I'M On Your

I'M On Your
Chapter 42



Aku segera memutuskan kontak mata, sedikit memikirkan mengenai tatapannya. Yang menunjukkan bahwa tatapan itu seolah mengenalku. Aku tak tau dia, apa aku pernah ketemu di suatu tempat.


Bus berhenti, pria berjaket hitam itu bergegas turun di salah satu halte, namun mataku menangkap sebuah dompet yang tergeletak di kursi samping.


"Mas dompetnya jatuh"


Namun keburu Bus jalan, dan kulihat dari balik kaca pria itu sudah menghilang dari halte, seharusnya dia di situ. Cepat sekali orang itu menghilang.


Ku buka dompet yang kutemukan dan mencari identitas pria tersebut beserta nomer yang dapat di hubungi jika itu ada.


"Kevin mario" Kataku melihat identitas pria itu dari kartu pelajar, di dalamnya terdapat uang tiga lembar seratusan dan ATM, dan sebuah kartu Identitas. Aku segera mengetik nomer tersebut dan menghubunginya.


Berharap pria itu mengangkat agar dia tidak terlalu jauh perginya. Namun sayang nomer itu tak berdering, dan suara operator menjadi penutup telfon ku.


Me : dompetmu tertinggal, dan saat ini di tanganku, jika anda sudah membaca tolong hubungi saya.


Pesanku, terkirim pada nomer orang asing.


kemudian aku melangkah ke dalam kelas, di kursi yang selalu kami duduki, aggy sudah berada si sana.


" tumben berangkat terlambat"


aku melirik jam tangan yang menunjukkan bahwa jam kuliah kurang lima belas menit lagi.


"aku terlambat, tidak akan sampai level terlambat mu di waktu SMA"


jawabku membuat aggy hanya nyengir kuda, ku harap giginya tak kering.


***


seusai jam kuliah, aku membuka ponsel yang sejak tadi dalam mode silent. beberapa pesan masuk, dan salah satunya dari pria asing tadi pagi yang menjatuhkan dompetnya.


+62*** : makasih mbak, bisa saya ambil sekarang


pesan tersebut sudah terkirim dua jam lalu, aku segera membalas ketika nomer itu pada kondisi online.


me :oky mas, ini mau ketemuan di mana ya?"


+62**: di cafe green, sya tunggu


"gy, kamu duluan, aku mau balikin barang sang pemilik dompet"


"gue anterin lo fa"


"gak usah, lagian udah malam"


"ya karena malam itu gue anterin lo"


aku tersenyum simpul pada aggy.


"makasih, tapi lain kali kebaikanmu aku terima .


tak lama abang ojol datang di depan. aku segera naik dang melambaikan tangan pada aggy.


tak butuh lama untuk sampai di cafe green. di sebuah meja sudut ruangan ku temukan sosok pria dengan jaket yang sama di bus tadi, dengan segera aku menghampiri.


"assalamu'alaikum "


pria yang bernama kevin itu terdiam sejenak, kemudian baru menjawab salamku.


"silahkan duduk " ucapnya.


"terimakasih, saya tak lama " kataku sambil mengambil dompet pria tersebut.


"saya akan mentraktir mu atas ucapan terimakasih telah mengembalikan dompetku"


aku segera memberikan dompet sang pemilik. dan dia segera mengecek isi nya sebentar dan mengeluarkan uang tiga ratus tersebut.


"kalau tidak mau traktiran ku terima uang ini sebagai gantinya"


"baiklah, tapi lain kali terima traktiran ku, atau kita bisa berteman"katanya dengan senyum tulus.


aku hanya mengangguk karena tak enak menolak tawaran nya beberapa kali.


setelah tak ada keperluan lagi aku segera pamit dan menghampiri? bang ojol yang sedang senang tiasa menungguku.


sudah hampir jam sembilan aku sampai rumah, hal yang ketemukan saat ini adalah sepi, karena penghuni rumah sudah pergi ke kamar masing_masing, tentu aku melewati jam makan malam.


sebelum aku masuk ke kamar aku lebih dahulu mampir ke dapur, meletakkan tas ku dimeja dan mencari makanan seadanya.


"huh, sungguh lapar"


kataku sambil mengelus perutku yang berisi para pendemo. malAm ini tidak ada sisa makanan tadi malam. didalam kulkas juga hanya terdapat roti tawar dan telur.


mengingat tolakan traktiran orang yang bernama kevin sedikit membuatku menyesal. tapi sudahlah roti bakar dengan toping telur ini sudah cukup menyuap para pendemo di perut ku.


"kau sudah pulang sayank" suara nenek yang muncul tiba-tiba membuat aku jantungan saja.


"hmm, iya nek" jawabku. ku lirik nenek yang mengambil air dingin di kulkas.


"nenek pesankan makanan, " katanya setelah melihat ku.


"ini sudah cukup nek" tolakku sambil mengangkat pring kotor.


" sungguh"


"iya" jawabku sambil mengangguk.


"kalau gitu nenek balik ke kamar"


setelah mencuci piring aku segera menaiki tangga, dalam perjalanan membayangkan kasur empuk itu membuat langkahku semakin cepat.


aku lelah dan aku ingin cepat istirahat. namun ketika pintu ku buka. pria yang beberapa minggu ini mendiami ku tengah bersandar di atas sana.


akhirnya dengan pandangan menunduk aku masuk.


tak biasanya dia berada di kamar jam segini. kataku dalam hati.


"dari mana jam segini bari pulang" suaranya yang ngebas itu membuat aku menatapnya sekilas.


"kuliah" jawabku.


"aku tau betul jadwal terakhir perkuliahan"


aku hanya diam meletakkan tas ku di sofa.


"fathin,..!" panggilnya, lebih tepatnya sebuah bentakan.


"aku, makam dulu di dapur" jawabku, sebenarnya hati ku sebal, tapi aku tak punya keberanian untuk protes.


"makan tak membutuhkan waktu hampir dua jam,"


"dan perjalanan pulan jiga tidak membutuhkan waktu selama itu" lanjutnya


aku menghela nafas.


"seberapa lama waktu pulang dan makan itu tak ada kaitannya dengan kakak" jawabku.


kulihat wajah kak nidhon yang dingin menatapku, mulut ku, seharusnya tak bicara seenaknya.


kini aku jadi takut sendiri ketika kak nidhom berdiri, melangkah menghampiriku.


aku sekarang yang menjadi ketakutan, apalagi langkahnya semakin dekat dengan tatapan ingin memakan ku bulat bulat,


"maaf" kataku terlontar, dengan mata menutup ketika sebuah tangan melayang ke udara...


bersambung....