
suatu pencapaian yang kau inginkan, lalu dapat terwujud apa yang kalian rasakan ? tentu bahagia bukan.
entah berapa kali aku sujud syukur, setelah mendapat kabar dari website bahwa aku lulus seleksi. tanpa sadar kepalaku yang terbentur meja belajar kak nidhom tak kurasa saking bahagianya aku…
andai jika aku di kamarku dulu, sudah berjingkrak jingkrak di depan fathan dan menyombongkannya padanya.
aku kembali lagi mengangkat sudut bibirku lebar, dan tanpa ku sadari bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikan ku.
“kak nidhom” kataku setelah menyadari keberadaanya, kan jadi malu aku. tanpa sadar tubuh ini langsung berdiri dan menghampiri orang yang tengah berdiri.
“terimakasih” ucapku, dengan tangan sudah memeluknya. namu tubuhku segera tergeser setelah sadar apa yang tengah ku lakukan.
“terimakasih atas bimbingannya” ucap setelah melihat kak nidhom memandangku dengan raut wajah penuh tanda tanya.
“oh.,ya”
jawaban yang cukup singkat, dan buat hati kecewa. padahal bagiku itu sangat berarti dan luar biasa, baginya tentu bukan apa-apa dan biasa saja. wajar bagi orang sejenius kak nidhom itu hal yang mudah dan kecil.
***
“bagaimana fa, hasil tes kamu” tanya nenek di tengah perbincangan makan malam.
“alhamdulillah nek, cukup memuaskan” jawabku sambil tertunduk menatap nasi di depan piring, padahal lagi menahan senyum bahagia. yang namanya bahagia mana bisa disembunyikan.
kini aku melirik kak nidhom yang sedang menggeser kursi, dan meminta izin utuk mengangkat telepon yang baru saja berdering. aku melirik sekilas dia yang tengah berdiri di sudut ruangan, entah mengapa perasaanku tidak enak. namun segera ku tepis jauh.
“kau makan yang banyak sayang”ucap nenek sambil meletakkan cumi panggang di piringku.
“makasih”
“makan yang banyak buat cadangan energi jika masuk kuliah” ucap nenek dengan tertawa renyah.
tak lama kak nidhom kembali ke kursi, tapi ada hal yang berbeda, aku menatap nya ketika semua orang di meja makan menatapnya. kak nidhom tidak seperti biasa, raut wajah dingin entah dia marah atau sedih aku tak bisa membedakan.
“ada apa nid?” tanya nenek bingung.
nenek menghampiri kak nidhom dan sebuah belaian halus dari tangan yang belum keriput itu mengusap pelan punggung kak nidhom, seolah dia paling tahu perasaan cucu pertamnya itu.
“mama”
“mama telah tiada”
suara pelan namun pasti itu membuat kami bagaikan disambar, diam dan tak percaya dengan kalimat singkat namun menyakitkan, tak terasa air mataku sudah jatuh ke lantai, dan tak lama suara tangisan yang tertahan dari kakek terdengar. kami diam membisu dan tak bertanya lagi. bahkan akhza hanya menunduk.
siapa di sini yang belum percaya tentang ucapan suamiku. wanita yang beberapa bulan ku kenal dan sangat menyayangiku di nyatakan tak ada sedangkan kami tidak melihat dengan mata kepala sendiri.
“tidak” suara akhza yang tiba-tiba berlari menaiki tangga.
kak nidhom menatap adiknya yang tengah pergi itu, namun tak lama akhza turun dengan jaket dan tas kecil. kak nidhom yang melihat adiknya menuruni tangga itu langsung berdiri dan mencegah.
“mau kemana?” pertanyaan yang dingin di tengah kesedihan kami semua.
“ke bandara” jawab kak akhza, namun tak lama tubuh itu terhuyung kebawah, aku baru melihat wajah kak nidhom yang menyeramkan. bagaimana dia tak berperasaan mendorong adiknya sendiri di tengah duka.
“tidak ada yang boleh menginjakkan kaki keluar rumah malam ini, atau berencana pergi ke roman”
“tapi kak, aku ingin lihat ibu yang terakhir”
protes akhza, kakek pun ingin bersuara namun terhenti ketika bentakan kak nidhom menggelegar ke seluruh ruangan. tindakan macam apa ini yang tidak boleh melihat keluarganya terakhir kali di kebumikan, wajah kakek memerah namun tak bisa apa-apa kecuali menahan amarah.
“kau kembali ke kamarmu, biar aku yang pergi” ucap kak nidhom sambil merangkul adiknya, namun ada sesuatu yang dibicarakan, yang kami tidak tahu, yang membuat kak akhza menangis sesegukan. tapi menuruti perintah sang kakak.
dan malam ini aku melihat kak nidhom pergi tanpa ada satu katapun padaku, aku tahu dia sedih,...
tapi alasan apa kami semua tak bisa bergi ikut dengannya...
dalam kebahagian ku sesaat, ada ke sedihannya yang mendalam, ingin ku rangkuh, tapi siapalah aku baginya...
Bersambung...