I'M On Your

I'M On Your
Chapter 47



aku hanya melambaikan tangan untuk menyapa pemuda beberapa hari yang ketemui. pemuda yang bernama kevin itu menepikan mobilnya di depanku. jujur itu sangat menganggu para calon penumpang bus.


"lo ngampus di sini?" tanyanya, aku hanya mengangguk dengan senyuman. dan pemuda berambut ikal itu tersenyum, jujur aku tidak nyaman.


"aku bisa memberi tumpangan, jika kamu mau"


"makasih, tapi aku naik bus saja"


"beneran ni, ini aku cuma balas budi"


aku hanya mengangguk meyakinkan keputusanku, bagaimanpin aku sudah bersuami meski tak benar seperti pasangan suami istri.


"terimakasih tawarannya, tapi sungguh ada suatu tempat yang sedang ku tuju" ucapku, memberi alasan, tapi aku gak bohongkan, memang setiap bepergian pasti ada tujuan kemana kita akan pergi, cuma saja orang lain tak perlu tahu.


"aku bisa antar jika kamu mau"


"makasih, tapi tidak perlu" tolakku sesoban mungkin untuk tidak menyakiti kebaikan orang lain.


"baiklah" ucap kevin, setelah mengucapkan salam dia segera kembali kemobilnya.


kenapa ketika status ku sudah dimiliki orang, begitu banyak orang yang mulai mendekatiku. mungkinkah ini ujian di kala hubungan kami dalam jarak dan benteng meski sebuah ikatan terpatri, begitu banyak orang datang dan pergi menghampiri, yang menawarkan kebaikan hati meski ku tak tahu maksud dibalik itu semuan.


tuhan jangan uji kesetiaan ku.., hanya saja aku takut tak mampu...


akhza : pulang kuliah langsung saja kerumah nenek


sebuah pesan dari akhza, namun aku ingat bahwa aku pernah salah menelfon nomernya. aku lupa mengganti nama nomer tersebut.


me: siapa?


kataku basa-basi. tapi tentu sedikit lucu, sudah berapa lama aku menyimpan nomer itu dan sekarang malah bertanya seolah tidak kenal.


akhza :aku


jawaban yang mengidang tanda tanya di kepala, siapa yang mengenal dengan nama aku.


me : aku tahu? maksudnya nama


akhza: suami


jujur jawaban yang cuku menggelitikan perut, aku segera menutup mulutku sebelum aku dilihat orang dan di anggap gila kerena senyam senyum sendiri.


me : oh kak nidhom, maaf๐Ÿ™


setelah sekian lama pesan terakhirku hanya di read, dia bilang suami, tapi apa coba sekarang gak di balas, dan aku jadi sensitif kayak gadis PMS.


aku sudah sampai rumah keluarga adam, namun tak ada satu orangpun penghuni rumah, kecuali bapak satpam di pos penjaga.


"nona muda kesini"


"mbok lastri!!" ucap ku mengingatkan.


"mbok kemana nenek dan kakek?" tanyaku.


"oh tuan sama nyonya lagi kondangan pernikahan temannya"


"oh" jawabku, lalu aku segera berpamitan untuk ke lantai atas.


***


malam ini di meja makan hanya terdapat aku dan adiba, meski saling kenal tapi canggung juga. dan dia orang tersangka, yang menyuruhku kesini tak kutemukan batang hidungnya.


"bagaimana kuliahmu?"


aku yang sedangenaiki tangga meboleh kebelakang yang terdapat adiba di sana.


"ya allhamdulilah lancar"


"oh, sebelum kesini dulu rencanamu"


"kuliah di kampus negeri, sebenadnya kemarin udah mendapat beasiswa, tapi karena kak nidhom menyarankan aku di sini, aku ngikut aja"


"oh"


jawab adiba. lalu kami berpisah di pintu kamar masing -masing.


adiba tak lagi menyukaiku kan? tanyaku pada diri sendiri.


tengah malam aku terjaga dari tidurku, dan yang membuat aku terkejut ketika sebuah penda menimpa tubuhku, tentu aku reflek dan langsung menipisnya sambil berteriak kencang.


"kak nidhom" ucapku sepontan setelah melihat pria yang menjadi suamiku, yang terpaksa bangun karena jeritanku tadi.


kini aku yang jadi tidak enak, bagaiman kita bisa satu ranjang, mungkinkah tadi pulang larut dan tertidur tanpa menyadariku.


"maaf fathin" ucapnya dingin, sambil duduk, mungkin dia masih mengatuk berat, hingga aku merasa bersalah.


tak lama terdengar suara ketukan pintu, aku langsung menatap kak nidhom. namun tak lama aku menutup wajahku malu, oh tidak, aku telah membangunkan orang di rengah tidur lelapnya.


"fathin ada apa?" suara nenek dari luar kamar. aku segera melangkah turun ranjang namun harus terhenti ketika kak nidhom mendahuluiku.


aku hanya menatap dari balik punggung suamiku yang terhimpit pintu, sepertinya diluar tidak hanya nenek, tapi juga terdengar suara adiba dan akhza serta kakek adam.


apa sekeras itu teriakanku...!!


tak lama kak nidhom kembali dan merebahkan tubuhnya di sofa.


"aku minta maaf telah mengganggu tidur kakak" kataku. namun hanya di respon dengan dinginya malam.


...dia sungguh indah, namun langit malam yang indah di angkasa terlalu gelap dan kelam meski banyak bintang bertebaran di sana, meski dingin ku harap dia mampu mengayomi, seperti langit yang mengayomi bintang nya......


bersambung....