
“ aku menyayangimu…” katanya dengan
senyum paling tulus yang pernah aku lihat.
“terimakasih tante, “
Jawabku, aku tak tau jawaban apa yang harus ku katakana.
🍒🍒
Hal yang paling enak menjadi anak beasiswa di sekolah SMA ****, adalah tidak membayar spp, bila ada kegiatan tidak ikut iuran, dan jika ada kegiatan studi tour, gratis sekaligus dapat uang saku.
Jadi aku sedikit meringankan beban ibu. Sudah ku persiapkan segala kebutuhanku. Tour tahun ini, keluarga besar angkatan ku serentak akan ke pulau papua, yaitu raja ampat pilihan yang tepat untuk berlibur dan belajar. Selain itu beberapa dewan
guru dan sebagian staf sekolah yang terpilih ikut menemani kami, Cuma saja beda rombong. Tak lupa keluarga pemilik yayasan juga ikut serta.
Namun karena jurusan IPS dan IPA jika dijadikan satu ada sekitar 12 kelas jadi mungkin akan berpencar sesuai jadwalnya. Dalam satu bus diperuntukan dua kelas dua orang penangung jawab. Entah itu sebuah kebetulan atau di sengaja, kelasku satu bus dengan kelas adiba. Memang sich keputusan kemarin bahwa satu bus di campur IPA
dan IPS, hal ini untuk mengikis jarak perbedaan di antara kami.
Karena anak IPA dan IPS sering berkompetisi dari segi bidang apapun. Jadi hawa hawa permusuhan masih melekat, meski yang mengayomi dalam satu lembaga.
Ku tatap sebuah boks yang berada di atas meja belajar. Setangkai mawar putih terselip di bawah ikatan pita berwarna gold. Siapakah orang yang memberikannya. Fathan tak mungkin, ya tinggal
satu-satunya penguasa rumah ini.
“pasti ibu, tumben so sweet sekali…”
kataku sambil meraih bok berwarna coklat. Ku tarik sepucuk bunga kesayanganku, dan ku masukan dalam vas kaca yang didalamnya terdapat air, dan menyisihkan bunga kering yang terpajang beberapa hari di kamarku.
“makasih ibu ku sayang”
Kataku sambil merangkul pinggang ibu dari belakang.
“ya allah fatin bikin ibu kaget, nanti kalau lauknya jatuh kamu nangis” ucap ibu yang membuat aku cemberut. Aku langsung duduk di tempatku. Hari ini menunya berbeda dari makan malam hari-hari
kemarin, ayam kremes dengan sambal bawang.
“woyyy,, ini seleraku” ucap Fathan yang baru nongol.
“sopan dikit, woyy way woyy, kayak di
jalan aja”
“heheh sorry mbak ku terjelek” ejek
Fathan.
“HHaduh teriaknya setelah kakinya ku injak.
“mbak ku cantik” ralat nya, tapi terpaksa.
“udah ayuk makan, keburu dingin, gak enak nanti” ucap ibu. Dan kami langsung tancap gas setelah berdo’a.
Ku raih gelas di depan fatah.
“mbak sih main nyolong”
Katanya setelah isi gelas raib ku telan karena kepedesan. Mataku langsung menatap tajam Fathan.
“iya dech, aku ikhlas” katanya.
Ya menjadi kakak perempuan itu, biasanya mengalah sama adiknya. Ya enggak laku buat aku, soalnya adikku cowok, jadi di pelajarin bersabar menghadapi wanita.
Alasan aja…hehehe
“bu, aku suka surprise nya.. makasih ya”
ucapku.
Ibu yang masih mengunyah makanan dalam
mulutnya hanya mengangguk.
“memang isinya apa?” tanyanya.
“ jilbab sama switer, warnanya aku suka”
“sama-sama sayang, hadiah mu. Dipakai
ya besok” ucap ibu, yang ku anggukin dengan bibir tersenyum bahagia.
“mana aku bu,,,” kata fathan.
“besok, kalau kenaikan kelas tiga masuk juara tiga besar” jawab ibu.
Yang membuat aku melet kearah fathan.
“tinggal satu langkah tunggu saja”
ucapnya sambil menatapku.
Ya ku akui meski fathan belum pernah juara 1, tapi dia menempati peringkat 4 abadi dari sd sampai SMP masih mempertahankan kedudukannya tidak mundur dan tidak maju, di situ-situ saja. Ya gak
sombong sich, beda sama aku yang membawa bakat otak sedikit encer yang di turunkan ayah padaku, dan bersyukur atas pemberian allah SWT. Meski tak melulu peringkat satu, setidaknya pernah merasakan rasanya juara 1,2 dan 3.
🍒🍒
Pagi ini, aku sudah bangun persiapan sudah selesai dari hari kemarin. Dengan memakai hadiah dari ibu. Aku cukup percaya diri di depan cermin.
“ayokkkk kita berangkat” panggil Fathan.
Segera ku tarik koper berukuran sedang dan tas punggung kecil. aku tak perlu membawa barang banyak. Mengingat chatting grup bar-bar tadi malam, irtifa dan wildan yang rempong ingin bawa apa saja sudah di list. Sedangkan aku dan aggy
malas untuk menanggapi. Hal yang penting adalah kebutuhan pokok uang saku, kamera kecil, notebook dan alat tulis, masalah admistrasi transportasi sudah di siapakan sekolah. namun aku harus berangkat pagi untuk mendata teman-temanku,
memastikan mereka semua sudah ada.
“last goo..”
Di depan rumah Fathan sudah menyiapkan motor bututnya yang siap mengantarkan ku. Mataku menyipit memandangnya, ini aku yang mau study tour atau dia, mau antar mbaknya aja, pakainya udah kayak mau apel ke rumah mantan pacar.
“tumben rapi, biasanya antar ibu pagi ke pasar pakai kaos oblong sama sarungan, apalagi ni rambut di tata rapi” kataku yang hanya di suguhi deretan gigi rapi fathan.
“ibu bilang, aku harus nunggu mbak sampai berangkat, iya kan bu” ucap Fathan. Aku hanya menghela nafas, terserah dia saja. Segera ku cium tangan ibu, yang di balas kecupan kasih sayang di
ubun-ubun ku.
motor fathan.
“mbak, kira-kira pulangnya kapan?”
tanya fathan. Belum berangkat saja sudah tanya pulang.
“takut kangen mbak ya” kataku.
“pede sekali, ya buat siap-sia jemput lah. kalau dadakan kan buat jantungan”
“gak jelas dech” kataku.
Gerbang sekolah sudah dibuka, tujuh buah bus sudah berjejer rapi membawa kami ke bandara, aku dengar sekolah menyewa pesawat khusus untuk study tour kami.
Aku segera turun dari sepeda buntut kesayangan fathan.
“ ku tunggu di situ ya mbak”
Aku hanya menjawab anggukan, adiba sebagai ketua penanggung jawab keseluruhan sudah datang. Aku segera menghampiri.
“tumben, gak bangun telat” katanya, aku
hanya mengerutkan kening.
“takut di tinggal, nanti berangkat
sendirian, bayar sendirian pula gak untung..”
"babang siap nunggu” ucapnya, yang hanya ku jawab dengan senyum lucu.
“mana data penumpang kelas kita”
ucapku.
Adiba yang membawa tumpukan absen semua
bus memberikan absen untuk kelasku.
“eh aku, minta tolong” ucapnya, sebelum aku melangkah pergi untuk bertugas.
“absen sekalian kelasku”
“huh, gak gratis”
“terus ini dena duduknya,” lanjutnya,
tanpa mempedulikan penolakan ku, kuambil lembaran kertas yang di berikan adiba. Dan bergegas kearah bus yang akan di tumpangi kelas kami berdua. Tak lama area sekitar mulai di padati para siswa kelas XII.
“tumben berangkat pagi” sapa ku pada
makhluk bdua penghuni bangku belakangku.
“ya takut ketinggalan kalau pas liburan
gini, tapi kalau pelajaran, ketinggalan ya oke, oky saja” jawab wildan, tak lupa dia menarik koper yang super besar, tu isinya pakaian apa keluarga, jangan
bilang salah satu anggota keluarganya ikutan di masukin koper.
“absen dulu” kataku pada aggy yang mau main nyelonong masuk, apalagi air phone yang sudah bertengger di telinganya. membuat aku harus menarik tangannya. Temanku ini cukup simpel dengan kaos oblong putih dan celana levis selutut, mau liburan sama hari-hari biasanya sama saja.
Membawa tas ransel di punggung, ya dia cewek tipikal anti ribet.
“tu yang di gazebo adik loe ya fa” tanya
aggy. Yang membuat antrian di belakang aggy menoleh kearah adikku. Oh gak rugi
juga adikku dandan rapi.
“udah cepat sana" kataku sambil mendorong aggy untuk segera masuk.
“ adik low lumayan juga” kata salah satu cewek kelas aiba sebelum masuk. Aku hanya tersenyum simpul saja.
Bus mulai penuh, namun tinggal satu
orang yang belum datang.
“fathin tolong gue” suara yang baru saja datang menjadi titik fokus ku. Ya irtifa dengan pakaian serba pink, koper warna pink, tas ransel warna pink, dan masih ada tas jinjing warna sama juga.
Kurasa hari ini dia terlalu mencolok di kornea ku.
Huhhh
“tinggal tunggu kamu yang belum ada” kataku.
“ yae lah, masih ada waktu lima belas menit saja, belum telat” katanya setelah memandang jam tangan dengan warna senada juga.
“sini gue bantu”, kataku sambil membawa
tas jinjing irtifa.
Setelah, meletakkan tas irtifa aku segera mencari kursi kosong, yang kosong berarti tinggal tempat duduk ku dan adiba yang baru saja masuk, dia duduk di kursi depan, jangan bilang aku duduk di
sampingnya.
“aku di sini?” tanyaku memastikan.
“kamu gak lihat denahnya” jawab adiba. Aku langsung melihat lembaran tersebut, dan namaku tertera di samping adiba.
“aku gak mau” ucapku.
“kenapa?” tanya adiba. Yang bikin aku
greget, masak dia gak paham.
“gak nyaman lah”
“ya, peraturannya gitu. Itu tujuan nya biar kita enak diskusikan bila ada sesuatu, kalau dekat” kata adiba memberi penjelasan.
“ gini aja dech, kita duduk nya berdampingan saja, tapi gak berdekatan” ucapku memberikan solusi. Akhirnya aku sedikit merubah tatanan letak yang sudah rapi dan siap berangkat, menyuruh bangku samping irtifa pindah ke tempat duduk kami, awalnya wildan duduk bertiga dengan aggy dan irtifa ku usir untuk duduk bersama Adiba, beres bukan.
akhirnya terselesaikan..
Bersambung...