I'M On Your

I'M On Your
Chapter 64



menikmati pemandangan di atas ketinggian, gedung tinggi yang menjulang seolah menyentuh awan. lampu di bawah seolah taburan bintang yang tersebar di hamparan bumi.


suasana langit memang begitu terang, namun sapuan angin malam yang diingin tetaplah singgah. dalam dingin yang menusuk kulit aku merapatkan jaket. sebenarnya ada perasaan tak tega menyelimuti hatiku sekaligus senang, ketika kak nidhom memberikan jaketnya, dan membiarkan tubuhnya berselimut angin dingin.


"kita bisa turun setelah putaran ini" ucapku, meski dia tak menampakkan rasa kedinginan, tapi aku tahu suhu malam ini sangat dingin. telapak tanganku pun tak dapat membohongi.


"kita sudah naik, kita selesaikan sampai putaran terakhir"


"di sini dingin, dan kakak tidak memiliki jaget"


"aku bisa memelukmu" ucapnya, membuat aku kembali memerah lagi.


"emm, bagaiman dengan janji kakak tadi" kataku mengalihkan pembicaraan sekaligus menormalkan perasaan.


"janji? yang mana" tanyanya, sambil menggenggam tanganku, telapak tangan nya yang dingin, seolah menyengat seperti aliran listrik yang mengalir ke dalam tubuhku.


"tadi, baru saja beberapa jam sudah lupa, hmm kini aku harus menyakini teori bahwa laki-laki mudah lupa dan melupakan janji" kataku.


kak nidhom yang mendengar tersenyum menatapku.


"sebenarnya tidak lupa, hanya saja apa yang ku dapat jika menceritakannya kepadamu? "


ucapnya membuat aku mengernyitkan kening, dia sempurna, kaya, pintar dan jenius, pendidikannya juga tinggi, dari segi finansial dia begitu sempurna, hanya saja aku tak tahu sejauh mana. lantas apa yang dia inginkan dari gadis seperti ku?


"aku akan mengajarkan kakak mengaji" ucapku tanpa mikir lama, aku tak pernah tahu dia melakukan keagamaan, apalagi membaca Al-Quran.


apa kak nidhom seorang yang tak punya keyakinan? batinku berasumsi sementara, tapi segera menghempasnya.


"aku sudah bisa, "


"sungguh" ucapku sedikit tak percaya.


"selain itu" ucap kak nidhom dengan pandangan menatap seluruh wajahku yang membuat nervous saja.


"hmmm bagaimana jika sholat"


"itu kewajiban " jawabnya, naman belum yakin, meski tadi aku menyaksikan dia sholat akhir-akhir ini.


"hmm apa yang belum kakak bisa jika aku bisa aku akan kasih tahu" ucapku, yang membuat kak nidhom tersenyum aneh menatapku. aku rasa ucapan ku tidak ada yang aneh.


"kau sungguh" tanyanya.


"iya katakan saja kak, jika aku bisa" ucapku.


"sekarang saja" kataku, karena aku juga penasaran dengan hubungan mereka, jika di katakan setelah pulang aku akan terbebani dengan rasa penasaranku.


"kau yakin"


kini kak nidhom yang memastikan atas permintaanku.


"iya, karena aku penasaran dengan cerita kakak, lagian aku juga ingin tahu apa permintaanmu, siapa tahu aku tak bisa" ucapku.


"baiklah" ucap kak nodhom.


"aku akan kasih tahu permintaanku, " lanjutnya.


kak nidhom memandangku, kini aku jadi ketar- ketir sendiri. permintaan seperti apa yang dia minta untuk membayar setara dengan apa yang akan dia ceritakan padaku.


ketika angin dingin yang berhembus, bersamaan dengan sebuah bisikan yang melalui gendang telingaku, kini aku menatap horor kearahnya yang sedang menatapku dengan sebuah ekspresi meminta jawaban.


"bagaimana? " tanya, setelah aku terdiam


"emm, itu.." kataku, harus terpotong oleh jeritan ku yang reflek, setelah lengan ku terasa sakit akibat gerakan yang tak terduga. kini wajah kak nidhom yang sejengkal sudah dekat di depan mataku mendadak terhenti. yang membuat suasana menjadi canggung. aku segera menggeserkan letak duduk ku.


tak lama bianglala raksasa itu terhenti, jami baru sadar jika ini sudah di putaran terakhir. kak nodhom segera membantuku turun, kursi roda yang dibawa oleh seorang supir kami tadi kini harus nganggur, tak kala dia terus membopongku sampai dalam dalam mobil.


***


kupikir masih lama, ternyata setalah liburan sehari kemarin, hari ini kami check out dari rumah sakit. semenjak tadi malam, kak nidhom lebih pendiam, apa karena aku tidak menjawab permintaannya, atau sikapnya yang hangat itu hanya berlaku pada saat aku di rumah sakit sebagai rasa tanggung jawabnya.


kini aku dalam dilema...


ingin menyapa dahulu, tapi tak tahu cara memulai...


kini pesawat mulai lepas landas, meski batin ku sedikit tak tenang, bagaimana diriku yang sangat anti kendaraan dan gampang mabuk perjalanan. mengingat naik pesawat, mengingatkan ku pada studi tour ke raja ampat.


kini peristiwa demi peristiwa bergantian teringat, bahwa ternyata memang sering bertemu kak nidhom, cowok pelanggan bunga setia kios akong, yang malam-malam bunganya ku kirim di kosnya, dengan sandal SWALOW namun tetap cool, terus.... kini lamunanku terpaksa harus tbuyar tak kala merasakan perutku yang mulai terasa di aduk, tentu keberangkatanku dan kepulanganku berbeda karena situasinya tak sama.


ku pejamkan mataku, berharap aku tertidur, aku lebih berharap kalau pisan akan lebih baik dari pada pising dan mual. namun tak lama sebuah tangan meraih pinggang ku, mendekap ku dalam sebuah pelukan, sangat pelan, bahkan tanganku yang sakit, tak merasakan.


"tidurlah" ucapnya, yang membuat aku sedikit memberanikan diri menelusup kan wajahku pada dadanya, bau mint yang menyegarkan sedikit mengurangi rasa pusingku.


apakah seperti ini rasanya di peluk seorang pria yang bukan mahram kita....


Bersambung....