
Mimpi yang nyata
Berdiri berdampingan selayaknya manusia asing. yang dipersatukan dalam ikatan suci, seperti yang pernah kutuliskan dalam buku catatanku, yang kini berputar dalam kepalaku.
aku terlalu percaya,
bahwa cinta akan hadir tanpa harus diminta..
dan waktu akan menyatukan dua hati dalam ikatan suci…
kami disatukan dalam dalam ikatan pernikahan yang sakral. namun belum tentu hati kami saling bertautan. hidup tak selalu,sama dengan apa yang kita bayangkan, dan kenyataan telah menamparku begitu saja. hatiku menginginkan nya, tapi takdir ku harus bersanding dengan yang lain. hal yang ingin kutanyakan, mungkinkah kami jodoh?, ataukah ….
aku tak ingin melanjutkan, baru saja aku menyandang status istri pria di sampingku, aku sudah berpikir tentang perpisahan.
“selamat menempuh hidup baru bro..”
suara yang tak asing menyadarkan lamunanku. dari balik cadarku aku menangkap sosok pria yang ku kenal. kak azzam, yang sedang mengucapkan selamat pada suamiku. kini aku menyapu seluruh ruang, mencari sosok gadis yang tak lain adik kak azzam. jika kakaknya di sini takutnya irtifa juga hadir. namun aku bernafas lega, setelah tak menemukan sosoknya. dia teman ku, dan dia tidak tahu jika aku telah menikah….
“selamat ya, semoga samawa” ucap kak azzam yang kini berada di depanku dengan menyatukan kedua telapak tangannya. aku bernafas lega ketika tidak dapat di kenalinya, sebenarnya aku bukan wanita bercadar, cuma saja hanya di hari pernikahan ku ini. aku tak ingin banyak orang mengenalku.
#
pernikahan ini digelar cukup mewah, tapi tak banyak yang diundang. bahkan dari pihak keluargaku hanya keluarga dari ayah yang ikut. yaitu paman dan kakeknya yang menjadi wali nikah.
cukup melelahkan duduk dan berdiri di pelaminan, bahkan jika memilih fatin lebih baik berjalan kesana kemari ketika dia menjadi panitia di salah satu kegiatan. kini paman dan kakeknya berjalan mendekati fatin.
“maaf fatin, paman dan kakek harus kembali ke kampung mengingat nenekmu sedang tidak sehat, semoga pernikahan kalian selalu bahagia”
ucap paman, aku hanya mampu mengamini, dan tak lupa salamku pada nenek agar cepat sembuh.
“setelah senggang jangan lupa, berkunjung ke kampung kami” ucap paman kepada suamiku.
ya suamiku, yang ku tak tau siapa namanya?
acara telah usai, aku berjalan mendekati adikku yang sangat tampan hari ini, dia memakai jas berwarna navi, pantas saja banyak gadis remaja yang mengidolakannya. bahkan aku sang kakak mengakui ketampanan adikku.
“kak, ngapain kesini?”
pertanyaan macam apa yang dilontarkan adik ku pada kakaknya. aku segera meninju lengannya pelan. tapi malah dia mengaduh kesakitan.
“mulutmu pedas sekali, jika bukan adikku sudah ku gantung di pohon capai rawit”
“tambah pedas donk”
ibu yang tak jauh dari kami memberi kode untuk tidak melanjutkan perdebatan kami. aku segera menghambur ke pelukan ibu.
“kau pasti lelah sayank, kau bisa istirahat”
ucap tante melody yang menghampiri kami.
“iya tante..” jawabku yang membuat kening tante melody mengerut.
“kok tante, panggil mama, donk” ucap tante melody,
“fathan antar kakak mu ke kamarnya, tante mau bicara sebentar sama ibumu”
fathan hanya mengangguk, lalu kami berdua berpamitan.
sejak aku menemui fathan, aku sudah tidak menemukan sosok yang telah menjadi suamiku. entah dia pergi kemana, tapi aku tidak memusingkan masalah itu. karena menurutku itu semakin baik, karena aku merasa canggung jika ada dia di sekitarku. istri macam aku ini?, mungkin karena aku belum siap menikah…., jadi maklumilah aku..
sejak kemarin sore, kami sudah berada di kamar hotel, tadi malam aku tidur dikamar bersama ibu, apakah nanti malam aku bisa tidur bersama ibu lagi?, jika pertanyaan ku dalam hati ini ada sebuah jawaban yang memperbolehkannya aku akan dengan senang hati.
“mbak, kamarmu tetap samakan, maksudku kamar hotel yang mbak tempati masih sama”
“ya iyalah, memang aku mau pindah kemana?”
ucapanku membuat fathan menatapku heran, dan aku baru sadar telah menikah.
“sementara aku di kamar itu” jawabku canggung sendiri, fathan mengantarku karena dia membantuku membawa ekor kaun putih yang menjulang panjang itu membuat aku kesusahan berjalan.
“selamat ya mbak, semoga langgeng sama mas nidhom”
ucapnya, aku yang mendengar mengernyit, aku baru tahu nama suamiku dari mulut adikku. nama yang tak asing, tapi kapan ya aku pernah mengucapkan nama itu, mungkin aku pernah menyebut nama yang sama.
“ya,, makasih, mbak mau masuk, kamu kembali ke kamarmu dan tidur” ucapku.
sambil memandang fathan pergi, pikiranku berkecamuk memikirkan nama suamiku. namun segera kuputuskan untuk masuk ke kamar, sebelum kepala ku pusing memikirkan, dan pingsan di depan kamar hotel.
belum lama aku melangkah ke arah kasur empuk hotel, suara ketukan dari pintu mengurungkan niatku. seorang wanita berdiri di depan kamarku, dengan seragam rapi khas petugas hotel ini.
“maaf, nona saya disuruh untuk mengantar anda ke kamar pengantin”
aku masih diam, menatap pegawai hotel tersebut.
“nona mari…” ucapnya, menyadarkanku, yang membuat aku gelagapan.
“oh,i…iya” kataku.
akhirnya aku mengikuti wanita tersebut. di dalam perjalanan pikiranku kemana-mana, yang membuat tubuhku panas dingin.
“silahkan masuk” ucapnya. setelah wanita tersebut membukakan pintu, aku hanya mengangguk patuh dengan ragu. namun hatiku lega, ketika yang ku temukan adalah wanita penata rias tadi. setelah aku masuk wanita tadi menutup pintu.
ya hatiku lega, karena aku telah kembali pada semula, tanpa make up tebal yang membuat aku risih, cantik sich, tapi aku merasa itu bukan diriku, lebih baik biasa-biasa saja tapi bikin nyaman.
kini kutatap kasur empuk yang menggoda di mataku,
welcome to my dreamland…
semoga apa yang terjadi ini hanya sebuah mimpi….
dan esok aku terbangun dengan bahagia, di atas kasur kamarku sendiri…
Bersambung.....