I'M On Your

I'M On Your
Chapter 86



apa yang bisa dilakukan, selain menyerahkan segalanya pada tuhan, menatap sepuahnya langit cerah di atas meski harus singkat, meski air mata berjatuhan namun tangan tak mampu menghampus ,setidaknya di depan mataku aku tak sendirian.


ailiran merah pekat menetas di pipiku,...menyatu dengan air mataku. kini tubuhku yang melayang menyentuh permukaan air laut, hingga tubuh ini terasa remuk, dan menyesakkan ketika air laut memenuhi pernafasku, namun tangan dingin itu masih menggengamku...


dan dunia ku menggelap


***


uhuk uhuk...


"kia"


suara kak nidhom dan tepuk tangan nya menyadarkanku. namun kepalaku yang pening membuat aku enggan untuk memejam mata.


kini samar-samar aku menangkap wajah tanpan,


"subhanallah,..."


"kia..."


belum sempat bibirku kembali terucap, dunia ku kembali gelap....


"apa ada yang sakit?" tanya kak nidhom entah itu  sudah keberapa kali-nya, aku hanya menggeleng meski tubuhku terasa remuk. jatuh dari tebing setinggi itu membuat aku berfikir bahwa aku sudah tiada, namun takdir berkrhrndak lain.


dalam hutan kami duduk, membuat api unggun alakadarnya, apalagi hari sudah malam dan angin dingin sungguh menusuk kulit, aku tak membayangkan kak nidhom yang bertelanjang dada, sedangkan kemeja putihnya menjadi tudung ramputku karena jibabku entah menghilang kemana.


jika ingin menyesal, aku menyesal telah mengulur waktu. namun penyesalanku seprti tidak ada artinya, mungkin jalanku memang seprti ini. aku mencuri pandang ke arah kak nidhom yang ada si dapingku, ya semenjak sadar tadi aku belum bicara sama sekali padanya.


"aku minta maaf, telah membuatmu mengalami situasi seperti ini" ucapnya sambil menatapku dlam, aku tak pernah melihat pandangannya yang sesendu ini, sebuah luka besar yang dia simpan itu tersorat dari matanya meski wajahnya masih sedatar biasanya. aku hanya diam, menatap saja tanpa berkomentar apapun.


"seharusnya di hari ulang tahun mu, bukan situasi seperti ini yang ku berikan,,,,selamat ulang tahun istriku...aku minta maaf..." ungkapnya pelan diakhir kalimatnya


aku kembali menatap kak nidhom, kini mataku sudah mengembun, hal yangin aku lakukaan saat ini melepaskan rasa sesak didada yang membuat tenggorokaan ku tercikek. tanpa pikir panjang aku memeluk kak idhom dengan erat, mengeluarkan segala hal yang bisa membuatku lega...


mungkin sebagai wanita aku terlalu cengeng....


cukup lama aku menangis, hingga mataku terasa panas dan membengkak, namun kini aku baru sadar jika bahu kak nidhom terluka oleh tembakan yang melukainya. aku menutap luka yang membiru itu dengan miris.


"ini pasti sakit.." ucapku sambil mengelus lengannya, dia hanya mengelengkecil dengan sedikit tersenyum simpul.


'ini tak seberapa, dengan lukamu..."


"lukaku?" tanyaku yag tak mengerti...


"luka mentalmu kia, kau tak akan mengalami hal seperti ini jika tak menikah deng..."


aku segara menutup mulut kak nidhom dengan telunjuk kecilku. saat ini kami sama-sama terluka dan kehilangan menyalahkan diri  akan membuat semakin terluka.


"aku tak akan pergi, seburuk apapun latar belakang, dan perjanjilah untuk tidak meninggalkanku apapun yang terjadi itu selama raga dan nyawa ku menyatu..." ucapku sambil menatap kudua mata kak nidhom dengan penuh harapan.


"baiklah..." ucapnya dengan sirat mata ragu, meskipun sedikit kecewa aku ttap menyunggingkan senyum.


meski ku tak tahu apa yang membuatnya ragu....