I'M On Your

I'M On Your
Chapter 17



🌧🌧


Masih di musim penghujan, kebiasaan irtifa jika di antar sang kakak, dia akan menjemput ku juga. Hal menjadi catatan kecil, irtifa yang tak pernah turun dari mobil, menjadikan aku buah bibir para tetangga sebagai bahan ghibah mereka. Kali ini aku jadi trending topik. bakal terkenal juga ni hahaha


setelah mbak monika.


Aku yang di antar pacar tajir lah,  aku yang gonta-ganti cowok lah. Intinya semua


tidak ada baiknya ketika itu.


“ pulang bareng lagi yuk fa, tadi berangkat bareng” ucap irtifa menawariku tumpangan.


“bareng abang wildan juga boleh” timpal wildan.


Aku hanya diam, enggan untuk menjawab celotehannya.


“depan rumah gue, keluar dari mobil ya”


Pintaku, membuat irtifa tersenyum mengejek.


“sekali-kali aku bantu ringan kan beban dosamu lah fa, hhhh”


Huhhh…, benar juga sich, tapi nambah


dosa orang kan ya gak baik, apalagi itu bukan ghibah melainkan fitnah..


“gak malah tambah transferan dosa ya..”


kataku


“gue ikut tanggung ajalah, tanggung


pahalanya aja,,”


“tanggung dosa gue aja, jika masih


kosong dosa low” timpal aggy.


Ku pandang aggy sekilas, ada hal baru dari satu temanku ini yang baru kusadari, ia memotong rambutnya dengan model cowok, hingga kadang ketika wajahnya tertelungkup di atas meja, kadang aku mengira itu wildan.


“yuk” ajak irtifa sambil menarik tanganku dan mengabaikan aggy.


Sampai depan gerbang aku dan irtifa segera masuk, dan tak lupa menyapa ayah irtifa yang baru selesai kerja. karena terlihat masih menggunakan jas.


“fa, rumah siapa tu kok rame, kayak pengkolan ojek motor, eh mobil juga ada” tanya irtifa setelah mobil berhenti di depan rumahku.


“kak monika, dulu lulusan sekolah kita juga, katanya dulu primadonanya sekolah kita masa itu”


“ohhh, sekarang primadona sekolahnya ganti aku hahaha” Timpal irtifa membuatku menyunggingkan


senyum tipis, tapi tidak mengandung gula.


“takut dach gue”


jawabku, sambil membuka pintu.


“makasih om, hati-hati ir” ucapku


setelah keluar. Disusul mobil yang melaju meneruskan perjalanannya. Sebelum berjalan ke halaman rumah tak sengaja ibu tetangga lewat dengan menggunakan sepeda ontel dan berhenti di


depanku.


“mbak fatin kalau sama temen cowoknya main halus, kayak mbak monika tu terang-terangan” sindir wanita yang seumuran ibu ku. Ku tatap sekilas halaman rumah mbak monika yang padat kendaraan tentu hanya motor dan mobil, tidak ada bus apalagi pesawat, gak muat juga.


“mungkin tingkatannya masih belum mampu kalau


kayak mbak monika bu” jawabku, kemudian langsung nyelonong jalan. Meladeninya akan semakin membuat jengkel saja.


🌞🌞


Sepulang sekolah setelah mandi dan sholat dhuhur aku langsung tidur siang, dan tak terasa sekarang sudah pukul tiga. Perutku yang belum ku isi apapun setelah pulang sekolah berkokok, para cacing berdemo minta di kasih makan.


Dengan malas aku turun ranjang, melangkahkan kaki ke pintu dengan pelan. Hal yang pertama kulihat ketika membuka pintu adalah jari tangan Fathan yang siap mengetuk isi kepalaku.


“ehh,, udah bangun mbak, makan yuk, aku udah beli bakso nanti keburu dingin” ucapnya. Aku hanya mengangguk pelan, mungkin nyawaku belum sepenuhnya terkumpul. Bukanya keluar aku malah kembali masuk, menghampiri jilbabku yang bergelantung di dekat pintu. Sedikit ku sibak


tirai yang menutupi jendela kamar. Karena jendela menghadap halaman depan jadi terlihat jelas rumah tetangga di depan sana yang masih ramai.


“mbakk,, fatin ayo makan, tak tinggal nanti kamu”


Teriak Fathan dari dapur.


Aku segera berjalan ke meja makan sebelum


jatah bakso ikut dilahap Fathan juga. Mataku tertuju mangkuk yang di atas nya sudah terdapat bulatan bulatan daging kesukaan ku, tumben perhatian sekali adik ku.


“ kak, nanti buatin aku puisi romansa ya” ucapnya bersama dengan seonggok daging yang siap aku lahat, tapi ku urungkan niat. .


Pujian baik dalam hatiku pada adikku segere aku ralat.


Hmmm ternyata ada maunya,,,


“buat apa? Kalau bukan tugas sekolah, gak bisa aku..”


“plisss mbak, tolong,,, sekali ini


saja”


Katanya memohon, dengan memegang


tanganku yang masih menggenggam sendok.


“oke dech, tapi kasih tau buat apa?”


Ucapku sambil menggerak-gerakan alis


sebelah sambil menunggu jawaban adik ku tersayang.


“hemm, tadi Kayla yang minta tolong ke aku, tapi aku kan gak pandai buat puisi romansa” ucapnya ragu, apalagi gaya fathan menggaruk kepala yang bikin aku ingin tertawa.


“Kayla siapa? Jangan bilang udah berani


pacaran anak orang ..”tebak ku.


“enggak kak suerr, itu loe gadis sd, tetangga baru kita, yang rumahnya gede”


“ohhhh” kataku mengangguk-angguk paham,


namun mataku langsung menatap fathan curiga. Entah mengapa aku posesif sekali pada adikku, seolah adikku adalah anak gadis yang harus ku jaga dan dilindungi dari keganasan remaja labil jaman sekarang, padahal aku juga masih labil.


“awas kalau sampai aneh-aneh,,,ancam ku.


Mangkok yang berisi bakso yang tertunda masuk kedalam mulutku, langsung ku lahap.


“kak, aku berangkat…” ucap fathan.


Aku yang mencuci piring kotor dari dapur segera mengiyakan. Jam juga sudah menunjukkan pukul empat sore dan fathan harus menjemput ibu karena tak bawa sepeda.


Dengan santai aku berjalan kearah kamar dan melewati ruang tamu. Kakiku berhenti, setelah mataku menangkap bayangan seorang di tengah pintu.


“mbak monika..” ucapku  seperti orang baru saja melihat hantu tapi langsung reflek menyebutkan namanya setelah melihat orangnya.


“maaf fathin, bila mengejutkanmu” ucap


mbak monika,


wanita cantik, yang menurutku terlihat sempurna bak model yang berjalan di Catwalk. Ya, memang mbak monika seorang modeling, kemarin aku baru tau fotonya di majalah fashion, sebenarnya sejak kapan tetanggaku ini seorang model.?


sebenarnya wajar , karena mamanya seorang desainer pakaian, jadi jika anaknya jadi seorang modeling, tapi heran ku temanya kok para cowok yang notabennya para pembalap.


“fathin, itu bunga di belakang rumah di


jual gak?” tanyanya.


“iya mbak” jawabku.


Memang ibu menanam bunga untuk di jual


selain bunga yang ku tanam, yang kubiarkan berguguran kelopaknya.


“tapi kulihat dulu aja mbak, sapa tau


ibu sudah memotongnya tadi pagi” kataku sambil berjalan keluar dan di ikuti


mbak monika.


Saat sampai ke kebun kecil keluargaku


kami berhenti, tanaman bunga mawar ibu sudah di panen tadi pagi dan aku baru


ingat.


“maaf mbak, sudah di panen” ucapku


sambil menghadap mbak monika yang tadi di belakangku.


“itu masih ada” ucapnya..


Yang membuat perasaanku gak enak,


ku tatap arah pandang mbak monika pada segerombol bunga mawar putihku.


“itu,,,”


“fathin ini penting, aku tau kamu gak akan jual bunga kesayanganmu itu, tapi untukku satu kali saja”


Ucapnya memotong perkataan ku tadi, aku


baru tau sikap manis tetanggaku ini, yang biasanya terlihat perfek dan judes pada tetangga yang suka ghibahin dia.


“hmm, gimana ya mbak” kataku


“plist dech satu kali ini, jual buat gue ya” kata masih membujuk.


“kenapa mbak monika gak ke toko akong aja”


“sudah, tapi habis fathin, kali ini jual ke gue ya, sedikit berbaik hati ke gue fathin sebelum ku tinggal ke paris” ucap mbak monika.


Sebenarnya gak ada hubungannya antara


aku jual bunga ke dia sama dia mau pergi ke paris.


“iya dechhh” kataku.


“hehehe, makasih ya”


“berapa tangkai kak?” tanyaku, namun di


dalam hatiku berharap dia tidak membutuhkan banyak bunga.


“25 aja sayang” ucapnya setelah


melihat tanaman kesayanganku, mungkin dia sedang memperhitungkan ada berapa


tangkai bunga tersebut.


“baiklah” ucapku tak semangat,


Bunga mawar putih bagaikan sebuah


harapanku, ketika ku potong itu rasanya seperti memutuskan sebuah harapanku,


jadi mellow kan aku..


Setelah mengiyakan untuk menjual bunga


kesayanganku karena kepentingannya, mbak monika langsung pulang. Dia meminta ku


untuk mengantarkan kerumahnya setelah merangkai jadi booklet. Mengerjakan


pekerjaan itu bukan sebuah yang sulit, karena peralatan sudah ada. Biasanya ibu


sering membawa pekerjaannya merangkai buket bunga pesanan di rumah. Hal yang


sulit itu memotong bunga kesayangan ku itu, berat sungguh berat seberat rasa rindunya dilan ke milea kali ya…


Dalam waktu lima belas menit, mawar putih kesayanganku terangkai cantik dengan balutan kertas cellophane berwarna gold yang memberikan kesan mewah.


“malu gak ya aku ke sana” monolog ku.


Setelah melihat halaman rumah mbak monika masih ramai, meski tadi aku melihat


beberapa motor keluar dari gerbang rumah mewah yang bergaya eropa tersebut.


Sempai depan gerbang aku berhenti, namun mataku menelisik masuk kedalam mencari keberadaan  wanita yang berprofesi sebagai modeling


tersebut. Inginku chat atau telfon kami juga tidak saling bertukar nomer ponsel, seharusnya tadi aku memintanya.


Seorang pria yang duduk di teras rumah


masuk kedalam setelah melihatku. Dan tak lama orang yang ku cari keluar dari pintu besar itu.


“hey, kenapa gak masuk saja” katanya


setelah dekat denganku.


“gak usah mbak, banyak orang” kataku,


yang membuat mbak monika tersenyum, tentu meningkatkan level kecantikannya, pantas banyak para emak-emak suka nyinyir, mungkin iri kali. Apa daya ku yang kucel bila berdampingan di sampingnya.


“makasih banyak kalau gitu” ucap kak


monika, sambil mengambil buket di tanganku.


Bukanya menanyakan harganya, kak monika


malah memberikan uang di saku kemejaku, lalu dia melangkah masuk kerumahnya.


“kak ini kebanyakan..” kataku sambil mengikuti langkahnya.


“gpp buat kamu saja” ucapnya sambil tersenyum, di senyumin lagi dech aku. Ku tatap empat lembar uang seratus ribuan dengan senyum, orang kaya mach bebas mau kasih berapa asalkan tak merugikan.


Aku segera melangkahkan kaki ku keluar pagar sebelum jadi dilihat banyak orang, namun langkahku berhenti sampai depan jalan sebelum menyeberang, menoleh kebelakang sesaat,,,


Mungkin Cuma perasaan ku saja,,,,


Batinku berkata, namun langkahku berjalan kearah semestinya..


Bersambung…


jangan lupa vote😘😘