
“hari ini kita jadi gak nginep di rumah ibu?” tanyaku pada sosok tampan yang tengah duduk di kursi kerjan-nya, dia masih diam, mungkin fokusnya pada layar leptob membuat suara ku bagaikan angin semilir yang lewat. dengan sebal aku menutup notebook ku, mengakhir tugas yang belum sepenuhnya terselesaikan, padahal hari semakin mendekati akhir tahun.
Semenajak kejadian malam itu, aku bagaikan benalu yang melekat pada pohon inangnya, kemana dia pergi, disitulah aku berada, hingga kini aku sedikit tahu menahu apa yang dia kerjakan.
Selama menikah dengannya kini aku baru tahu siapa nama panjang kak nidhom, kota kelahirannya dan starata pendidikannya yang menurutku luar biasa, ku pikir dulu dia mahasiswa pascasarjana yang masih ngekos dengan
kak azzam, hemm dan tak lupa uang tip yag di berikan padaku itu, aku ingat sekarang, apalagi sandal itu kesan pertama, yang masih ku ingat,,,,
Kini aku menatap kaki kak nidhom, yang saat ini menggunakan sepatu kerja.
“tugasmu sudah selesai?” tanya kak nidhom membuyarkan fokus ku.
“eh, I ya” jawabku yang tak sesuai fakta.
“sekarang kita berangkat kerumah ibu”
“kak, kemana sandal legendaris mu itu, aku tak perah melihatnya” jawaban yang sungguh konyol, bukannya menjawab pertanyaan-nya dengan benar malah membahas mengenai sandal. Kak nidhom yang menerima
jawaban yang berbeda mengernyitkan kening.
“maksudnya?” tanya memawakili ekspresinya tadi.
“sandal itu, ketika kakak pakai saat ngkos bareng denga kak azzam”
“ohh, ada apa memang dengan sandal itu, kamu ingin?” tanyanya.
“oh tidak, aku hanya tanya saja”
“itu milik azzam, jika kamu suka aku akan mebelikan”
“tidak tidak” tolakku. Kak nidhom tersenyum, sebenarnya senyumnya tidak manis tapi damage-nya itu,
ISTIGFAT FATHIN...
teriakku dalam hati, aku segara memasukan notebook ku kedalam tas, dan bergegas menyusul kak nidhom yang sudah sampai di depan pintu, namun yang membuat manis dia tidak langsung menutupnya, melainkan membiarkan aku lewat terlebih dahulu.
“makasih kak”
“sama-sama sayank” ucapnya membuat aku melotot, namun segera normal ketika mata ku menatap sosok pria yang tengah duduk di tempatnya, pria yang beberapa hari aku sering melihatnya, sekretaris suamiku sekaligus temannya.
“sudah mau pulanya ya nyonya devanicko denandra” ucapnya ketika berpapasan denganku, lebih tepatnya dia suka mengejekku. ku hanya diam.
“el, jangan ganggu istriku”
“siap bosss” ucapnya dengan tawa kecil. Peringatan itu akhir-akhir ini keluar dari mulut kak nidhom, tapi hanya di anggap bagaikan angin segar lewat.
Kak nidhom yang tidak terlalu suka basa basi lebih memilih menarik ku dari hadapan elvian yang menyebalkan. tapi sebenarnya aku suka panggilan itu meski bernada ejekan. aku sekilas mendongak menatap kak nidhom sebelum bibirku melengkung keatas.
Kini langkah kami beriringan menyusuri lorong-lorong perusahan milinya, di bidang pengembangan game meski tidak terlalu besar, tapi aku banggga dengan usahanya,yang di rintis semenjak lulus S1 teknik computer di italia. Sepertinya kak nidhom selain menjadi suami, kini diam-diam aku mengidolakannya.
Beberapa karyawan melirik kearah kami, namun kini aku mulai terbiasa dengan tatapan mereka, mengingat kesan pertama jika meraka tak suka padaku melalui tatapan-nya, teruntuk para karyawati-nya.
“ada yang ingin kamu beli” tanya kak nidhom ketika sampai di depan mobil dan membukakan pintu untukku.
“emm, seperti biasa saja, martabak telur kesukaan fathan”
“ada lagi?”
“emmm tidak ada”
Kak nidhom mengangguk sebelum pintu mobil di tutup dan dia berjalan mengitari mobilnya.dalam perjalanan kami memang banyak diam, aku yang tidak akan bersuara jika tidak di tanya terlebih dahulu, bukan karena canggung, tapi aku tak ingin membuat konsentrasinya teralihkan oleh pembicarakaan kami, meski diam sebenarnya membosankan dan membuat aku terkantuk.
“untuk apa kita ke mall?” tanya ku setelah mobil berbelok kesalah satu mal terbesar di ibu kota.
“membeli kebutuhan” jawabnya singkat. Sambil keluar dari mobil. Sebelum kak nidhom membukakan pintu untukku aku segara keluar.
“tapi untuk apa?” lanjutku..
Bukanya menjawab kak nidhom malah tersenyum sekilas, sebelum meraih tangaku dan membawanya melangkah memasuki mall.
“seminggu lagi akhir tahun” ucapnya
"terus apa hubungannya coba” tanyaku, kini kepalaku yang sedikit sakit setelah mendapatkan jentikan darinya.
“bukankah nenek memberikan kita tiket liburan ke bali”
Ya allah aku melupakan itu.
“oh iya, aku lupa” kini ganti jilbabku yang berantakan setelah di usapnya.
“ayo, kita belanja kalau gitu,,,” lanjutku bersemangat..
Dalam waktu setengah jam, aku sudah selesai memilih kebutuhan kami, kini tinggal ke salah satu stand martabak telur kesukaan adikku.
dan lagsung meluncur kerumah ibu....
“mbak ngapain kesini”
pertanyaan macam apa yang dilontarkan si fathan ketika dia melihatku sudah sampai pintu, aku meletakkan kantong berisi martabak di meja, dengan wajah muram aku mendekati fathan, sedangkan adikku yang tengah duduk santai di sofa kini sudah loncat dan belari.
“inikah sambutan mu pada mbakmu” ucapku dengan muka kesal,
“ampun mbak” teriak fatahn dengaan nada mengejek, aku mengambil kemonceng yang tergeletak di salah satu sofa, dan mengarahkan kepada fathan, sepertinya jiwaku telah lupa dengan keberadaan kak nidhom yang masih berdiri di tempatnya, jiwa-jiwa kekanakanku sepertinya timbul ketika melihat fathan yang menyebalkan.
“mas, tolong lindungi aku” teriak fathan ketika kemoceng itu mengenai punggunnya. Namun tak lama adikku menagkapnya. Aku tidak menyerah ketika komoceng itu tak dapat ku rebut, kini tangan kiri ku yang ganti melayang
dan …
Bugkk,
pukulan yang cukup keras, namum membuat aku meringis kesakitan. sedangkan dia, adikku yang menyebalkan tertawa keras ketika aku salah sasaran.
“Sakit?” suara yang keluar dari muluk kak nidhom ikutan terasa menyebalkan, meski itu terdengah sebuah pertanyaan.
“maksudku apa sakit?” aku mengangguk pelan, mengusap jariku
yang terasa panas. Meski sebenarnya yang ku usap bukan tangan ku setelah ku sadari bawah tangan yang dengan lancang memukul perutnya itu dalam genggaman tangan kak nidhom.
Perut apa batu sih, keras sekali kataku yang mampu terucap dalam hati.
“ada apa fa?” tanya ibu yang baru saja datang, setelah menyambut kami tadi ibu memang keluar sebentar.
“fathan bukk”
“kok aku” protes adikku.
“ada apa dengan adikmu” tanya-nya.
Kini seperi anak kecil aku mengadukan adikku yang menurutku memang benar bersalah, sedangkan ibu mengelengkan kepala sebagai tanggapan terhadapku dan berlalu begitu saja ke dapur. Kini di sampingku kak nidhom yang sudah selesai mengompres tanganku dengan air dingin.
“yeee, mbak fathin lemah” olok fathan.
Aku yang masih di dekat kak nidhom hanya dapat mencebikkan mulut kearah fathan dengan sebal.
“hmm, sisi lain dari mu unik juga” suara yang pelan itu masih terdengar di telingaku, kini aku reflek meninjunya kedua kali yang membuat tanganku semakin sakit.
"maaf" katanya,
harga diri ku jatuh sejatuhnya, lagian emosiku tidak bisa di kendalikan jika dekat dengan adik ku yang super menyebalkan tapi tampan itu....
bersambung...