
Tidak ada yang salah dengan cinta...
Bahkan yang pernah merasakan tak mampu untuk mengelak,
Biarpun logika berkata tidak, hati tak dapat dibohongin nya..
Namun tak selamanya kita membenarkan kata hati...
Dan mengikutinya semaunya...
Ada kalanya logika bertindak...
Memikirkan keputusan apa yang tepat?
Untuk diriku, untuk mimpiku...
Dan tentu maaf atas rasa yang tak terbalas...
🌻🌻
Semenjak pulang dari raja ampat Kau dan aku bagaikan dua orang manusia yang tak pernah dekat, padahal keputusan itu semata untuk menjalin hubungan kita terjaga.
Memaknai hubungan yang sebatas status antara kau dan aku hanyalah sebuah kesia-siaan, bila takdir berkata lain, entah esok atau saat ini kita tak pernah tau. Tolong hargai keputusanku, dan kembalilah seperti sedia kala..,
Seperti kau tak pernah berkata,"izinkan aku mencintai mu"
" Fa, sejak kemarin pulang tour, aku merasakan bahwa kau dan bapak ketua lagi ada masalah ya"
Pertanyaan yang terlontar dari bibir tipis irtifa, mengingatkan aku pada kejadian itu.
"Perasaanmu saja kali" Jawabku tak bersemangat. Akhir-akhir ini aku sangat sensitif jika mendengar kata adiba. Ya tidak ada yang salah dengan orang itu. Mungkin aku yang sedang bermasalah dengannya.
"Atau kalian... "
"Apa memang? " Tanya wilda yang penasaran. Manusia satu memiliki rasa keinginan tahunya sangat besar, sama seperti tetanggaku samping rumah.
" Atau kamu dan adiba lagi berantem ya fa" Tebak Wildan, yang mengurungkan niat irtifa berbicara.
"Udah dehh... Tebakan mu gak ada yang benar, hanya filing seorang wanita yang tau.. Menurutku Fathin sama adiba ada sesuatu.. Yang jelas ini masalah hati.. Iyakan fa"
Ucapan irtifa membuat ketenangan ku tergoncang,
Brakk
Seumur hidup baru ini aku menggebrak meja, menatap irtifa dengan tajam seolah mengatakan tolong jangan bicara lagi. Semua yang ada di dalam terkejut, dan menatap ku.
" Maaf " Ucapku, langsung pergi.
Tadi aku tak bermaksud marah, apalagi sampai gebrak meja, hatiku yang tersulut akan perasaan yang tak nyaman membuat diri ku tak terkendali.
Ting
Sebuah pesan masuk kedalam ponselku. Ya itu grup WhatsApp anggota OSIS.
Diberitahukan pada seluruh anggota OSIS untuk berkumpul di kantor
Terimakasih🙏🙏
TTD
KETUA OSIS
Ku hela nafas untuk menenangkan diriku, dan kemudian melangkah ke Kantor OSIS. Sampai sana aku segera masuk kedalam, adiba yang awalnya berbincang di depan seseorang. Kini mataku menatap manik hitam orang yang selama ini diam-diam mengisi relung hatiku.
Kenyataan yang belum lama aku ketahui, dan aku baru tahu setelah resmi masuk jadi bagian OSIS. Bahwasanya dua pemuda di depan mataku masih saudara dekat, adiba adalah anak pemilik yayasan dan kak akhza merupakan cucunya.
Sebuah telapak tangan menyentuh bahuku, menyadarkan diriku bahwa aku masih mematung di dekat pintu.
"Ayok fa kita duduk, jangan mematung di dekat pintu" Ucap irtifa, orang yang menyentuh bahuku tadi.
Aku hanya mengangguk dan mengikutinya.
Hari ini kak akhza selalu pembina kami, meminta laporan kegiatan selama periode ini. Karena sebentar lagi kita akan mengadakan pilkada. Pemilihan ketua dan wakil OSIS untuk periode selanjutnya. Tak menyangka waktu begitu cepat, baru kemarin aku ikut MPLS, dan bentar lagi lulus.
Setelah rapat tadi, aku dan irtifa langsung pergi kekantor. Temanku yang satu ini memaksa untuk ajak makan di kantin, meski aku masih dalam mode marah padanya. Kami memilih duduk di pojok kantin menikmati bakso telur kesukaan irtifa.
"Aku maaf ya fa atas sikapku tadi" Ucap irtifa membuka pembicaraan. Aku masih diam, bukan marah tapi mulutku masih mengunyah daging empuk yang berurat itu.
" Sudahlah, jangan bahas lagi" Jawabku setelah menelan bakso.
Mata irtifa mengerjap-ngerjap ucu. Seolah ada sesuatu yang ingin ia ketahui dari aku. Meski kami berteman tapi kami jarang curhat sesuatu hal yang bersifat pribadi.
" Kita berteman lama fa, dan tadi aku hanya ingin kamu jujur saja sama kita. " ucap irtifa.
"Aku tau itu, meski kita teman, tapi ada kalanya kita butuh privasi, ir"
Gadis manis depanku itu hanya mengangguk.
" Seperti halnya diri mu dengan adiba" Lanjut ku, yang tadinya irtifa makan cantik baksonya kini terbatuk batuk. Ku sodorkan minuman ku, karena minumannya telah tandas.
"Dari mana kau tau? " Tanyanya.
"Hanya filing seorang wanita" Jawabku, yang malah membuat irtifa terkekeh.
"Baiklah, hari ini aku akan membocorkan satu fakta padamu" Kata irtifa berjeda sesaat.
" Namun kau harus menceritakan kejadian apa yang terjadi di raja ampat, setelah aku pulang.. Oky" Katanya yang lebih tepat seperti sedang tawar menawar.
"Apakah kamu dapat dipercaya? Pertanyaan ku membuat kening irtifa berkerut. Namun tak lama sebuah tangan mungil mendarat di lenganku.
"Fathin, perkataan mu jahat sekali... " Teriaknya kecil. Aku hanya tertawa kecil.
"Baiklah, mulutku bisa menjaga rahasia, bahkan rahasia negara pun aman jika ditangan ku," Ucapnya sambil memperagakan mengunci mulutnya.
" Kamu duluan yang cerita" Kataku pada akhirnya.
"Baiklah,..., sebenar nya aku dan adiba dulu pernah pacaran"
"Sudah ku tebak.. " Potong ku pada cerita irtifa, yang membuat dia melototi ku.
"Oky lanjutkan" Ucapku kembali.
Irtifa pun menceritakan tentang kisah cinta monyetnya, bagaimana dia bisa pacaran, dan yang pasti bagaimana bisa putus. Aku sebagai pendengar setia hanya mengangguk.
"Gitu dech.. " Ucap irtifa mengakhiri
"Kau tak cemburu kan fa? " Tanya irtifa padaku.
"Untuk? " Tanyaku,
"Ya karena kami punya hubungan"
Jawaban irtifa membuat aku tertawa kecil. Dia pikir aku sedang punya perasaan dengan adiba.
"Terus bagaimana ceritamu di raja ampat? "
Pertanyaan irtifa membuat aku menghela nafas, bagaimanapun aku harus menceritakan karena dia sudah membuka satu fakta padaku. Akhirnya aku ceritakan kejadian tersebut pada irtifa.
"Kenapa kau tolak fa? " Tanya irtifa setelah mendengar cerita ku.
"Yang pasti aku tidak ingin pacaran, aku butuh fokus belajar, dan bagi ku itu hanya merepotkan" Jawabku seadanya,
mana mungkin bilang kalau aku tidak menyukai adiba, bahkan adik kelas pun banyak yang mengidolakan nya. Aku tau, jika dibandingkan adiba aku bukan apa-apa. Dia anak pemilik yayasan, dia tampan, kaya, dan pandai, supel pula. Jika di nilai dari fisik semua terlihat sempurna, tapi hati tidak bisa di paksa. Seberapa dia terlihat sempurna tapi aku tidak bisa memaksa hatiku untuk menyukainya, itu saja.
"Lalu.. Siapa yang kau harapkan? Ku pikir adiba! "
Aku hanya diam mendengar pertanyaan irtifa.
"Ayolah fatin, ... "
"Itu...! "
Bersambung
JANGAN LUPA LIKE , KOMEN DAN VOTE❤❤