
ini jam berapa?
pertanyaan pertama yang tersirat di pikiranku, aku mengerjapkan mata menatap platfon putih kamar yang tak asing. rasanya kepalaku sedikit pening. aku langsung duduk ketika mengingat kejadian yang terlintas di kepalaku.
ini di kamar, mungkin aku ketiduran dan memimpi. batinku, namun peristiwa itu terasa nyata untuk ku anggap sebagai mimpi.
kak nidhom datang dari arah pintu membawa segelas susu. aku menatapnya ketika dia duduk di pinggir ranjang dan meletakkan gelas di atas nakas.
"sudah lama bangun?" tanyanya.
aku hanya mengangguk, dan memosikan duduk dengan nyaman.
"minumlah" katanya sambil menyodorkan gelas itu. entah mengapa dia tiba-tiba memperhatikanku. dia tidak sedang mencuri hatiku kan dengan perlakuannya?
"makasih" ucapku, dengan ragu aku mengambi dan meminumnya. namun tanpa aku sadari mataku menatapnya hingga susu dalam gelas tandas.
"apa masih pusing"
aku hanya mengangguk patuh. namun dengan cepat otak ku bekerja. menanyakan tentang apa yang sedang terjadi dalam mimpiku, antara nyata atau mimpi.
"apa yang terjadi, kenapa kepalaku pusing?" tanyaku.
"sudahlah lupakan, masih terlalu dini untuk bangun" ucap kak nidhom sambil membantu ku tidur, sungguh aku sangat tak nyaman di perlakukan seperti itu, aku tidak dedang sakit untuk di perhatikan.
kak nidhom menatapku setelah membantu menata selimut yang sedikit berantakan. mau tak mau aku memejamkan mata dari pada malu karena ditatapnya.
**
tadi malam tidurku nyenyak, hingga jam menunjukkan pukul lima aku baru bangun. aku segera melangkah ke dapur untuk membuat sarapan pagi. namun hal yang membuat syok bagaimana orang dingin dan cuek itu tengah membawa sebuah piring dari dapur dan menuju ke meja makan.
aku tercengak dalam diam, berdiri menatap kak nidhom yang meletakkan piring di meja.
"hay"
sebuah suara dan lambaian tangan menyadarkanku.
"kau makan tidak?" sebuah penawaran dengan pertanyaan yang tak tahu arus ku jawab apa.
"hmm apa boleh?" tanyaku ragu, kenapa jika di dekatnya hawanya jadi kaku dan janggung padahal kemarin aku baru berbicara panjang tanpa rasa ini. sudahlah aku tidak mau mengingat kemarin..
kak nidhom hanya menjawab dengan mengangguk. aku segera duduk di kursi di depan piring yang sudah berisi sebuah omlet telur, dari baunya masakannya enak, tapi entah dengan indra pengecap ku. aku belum yakin masakan pria seperti kak nidhom sesuai deng ekspetasi dari penampilan dan harum, tapi kita coba dulu...
hampir aku menjerit ketika menelan sesendok omlet yang baru ku kunyah. tanpa sengaja aku menatap suamiku sengan senyum mengembang.
"kakak pandai masak, ini benar enak, aku pertama kali makanan se enak ini" ucapku meluncur begitu saja.
namun aku segera membungkam ketika kak nidhom menghentikan makannya dan menatapku sejenak.
"makasih" ucapnya, aku hanya senyum dan melanjutkan sarapan pagi kami dari hasil karya suami dinginku...
***
hari ini entah dia sedang kesambet setan apa?, atau hidayah dari mana, kak nidhom mengantarkan ku kuliah, meski hanya sampai jalan masuk kampus.
"makasih kak" kataku, sambil mengambil tangannya untuk ku cium. tanpa sadar senyumku kembali mengembang. serasa hari ini bunga sakura di jepang sedang berhamburan di atas kepala.
aku melambaikan tangan ketika kak nidhom menjalankan mobilnya, meski lambaian tanganku tak terbalaskan.
"hayo, siapa yang antar kamu"
suara aggy yang muncul di koridor kampus membuat aku terkejit. aku pura-pura tak mengerti.
"maksudnya"
aku diam sejenak mengingat hal tadi, aggy tak tahu pernikahan ku. dan aku juga belum ingin cerita.
"ohh, tadi di barengin"
"siapa?"
"oh tetanggaku" jawabku.
"oh tetangga ya" kata aggg, terdengar menggodaku. aku segera melenggang meninggal kannya.
semenjak irtifa tahu aku, kami sering ketemuan di kantin, foto bertiga dan meng-upload di grup untuk mengejek wildan di Singapura. namun tak lama wildan menyerang balik dengan foto cewek bule **** si yang katanya teman kelasnya.
group squad bar-bar
aggy : pepet terus tu cewek
wildan: boleh juga.
irtifa: mah buaya, lihat cewek dikit jlalatan aja tangannya.
wildan:@irtifa ge cemburu ya beb
irtifa: sorry bukan level gue buat cemburu.
me:π²π¨π²π¨
aku hanya mengibarkan bendera untuk mereka.
"fa, nanti aku main kerumah lo ya" ucap irtifa di tengah kesibukan kami, aku yang makan bakso terpaksa di keluarkan karena tersedak.
"hmm kamu mau kerumahku?" tanyaku, namun pikiranku mencari sebuah solusi untuk menolaknya.
"eh, tadi aku mau ajak fathin kerja kelompok sama aku ir"
"bener fa" tanya irtifa dengan raut wajah kecewa.
aku sedikit menatap aggy, padahal hari ini tidak ada tugas apalagi kerja kelompk" tapi tak apa ucapan aggy menyelamatkan aku meski tak tau apa motifnya.
"makasih ya ggy" kataku pada aggy saat kami berada di basemen kampus.
"untuk" tanyannya.
"ya makasih pokoknya" ucapku.
"bareng gue?" tanya aggy
aku menatap aggy yang naik motor trelnya.
"nggah ah gy" ucapku. gak membayangkan aku di gandeng aggy dengan motor se gedhe gitu.
akhirnya kami berpisah dan aku segera menuju halte dekat kampus.
"hay,," entah sejak kapan mobil berhenti di depanku.
dan sang pengemudi mendongakakan kepalanya keluar menatapku...
bersambung...
jangan lupa vote komen dan likeπ₯°π₯°