
"temasuk, kau menafuh hati pada adikku yang tidak sebarapa kamu ceritakan dalam buku itu" jawab kakak nidhom membuat aki semakin enggan untuk memandannya, entah rasanya pipiku panas karena malu.
"itu.. "
ucapku kembali terpotong, tak kala tanganku di raihnya, kini aku menatap kak nidhom yang tengah berjongkok di depanku.
"aki sudah tahu sejak dulu tanpa harus membaca buku mu"
"kak tidak sedang bisa membaca pikiranku kan? " ku pandang kakak nidhom uang yersenyum kecil.
"apa aku terlihat sehebat itu"
aku terdiam merenung memikirkan perkataannya.
"aku tidak bisa membaca pikiran, tapi aku bosa menebak tongkah dan raut wajah mu, sidahlah jangan pikirkan kita berkeliling rumah dulu, mencari apa saja kekurangannya" ucap kak nodhom di akhiri dengan mengecup keningku.
sungguh tambah aki menjadi meleleh seperti es yang diletakkan di atas padang pasir.
satiap orang pasti memiliki pandangan yentang tempat tinggalnya, dan aku tak menyangka allah telah mengabulkan nya begitu cepat.
rumah ini tak cukup besar, tapi memberikan kesan ketenangan, apalagi di belakang rumah terdapat hamparan luas pohon teh yang dapat kulihat dari teras belakang, tanaman bunga mawar pirih berjajar rapi, seolah semua ini di rancang seperti apa yang ada dalam tulisanku.
"tapi di sini aku akan sendirian jika kakak bekerja" ucapku.
"di sini ada banyak pekerja kebun, terus kau bisa meminta ibu menemanimu, mengajak fathan, atau kamu bisa kesana" ucap kak nidhom menerawang jauh, tapi tidak ada titik pandang yang dia tuju.
"terus, selama aku belum bisa kemana-mana"
"aku akan temani sampai sembuh"
"bagaimana dengan pekerjaan kakak? "
"itu bukan masalah untukku"
"makasih" ucapku sambil memeluk pinggangnya.
dia tak seburuk apa yang aku pikirkan dulu..
setelah puas mengelilingi rumah baru kami, tidak ada yang perlu di tambah maupun di kurangi, bagiku itu cukup dan sudah lebih..
ting tung
suara bel dari pintu depan membuat aku menatap kearah ruang tamu, siapa yang datang ke rumah baru kami.
"aku yang akan membukannya" ucapku, kak nidhom hanya mengangguk tanda setuju, aku segera bergegas menggerakkan kursi roda. saat pintu terbuka sungguh membuat aku terkejut oleh rombongan keluargaku dan keluarga kak nidhom.
"suprise" ucap mereka serentak.
aku masih mematung tak percaya.
"ini kami di biarkan berdiri di depan pintu" ucap fathan si adik menyebalkan.
"oh silah kan masuk ibu, nenek, dan Semuannya" ucapku, namun tak lama suara melengking dari luar membuat aku terkejut, sebuah mobil honda jazz yang terparkir di pinggir jalan depan rumah itu sangat aku hafal.
dari depan ku lihat dua sosok sahabatku, aggy yang berjalan dengan santai dan irtifa yang berpakaian sopan rapi syar'i berkacak pinggang, menatapku dengan geram.
" ini maksudnya apa coba? tolong jelaskan" kata irtifa setelah sampai di depan rumah.
"hello di sini siapa yang bawa mobil" kata irtifa menatap sebal aggy. aku tahu kedatangan irtafa pasti tidak tahu jika ke rumah ku, tapi aggy, dia pasti tahu karena dekat dengan kak nidhom.
"selamat fa, atas rumah barumu" ucap aggy sambil membawa bingkisan.
"fa, kamu pindah rumah kok gak bilang, terus kamu kenapa kok bisa .. " kata irtifa tak melanjutkan ucapannya, malah menutup mulut dengan wajah syok saat menyadari aku tengah duduk di atas kursi roda.
"kamu kenapa fa bisa begini? " tanya dengan suara melengking.
"siapa yang Nyelakain kamu fa? "
"udah ir, lebay dech lo" sahut aggy, aku yang mendengar bertubi-tubi pertanyaan yang di lontarkan irtifa hanya mampu tersenyum, tingkah irtifa yang khawatir membuat ku sedikit terhibur.
"udah masuk sana kelamaan kalian berdiri" ucapku.
agg yang akan mendorong kursi rodaku segera di tepis irtifa.
"kenapa kamu gak bilang aku fa, jika kamu sakit dan mau pindah rumah, kalau ngerti aku akan bawa bingkisan yang lebih gede dari aggy" ucap irtifa dengan wajah cemberut.
aku yakin setelah masuk, aku akan lebih do musuhi gadis ini dengan sejuta pertanyaan.
"fa, kenapa keluarga kak akhza ada di sini? " tanya irtifa setelah masuk.
"eh irtifa" ucap nenek kepada irtifa yang masih berdiri di belakangku,
"eh tante kirana" ucapnya sambil mencium wanita setengah baya yang masih muda.
"kamu kenal fathin ir? " tanya nenek.
"iya tan, teman aku SMA, kami satu bangku dari kelas satu" jelas irtifa, tentu irtifa kenal dengan nenek karena dia calon mantu yang gagal.
"oh, kalau dulu nenek tahu pasti mengundang kamu di pernikahannya"
"pernikahan, apa? " ucap irtifa kaget, kini di menatapku dengan sejuta penekanan di wajahnya.
"kau punya hutang penjelasan padaku fa" kaya irtifa pelan penuh penekanan.
"apa fathin tak bilang padamu nak? " tanya nenek.
kini gadis di sampingku itu menatap nenek dengan menggeleng polos.
"apa kau menikah dengan adiba diam-diam fa" bisik irtifa yang masih kudengar.
"ir, kamu duduk dulu" kataku, gadis itu menatapku sebal sebelum melangkah ke arah aggy yang sudah duduk di sana.
"cemilan sudah datang" teriak kecil fathan yang membawa nampan, sedangkan kak nidhom yang tak pernah melakukan hal yang tak semestinya kini harus turun kewibawaan.
"makasih kak" ucapku pelan ketika dia menghampiriku. dia hanya tersenyum simpul meski sesaat, dan itupun tak luput dari pandangan irtifa, kini irtifa sudah menemukan jawaban tanpa aku harus menjelaskan.
***
ting
irtifa : kamu punya hutang penjelasan padaku fa?
baru saja satu jam yang lalu dia pulang sekarang, irtifa benar-benar memaksaku.
me: aku akan jelaskan ketika aku sudah sembuh dan masuk kuliah...
irtifa: lama, aku butuh penjelasan sekarang, lagian kenapa bosa kamu nikah sama pak direktur kampus, alias si dosen kutub itu...
me: takdir ir
balasku,
irtifa;aku marah kamu harus bujuk
me: ada kak azzam
irtifa:๐ฉgagal dech jadi kakak ipar aku
me: masih bayak kok cewek yang mau sama bang azzam.
irtifa: tapi aku maunya kamu...
me: mulai dech..
belum selesai aku chattingan dengan irtifa, kini ponselku sudah melayang dan pindah ke atas nakas. namun bukan itu yang membuatku terkejut, dan mendapatkan serangan jantung dadakan...
bersambung...
๐น๐น
terimakasih reader's yang telah meluangkan waktu untuk membaca karyaku yang masih amburadul, jangan bosan2 untuk komen like dan vote๐๐