I'M On Your

I'M On Your
Chapter 59



usai aku sarapan, akhza sudah datang.


"sudah siap" tanyanya, aku hanya mengangguk.


dalam perjalanan kami hanya diam, tak ada yang di bicarakan, seolah akhza tahu bahwa mood ku sedang tidak baik dan aku butuh diam. hingga tak terasa sudah sampai depan halaman rumah ibu.


"mungkin aku tak tahu alasan kakak tinggal di sini sementara, aku hanya berharap masalah kalian cepat selesai" ucap akhza di tengah aku melepaskan sabuk pengaman, tak lama dia mengeluarkan sesuatu dari dasbor mobil, benda yang tak asing lagi, yang kertasnya saja sudah menguning, sempat aku ingin mencurinya tapi lupa.


akhza menyodorkannya didepan ku.


"surat mu, ku kembalikan kepada pemiliknya"


aku mengernyitkan kening, memikirkan bagaiman dia tahu itu surat ku.


"dari mana kamu tahu? " tanyaku.


"aku tak tahu ini surat mu, tapi kakak ku tahu betul ini tulisanmu" ucap akhza membuat pipiku sedikit merah.


kak nidhom tahu, terus mengapa dia menikah dengan gadis yang tengah menyukai adiknya sendiri batinku bertanya.


"bagaimana bisa tahu? " tanyaku.


akhza tersenyum simpul menatapku.


"bukankah kamu memasukkan kedalam jurnal tahunan OSIS selama periode ku, aku tak sempat membukanya, karena setiap akhir masa jabatan harus melaporkan seluruh kepada pembina, dan itu berakhir di tangan kakakku, kau tahu sendiri kakakku yang tengah memegang yayasan saat ini untuk menggantikan kakek. "


aku menutup wajahku menahan malu.


"tapi aku tak menuliskan namaku disitu"


"kakak lebih lama mengenalmu, dari waktu yang kau untuk mengenalnya"


aku terdiam sejenak.


"sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, ibumu menunggu mu" lanjut akhza.


"hhmm ya, makasih" ucapku sebelum keluar, setelah mengeluarkan koper kecil dari bagasi, aku segera berjalan sambil menggenggam surat ku.


sungguh sesuatu, yang tak terduga tengah terjadi..., andaikan aku dapat memutar waktu, tak pernah tanganku ini menulis kata-kata yang membuat aku malu sendiri.


"fathin, sudah datang kamu nak" ucap ibu sambil memelukku, begitupun aku membalas memeluknya.


"ibu kok di rumah, tidak bekerja"


"hmm tentu, kamu kesini, bagaiman ibu akan berangkat kerja, karena adik mu sekolah, nidhom tengah memberi tahu bahwa kamu akan menginap beberapa hari ke dapan, dia bilang mendadak ke kota, dan tak sempat mengantarkan mu, hmm dimana adik mu fa? " tanya ibu, orang yang di maksud mungkin akhza.


"dia sudah pergi, karena buru-buru"


"oh" ucap ibu, sambil memandang jalan sebentar.


"yasudah yuk masuk" ajak ibu.


sebenarnya tadi aku ingin mengeluh dan menceritakan semuanya. namun kini harus ku telan kembali ketika melihat kebahagiaan ibu. aku takut dia akan merasa bersalah jika tahu rumah tangga kami tak bahagia.


***


seminggu telah berlalu, dalam waktu itu aku hanya berdiam diri dikamar, merenung, menulis adalah cara untuk mencurahkan segala isi pikiranku, menceritakan hari ini di sujud ku, hanya itu, namun bukanya mendapatkan jalan keluar, aku malah terbelenggu pada peristiwa itu, setiap menit dalam pikiranku hanya memikirkan itu....


dan ku putuskan aku ingin melupakan, aku harus membuat sesuatu agar diriku tak memikirkan peristiwa itu. selain pulang pergi kuliah.


"mau berangkat nak" tanya ibu yang melihatku sudah rapi.


"iya bu"


"hmm, begitu baru benar, sejak di tinggal suamimu, kamu malas mulu, eh kapan nidhom akan pulang nak? "


aku terdiam sejenak, mencari jawaban yang tepat.


"aku tidak tahu bu, biasanya kak nidhom pulangnya gak pasti" jawabku yang membuat ibu ber oh ria.


aku tahu, sebenarnya kak nidhom tidak benar-benar pergi ke luar kota, karena kemarin aku melihatnya keluar dari gedung kampus, dan pernah berpapasan dengannya di koridor, meski koridor sepi, kini kita bagaikan dua manusia asing yang hanya lewat dan berlalu..


setelah berpamitan, aku berjalan pelan ke depan rumah, di sana sudah ada mobil honda jazz milik irtifa yang tengah menunggu, hari ini ketepatan dia ada jam kuliah yang sama. untuk aggy, kami masih dalam mode diam, sebenarnya dia ingin menyapaku ketika bertemu namun selalu di urungkan dan aku juga enggan untuk menyapanya dulu.


"eh fa, entar pulang tunggu aku ya"


"untuk? " tanyaku


"membeli kado untuk abang, dia ulang tahun"


"oh, ok" jawabku biasa.


"kok gitu sich, seharusnya kamu antusias"


"buat apa? " aku menatap irtifa curiga.


"kan calon kakak ipar ku" tawa irtifa menggodaku, aku mencubit dia yang sedang menyetir.


"eh, nanti kalau oleng kita lo yang bahaya" ucap irtifa di susul tawa.


πŸ₯°πŸ˜˜


sesuai dengan permintaan, setelah jam terakhir aku menunggu irtifa di basemen, dan tak lama orang uang ku tunggu nongol juga, namun di saat yang bersamaan aku tengah melihat kak nidhom yang keluar dari lift, menuju mobilnya, sekilas kami saling menatap, namun aku segera memutus kontak mata dan masuk kedalam mobil irtifa.


"tumben bapak direktur, parkir mobil di tempat mahasiswa, biasanya di tempat khusus" ucap irtifa sambil menyalakan mesinnya, aku hanya diam tidak menanggapinya.


"kamu diam aja fa di ajak bicara, lagi sakit gigi apa gimana? "


"gpp fa, terus aku harus nanggepin apa"


"ya apa gitu kek, "


mobil sudah berjalan, namun irtifa masih berceloteh.


"kau tahu dia dosen terkejam di kelasku, eh udah jabatan tinggi, udah jadi ceo di perusahaan, masih sempat aja ngajar, kurang gaji apa dia" ngedumel irtifa yang tak ku mengerti siapa yang di maksud.


"maksudmu? "


"ya, bapak direktur, pemegang yayasan ini lah siapa lagi,"


"kak nidhom? " tanyaku.


"iya, dia, eh bukan. kok kak sich fa, bpk. nidhom devanicho"


"ohhh.. "


ya aku kan terbiasa panggilnya kak, bukan bapak ir


batinku.


"asal kamu tahu ya, itu orang jika main ke rumahku, menyebalkan nya minta ampun, abang di bilangin jangan bawa orang itu ke rumah masih di bawa"


"oh" ucapku menanggapi cerita itu. jujur aku tak ingin mendengar namanya di sebut-sebut, atau membahas apapun tentang nya.


"kau fokus saja nyetir agar cepat sampai" ucapku, yang menghentikan cerita irtifa membahas suamiku itu, tak ada kah orang lain yang membahas tentangnya, kini aku merasa orang yang paling tak tahu apa-apa tentang dia...


tak lama kami sudah sampai di toko buku di dalam mall, sambil menunggu irtifa mencari kado yang tepat untuk abangnya, aku sedikit membaca sinopsis buku, namun tak ada satupun yang menarik untuk dibeli.


"aku sudah fa" ucap irtifa yang pergi ke kasir, aku segera meletakkan buku yang ku pegang dan menghampiri nya.


"setelah itu kita kemana? " tanyaku.


irtifa sedikit mendekatiku.


"nonton film yunk" ajaknya


"aku traktir" lanjutnya. aku hanya mengangguk, aku juga perlu hiburan untuk menenangkan diri...


Bersambung....