
Sebuah niat baik, namun dalam hati ada sebuah penyesalan ketika suamiku menjadi pusat perhatian, bagaimana para gadis menatapnya dengan pandangan mendamba, aku tak bisa mencegah apa lagi melarang. Hal yang ingin ku lakukan saat ini adalah membawa dia pergi dari area masjid.
Padahal tadi aku yang memohon padanya untuk sholat isya’ di masjid, dan saat ini hatiku mengatakan banyak penyesalan. Aku segera melangkah ketika kak nidhom sampai di telondakan anak tangga masjid.
“neng, warga baru ya” tanya seorang ibu yang tengah duduk di pinggir serambi masjid bersama sekumpulan para ibu-ibu lainnya.
“oh iya bu” jawabku
“sini gabung bersama kami” ajak salah satu dari mereka. Aku yang tak bisa menolak akhirnya melangkah kearah segerumbul emak-emak. sebelum itu aku menatap sekilas kak nidhom yang tengah berbincang dengan seorang bapak.
“eneng yang rumahnya pinggir kebun teh itu ya,”
“benar bu” jawabku sekena-nya, aku tidak terlalu akrab pada mereka jadi sedikit canggung.
“udah berapa lama tinggal?”tanya lagi dari salah satu mereka.
“baru sekitar satu bulan bu”
“yang itu suaminya ya apa saudara lakinya?” Tanyanya penasaran, mungkin semenjak kedatangan kami mereka sudah melirik kami.
“suami saya”
“ohh, ku kira saudara lakinya”
“ternyata suaminya ya” sahut mereka.
“hahaha, gagal mau jodohin anak ya sri” ucap salah satu ibu yang menyebutkan nama dari wanita paruh baya yang tanya tadi.
Suara ibu tadi yang sedikit keras membuat para gadis yang bergerumbul tak jauh dari meraka menatapku, dengan raut wajah kecewa. Apalagi baru ku sadari jika kak nidhom sudah berjalan kearah sini.
“ masih ada urusan?” tanya kak nidhom pada ku.
“emm tidak” jawabku sambil menggeleng lucu.
“ok, kita pulang”
Aku yang tengah duduk di lantai masjid langsung berdiri dan menatap sekumpulan ibu-ibu yang menatap suamiku, Sebegitu besarkah pesona kak nidom hingga wanita yang lanjut usai itu ikutan mendamba. Sungguh dalam hati aku kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
“ayukk” ajak kak nidhom yang sudah menarik pergelangan tangan ku dengan lembut.
“kami duluan bu” ucap kak nidhom sebelum menggandeng tangan ku dan berjalan menjauhi area masjid.
“iya silahkan” jawab mereka serentak
Letak masjid yang tidak terlalu jauh, membuat kami tadi berangkat dengan jalan kaki, dan begitupun dengan pulang.
“kak, lain kali kita sholat jamaah di rumah ya” pinta ku di tengah perjalanan kami. Kak nidhom mengernyitkan kening sebelum melontarkan pertanyaan.
“kenapa?”
“tidak apa, sepertinya lebih baik kita sholat jamaah di rumah” jawabku, membuat sebuah tawa kecil keluar dari
bibirnya.
“tadi kau memaksa bahwa sholat jama'ah di masjid banyak pahala, sekarang pendapat mu berubah. Sepertinya keadaan mampu membalik kata” ucapnya sambil tertawa mengejek, sungguh ekspresi yang dia timbulkan membuat ku jengkel. Tanpa kata atau tanggapan untuknya aku melengos dan berjalan cepat mendahului nya.
“hey, kia kau tinggalkan aku..”uca kak nidhom di belakang, namun aku yang masih kesal memilih untuk terus berjalan cepat. Namun secepat apapun aku, suamiku tetap mampu mengimbangi langkahku dengan langkah panjang-nya.
“kau tak takut jika di depan rumah nanti ada orang yang sedang menanti kita” ucap kak nidhom, membuat langkahku terhenti, ada rasa takut yang menyusup, namun otakku yang masih bekerja dengan benar, menolak katanya.
Dan memilih kembali melangkah, lagian rumah kami sudah terlihat, ketika akan membelok kearah pekarangan rumah, kak nidhom segera menarik ku, aku melotot dan akan memprotes atas tindakannya. Namun
kataku hanya mampu sampai di tenggorakan ketika muluku sudah di bungkam oleh
telapak tangan-nya. Kini mataku menangkap isyarat kak nidhom untuk tenang.
ucapan -nya bagaikan do'a, sayup-sayup aku mendengar percakapan seseorang di depan rumahku. Pagar dari tanaman teh cukup menutupi tubuh kami, kini kak nidhom mengenggam tanganku, menarikku untuk
menjahu dari dekat rumah, aku hanya mengikutinya tanpa banyak bertanya.
“siapa mereka kak?” tanyaku ketika langkah kami sudah menjauh dari rumah, kak nidhom tak menjawab dia malah sibuk mengeluarkan ponsel dari saku baju kokonya. Padahal tadi aku ingat sebelum berangkat aku telah merampas
ponsel-nya dan meletakkan di atas nakas.
Kini kak nidhom tengah berbicara dengan seseorang yang tak kutahui siapa, karena pangilan dalam mode pelan. Hanya suara kak nidhom yang terdengar, meski jarak kami deka, dan tanggaku masih dalam genggaman-nya.
“sementara kita tidur di hotel”
“tapi mengapa?” tanyaku penasaran,
“kau tak perlu tahu, cukup kau patuh itu akan lebh baik, dan jangan banyak ingin tahu sesuatu kia..?”
“tapi..”lagi lagi suaraku terpotong dan hanya mampu tertahan di tenggorokan tak kala dia mencium keningku di pinggir jalan.
Tak lama sebuah mobil berwarna hitam berhenti di dekat kami. seorang keluar dari dalam dan
langsung menghampiri kami, lebih tepat-nya menghampiri kak nidhom. Pria yang hampir seumuran dengan suamiku itu menyerahkan kunci mobil.
“kau menyusahkan ku, padahal aku sedang bersama kekasih ku” ucapnya terdengar kesal.
“pekerjaanmu lebih penting dari pada wanita”
“baiklah aku menyerah, sekalipun bekerja 24 jam tak masalah, asalkan gajiku…”
“jangan banyak bicara”
“ok aku mengerti, selamat bersenang-senang” ucap pria itu sambil melirikku. Aku sedikit mendekatkan
kepada kak nidhom.
Kak nidhom segera menarik ku masuk kedalam mobil. Sedangkan pria tadi telah pergi dengan ojek online.
“kita mau kemana?” tanyaku
“kamu inginnya kemana?” jawabnya dengan sebuah pertanyaan.
“terserah kakak, kemanapun itu, aku ikut aja”
“hmm” dia hanya berdehem, sebenarnya setelah pulang dari masjid rencana ku ingin langsung tidur, dan saat ini aku memilih untuk memejamkan mata.
***
KIA
KIA
KIA
“kia, bangun”
Aku kini tersadar ketika suara bas milik kak nidhom masuk dalam indra pendengaranku. hatiku sedikit mencelos, ketika suaranya kupikir tadi adalah suara ayah yang membangunkan ku, lagian kak nidhom entah mengapa suka memangil dengan nama itu dari pada fathin.
“maaaf, aku ketiduran" ucap ku setelah mataku terbuka lebar, meski aku belum menyadari ini dimana.
“kak ini dimana?” tanyaku ketika melihat di depan sana bukan sebuah bangunan maupun jalan, melainkan sebuah lapangan luas yang terdapat sebuah danau hitam.
“dimanapun itu sekarang tak penting, tidur di hotel adalah hal biasa, tapi tidur di alam bebas bersama pasangan itu mungkin perlu kita coba” ucapnya santai.
“apa ini bisa di sebut nge-camp”
“bisa jadi”
“hmm, baiklah, kalau gitu kita turun dan pasang tenda” ucapku bersemangat , namun seketika aku baru ingat!!
“kak kita belum…”
“aku sudah mempersiapkan ketika kamu tidur tadi” jelas kak nidhom membuat aku menoleh ke bangku belakang, ternyata benar di belakang sudah terdapat tas tenda dan beberapa barang.
Malam memang semakin larut, tapi langit semakin menampakkan ke indahan-nya, bulan yang bergelantung di langit terpantul indah di permukaan danau yang jernih meski terlihat sangat gelap karena malam. begitupun dengan taburan bintang.
sungguh indah
“makanlah” ucap kak nidhom, setelah menyodorkan sosis bakar, aku segera meraihnya namun dia mencegah tanganku.
“buka mulutmu” pintanya, yang lebih tepat terdengar perintah. spontan aku membuka mulut meski malu..
“kak, boleh aku bertanya” ucapku di sela kegiatan mulutku yang mengunyah.
“katakan”
“emm, tapi janji jangan marah” kataku memastikan sebelum pertanyaanku keluar dari mulutku. Ya tentu aku takut membuat dia marah di tengah rasa keharmosnisan ini.
Tanpa ku sadari tanganku yang menunjukakn kelingking di depannya dia raih dan di genggam-nya.
“apapun yang kau tanyakan aku tak akan marah, tapi belum tentu dapat ku jawab tergantung apa yang kau tanyakan” jelasnya
Aku hanya mampu terseyum simpul.
“sebenarnya, aku bingung ….” Ucpku terpotong, namun mataku meliriknya, yang sedang menatapku.
“emm, aku bingung karana kakak tiba-tipba perhatian dan baik
padaku”
“tapi aku juga senang” lanjutku, berkata terpotong dengan raut sedikit tak tenang, ya meski ku putuskan untuk menjelaskan apa yang ada didalam pikiranku, tapi tak di pungkiri aku memeliki rasa pemalu.
“apa itu membuatmu tak nyaman?”
“bukan begitu, tapi aku ingin tahu apakah kakak sudah menerima pernikahan kita” kataku membuat dia terseyum simpul.
Jujur sebenarnya aku takut jatuh cinta akan sikapnya dan aku takut jika rasaku hanya bertepuk sebelah tangan, aku sadar dia terlalu sempurna, dan bukan tak mungkin jika dia hanya berpura-pura sebagai rasa tanggung jawabnya terhadapku, orang bilang sikap dan tindakan itu sudah mencermikan segalanya, tapi aku juga butuh sebuah pernyataan dan kepastian.
“menurut mu?” kini dia malah balik bertanya.
“aku tak tahu, bagiku saat ini kakak baik itu saja”
“ maka jawabnya seperti itu” jawabnya membuat aku menatapnya denga wajah yang bingung. dan tanpa ku sadari jika kedua telapa tangan dingin itu sudah menagkup kedua pipiku.
“yakini saja apa kata hatimu” ucapnya menatapku.
“tapi aku butuh jawaban”
“aku tak bisa menjawab kia, tapi kita bisa mememulainya dari awal bukan, meski dari awal kamu belum bisa menerim kenyataan ini”
Kenapa aku, bukankah kamu juga? Tanyaku yang tertahan dalam
batin…
“kita jalani saja semestinya, biaralah waktu yang menjawab segala pertanyaanmu, apa artinya kamu dalam hidup aku…”
“aku juga berharap tak ada penyesalan dalam hidupmu, dan…” lanjutny, terpotong
“terimakasih telah menjadi sebagian dari hidupku” penggalan kata yang pelan itu nyaris tak terdengar, ketika jarak mengikis kita.
jika kelak jarak kita bagaikan bumi dan langit, kau tetaplah seperti cahaya sirrus, meski jauh beribu tahun masih dapat ku jangkau meski dalam pandangan semata...
bersambung....