
meski sebentar, sudah cukup mengobati rasa rinduku pada ibu dan fathan. setelah jam menunjukkan pukul tiga aku pulang, fathan menawarkan untuk mengantarku, namun aku menolak.
“mbak monika kapan pulang?” tanyaku pada tetanggaku yang sudah lama tidak bertemu.
“baru tiga hari ini, oh ya fathin mau kemana?”
“hemm, keluar mbak”
“oh..”
aku segera langkahkan kakiku, sedangkan wanita berparas ayu itu masuk kedalam gerbang rumahnya. tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke halte. helte cukup sepi, hanya beberapa penumpang yang menunggu.
hari ini langit berawan abu-abu, menandakan akan segera turun hujan. untung aku membawa sebuah sweater hadiah dari ibuku, cukup menghalangi dari udara dingin.
sebuah mobil menepi, mobil yang tidak asing, dan wajah seseorang yang kukenal setelah mendongak dari kaca pintu mobil.
“kita memang ditakdirkan untuk saling bertemu” ucap pemuda di belakang kemudi. aku hanya mampu tersenyum simpul.
“ fa, yuk bareng, aku ikhlas anterin kamu pulang lo”
“makasih vin, tapi lebih baik aku naik bus”
tolakku, entah berapa kali diam menawarkan tumpangan. dan berapa kali aku menolaknya, meski kenal kami tidak cukup mengerti satu sama lain. bukan suatu hal yang mudah untuk mempercayai pada seseorang yang baru di kenal. bahkan itu pun pada suamiku sendiri.
“hmm, kau terus saja menolak ku, sepertinya tak merasa kasihan pada pemuda ini”
“hahaha bukan begitu, aku tidak ingin merepotkan orang lain” ucapku.
“aku malah akan merasa tidak enak, jika bertemu istri sahabatku dan aku mengabaikannya saja”
aku mengernyitkan kening ketika mendengar ucapan kevin.
“hahaha, kau terkejut” lanjut kevin’
“maksud kamu tadi apa?” tanyaku seolah tak mengerti.
kini kevin kembali tertawa.
“kau istri nidhom kan?”
“dari mana kamu tahu”
“aku sudah mengatakan aku sahabatnya, tentu aku tahu, bahkan nidhom sempat mengundangku meski aku tak sempat hadir”
“oh, maaf”ucapku.
“bagaimana, kau mau menerima tumpanganku”
aku menggeleng, mempertahankan keputusanku, karena tidak baik jika aku satu mobil dengan pemuda lain, apalagi sahabat suami sendiri.
“ayolah fa, aku akan menceritakan suatu yang unik mengenai suamimu, aku yakin kamu tidak begitu mengenali suami mu yang memiliki kepribadian dingin itu”
“kau bisa menceritakan suamiku di pesan WA saja, tapi sungguh terima kasih atas kebaikannya, aku akan tetap naik bus” ucapku, tak lama bus datang, dan membuat raut kecewa kevin.
“baiklah aku menyerah” ucap kevin sebelum melanjutkan mobilnya.
sore ini hujan cukup lebat, bahkan dari depan aku berlari ke gedung apartemen membuat pakaian ku basah. sampai dalam aku segera mandi dan ganti baju.
kondisi apartemen masih sepi, karena memang aku dan kak nidhom penghuninya, hujan yang semakin deras membawa hawa dingin, aku lebih memilih naik keranjang dan menarik selimut. suara guntur langit membuat suasana jadi mencekam. apalagi kilatan petir yang melewati jendela.
kuharap tidak mati lampu, namun doaku belum terkabulkan. baru saja hati ku membatin, dan peristiwa itu terjadi. memoriku memutar sebuah kejadian yang belum lama terjadi dari sebuah mimpi yang terasa nyata.
kini aku ketakutan, membayangkan sesuatu yang bukan. segera kuraih ponselku, namun naas bateri habis. suara langkah samar-samar terdengar di indra telingaku.
mungkinkah?
tebakku, dengan cepat aku meraih sesuatu di laci dan kutemukan sebuah gunting. dengan kaki gemetaran aku melangkah dalam kegelapan. bersama suara pintu terbuka aku menodongkan senjataku.
tak,
sebuah benda jatuh dari tanganku ketika aku menatap seseorang.
huh, jantungku sedikit lega.
“maafkan aku” ucapku pada kak nidhom yang mematung di depanku. bagaimana bisa seorang istri menodongkan senjata di hadapan suaminya.
malam semakin larut, dan lampu belum ada tanda-tanda ingin menyala. seusai sholat isya tadi sampai saat ini aku belum bisa tidur, bahkan tanda tanda ingin tidur juga belum munjul. pikiranku terlalu membayangkan sebuah mimpi buruk yang nyata itu.
kini aku hampir meloncat, setelah mendengar suara pintu yang terbuka. namun dengan cepat aku membenahi kaki ku setelah mengetahui siapa yang muncul dari balik pintu.
“kak nidhom ada perlu apa?” tanyaku. ku ingatkan bahwa di apartemen kami tidak sekamar.
“ tidurlah dan jangan banyak tanya” ucapnya dingin sambil berjalan di meja belajarku dan meletakkan benda kesayangannya disana.
tanpa protes aku diam seketika. sambil mencari posisi nyaman untuk berbaring. karena ponselku mati, aku lebih memilih tiduran sambil menatap punggung kaka nidhom berharap dia tidak pergi sebelum aku terlelap.
keberadaanya membuatku tenang, dan melupakan bayangan yang menakutkan, dan terasa kelopak mataku berat, hingga objek di pandanganku buram dan menghilang jadi gelap.
Bersambung