
✈️✈️
Pesawat mendarat di bandara domine Eduard Osok, Sorong. Cukup membuat lelah dan penat. Apalagi aku yang tidak menyukai berpergian jauh. Dari naik bus sampai pesawat dan sekarang naik bus
lagi membuat kepala ku pening, setalah mengalami mabuk kendaraan. Untung ada aggy yang memiliki fisik dan daya tubuh yang kebal, mengurusi diriku yang lemah tak berdaya.
Keindahan laut yang katanya surganya dunia, tak mampu dinikmati, setelah di penginapan aku langsung memejamkan mata di atas kasur empuk, mengabaikan dua manusia yang sedang ribut, ya tak lain aggy dan irtifa.
“fa, kamu minum air hangat ni” ucap
irtifa yang remang-remang ku dengar, aku mals menanggapinya. Apalagi rasanya
atap sedang berputar-putar layaknya naik roller coaster.
“udah biarin fatin istirahat” sahut aggy.
Entah sudah berapa jam aku terlelap,
cahaya keemasan masuk kedalam retina ku. Ini sudah senja, tapi aku tak perlu khawatir karena sedang libur sholat. Sedikit dipijit pelipis ku, sedangkan sebuah wangi aroma terapi memasuki indra penciuman. Dari balik pintu, irtifa datang dengan sebuah nampan.
“udah baikan kamu fa” tanya irtifa
sambil meletakkan nampan di atas meja kayu.
“apa tu?” tanyaku, perutku yang tadi mengeluarkan semua isinya, kini merasakan lapar setelah mencium aroma masakan.
“sup ikan, tapi gak tau ikan apa, coba saja mungkin enak” ucapnya, membuat aku mengerutkan kening.
“kau yakin ini gak bikin muntah kalau ku makan?” tanyaku, menyakinkan.
“ya mana aku tau, itu kan dari guru”jawab irtifa
“masak sich, ku pikir kamu yang beliin”
Dengan ragu aku mencicipi kuahnya terlebih dahulu, ini di tempat asing dan makanannya belum tentu sesuai dengan lidahku, tapi perutku juga butuh asupan, agar tenagaku pulih.
Tidak terlalu buruk makanan ini, aku suka rasanya. Dan mangku berisi ikan itu telah tandas aku makan.
Malam ini tidak ada kegiatan selain bersantai, penginapan yang menghadap laut memanjakan mata bagi siapa saja yang memandang. Ku abadikan momen malam ini di ponselku dan langsung ku kirim ke fathan. Aku hanya cekikikan tak jelas, setelah menerima balasan adikku berupa
emoticon menyedihkan.
Ting,
Notifikasi pesan masuk di ponselku.
Adiba : fa udah baikan?
Me : iya
Adiba : cari udara segar yukkk
Aku membaca pesan adiba penuh tanda tanya, meskipun adiba baik, bukan berarti aku gampangan di ajak keluar malam.
Me : sorry gak bisa
Adiba : oky dech
Aku berjalan kearah kasur yang empuk, tak seperti punyaku di kamar.
Irtifa yang sedang rebahan sambil main hp sedikit terpental keatas setelah aku menjatuhkan tubuhku di atas kasur.
“yang kalem donk” ucapnya yang mungkin terusik.
Ya malam ini kami tidur bertiga, dengan posisiku yang ada di antara mereka berdua.
🌊🌊
Di bawah langit biru, yang memantul dipermukaan lautan, kami berkumpul di atas pesisir putih, adiba sebagai ketua pelaksana mengkoordinasikan mereka, membacakan agenda hari ini sampai besok
hari ketiga di sini.
Setelah itu kami menyebar sesuai dengan
kelompok kami, berkeliling menikmati pulau-pulau kecil menggunakan perahu dayung, kami ingin menikmati dengan santai jadi tidak menyewa Speedboat.
Aku yang awalnya terpesona oleh keindahan lautan raja ampat, mendadak harus menjadi fotografer.
“gue juga” ucap aggy, sambil memberikan
ponselnya.
Aku hanya menghela nafas.
“Jangan lupa tarifnya” Kata ku bercanda,
Setelah puas menikmati kami langsung menepi, terik matahari yang panas membuatku ngilu, tadi biasa saja, tapi lama-lama pusing juga setelah mengapung di atas air, para siswa lainya
menikmati liburan nya, ada yang menyelam, dan bermain di atas air.
“rugi dech kalau ajak fatin liburan”
ucap irtifa, aku yang mendengar hanya menunjukkan gigi-gigi rapi ku, namun sebentar karena seorang pemuda memakai kemeja putih menatap kearah kami. Aku menundukkan
kepala, sebelum melewati nya.
❤❤
tak terasa study tour kami sudah menginjak di hari ke tiga, dan nanti malam sudah check out untuk bandara. irtifa sudah pulang dahulu tadi pagi bersama Wildan, karena keduanya sama-sama punya kepentingan mendadak.
ku ayun ayunkan kakiku, memandang air laut yang jernih dan tenang, bahkan aktivitas ikan didalamnya terlihat jelas. sedikit aku memandang sekitar, memastikan ada seseorang yang menatap ke arahku.
mungkin perasaanku..
batinku, beberapa hari aku merasa ada yang memperhatikan ku. aku hanya merasa takut saja, apalagi ini di tempat asing, kita tak tau jika ancaman datang, atau ada niat buruk terhadap kita.
aggy yang katanya pergi untuk beli es kelapa muda juga belum datang. padahal sudah satu jam lebih.
senja juga telah menyapa, warna jingga itu memantul indah di atas permukaan lautan, angin sore juga menghembus pelan, sehingga aku merapatkan switer dari ibuku.
"ya Allah.. " sentak ku. aku hampir terjungkal ke laut.
bagaimana bisa adiba sudah berdiri di belakangmu, bahkan aku tak mendengar suara langkah kakinya.
"hemm, sorry" ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah melihat pelototan ku.
"kau bikin jantung an" kataku, sambil melanjutkan langkah.
"fa, ada yang ingin ku bicarakan" ucap adiba. menghentikan langkahku.
"tapi di sana" ucapnya lagi sambil menunjuk ujung jembatan kayu.
tanpa bertanya aku mengikuti langkah adiba, hal penting apa yang ingin di bicarakan. bukannya di mana pun bisa.
setelah langkah kami saling berhenti. adiba menatapku, dan aku menangkap tatapannya yang tak biasa, ada suatu yang ingin di ucap akan tapi tersirat rasa keraguan di dalamnya.
"aku ingin mengatakan sesuatu... aku.. "
"jika yang kau katakan itu, mempengaruhi pertamanan kita tolong jangan katakan" ucapku spontan memotong, karena hatiku mengatakan ini bukan suatu hal menyangkut urusan organisasi.
"aku pergi, ini sudah sore, dan aku belum siap-siap" kataku, sambil melangkah. mungkin ini sedikit tidak menghargai adiba... tapi, aku belum siap mendengarkannya saja.
belum jauh ku melangkah.. sebuah kalimat yang mengalun bersama angin sepoi sore itu masuk kedalam indra pendengaran ku...
ku pejamkan mataku, aku tau selama ini sikap kepadaku... menunjukkan bahwa ada sebuah rasa..
"maaf" satu kata yang terlontar itu, mengawali langkahku kembali. semoga dia mengerti..
Sudah jauh ku melangkah, meninggalkan adiba sendirian...
mungkin ini kejam, tapi itu keputusan yang tepat...
"maaf" kataku lagi, pada orang yang ku tabrak karena langkah tergesa.
sebelum mataku menangkap orang yang ku tabrak, dia melangkah pergi begitu saja.
Bersambung...
❤❤❤