I'M On Your

I'M On Your
Chapter 36



layaknya sorang pencuri yang tertangkap basah, meski kenyataan bukan seperti itu kejadian sesungguhnya. sungguh rasanya aku ingin menenggelamkan wajahku di bantal, ketika melihat akhza tengah duduk di ruang tamu. kami mana bisa dia nongol di kamar kami, dan melihat kejadian itu. semoga dia tidak berfikir yang tidak-tidak.


"fa, kenapa dari tadi kamu tertunduk sayang" tanya nenek, yang membuat seluruh penghuni rumah menatap kami.


tubuh kak nidhom yang tinggi tak mungkin mampu menutupi tubuhku.


"emmm gak apa-apa nek" jawabku, sambil melirik mereka dari sudut mataku, dan ku tangkap akhza diam-diam tersenyum kecil seperti sedang mengejekku.


 dalam hatiku ingin berbicara panjang lebar untuk menjelaskan kejadian itu, aku sudah yakin pikiran orang yang sok cuek ternya enggak itu pasti aneh-aneh kan.


"yuk kita berangkat" suara kak nidhom yang terdengar di dekat pintu.


"aku berangkat nek" ucapku sambil mencium tangan nya dan melanjutkan kepada kakek.


setelah mengucap salam aku bergegas menyusul kak nidhom yang sudah berada di garasi.


***


dalam waktu setengah jam, akhirnya sampai setelah berada dalam alam keheningan bersamanya. diam itu sudah menjadi kebiasaan kami. seandainya saat ini tidak ada kak nidhom aku sudah meloncat-loncat dan berlarian ke dalam rumah. sayang aku harus berjalan kalem menunggunya yang mengeluarkan sedikit oleh-oleh dari bagasi yang akan di berikan ibu.


"fathin" ucap ibu yang lupa menjawab salam kami. tak lupa ibu mencium ku, dan menyambut kak nidhom.


seorang ibu jika kedatangan anak mantunya, anak kandungnya terlupakan, karena setalah di cium yang di ajak masuk kak nidhom.


"hay mbak apa kabar" sapa fathan dengan basa basi nya, seolah aku keluarga yang merantau lama dan baru pulang.


"bantu aku than" ucapku yang mengabaikan sapaannya dan memilih memberikan oleh-oleh ke tangan adikku.


"fathin, kenapa gak bilang jika kalian akan kesini" ucap ibu memarahiku.


"maaf buk, tadi kami kepikirannya dadakan" jawab kak nidhom, di sela senyum manisnya.


seandainya aku punya perasaan mungkin aku gagal fokus, tapi sampai saat ini aku tak tahu mengenai perasaan ku pada pria berstatus suamiku itu.


tak lama fathan datang membawa nampan berisi kopi dan teh. aku tersenyum kecil menatap adikku. biasanya pekerjaan ini aku yang lakukan sekarang dia menggantikan ku, seharusnya fatah dulu terlahir perempuan saja hehehe..


"ayuk di minum" ucap ibu menawarkan.


setelah cukup lama duduk layaknya tamu jauh aku berpamitan ke dapur, untuk mencari sesuatu, tapi sesuatu yang masih dalam tanda kutip?


"fa" suara ibu hampir membuatku terjatuh.


"ada apa bu?" tanyaku.


tak lama sebuah sentilan mengenai kepalaku.


"seharusnya kamu bilang kalau kesini, ibu kan belum ada persiapan, juga gak ada makan malam"


"gak papa kok buk, fathin sama kan nidhom sudah makan"


"jadi berapa malam kamu nginap?"


tanya ibu, namun aku hanya menjawab dengan dua jari, dengan tampang kecewa karena kurang lama.


"yau dah, sana ganti seprei kamarmu, ibu belum sempat ganti semenjak kamu nikah"


"tapi itu habis fatin ganti lo"


"ihh udah sana ganti"


sampai dalam kamar aku langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur, ya akau rindu kamarku, meski tak sebagus kamar kak nidhom, tapi kamar ini paling ternyaman bagiku.


rebahan di atas kasur yang kita rindukan sambil menatap atap itu cukup menyita waktu lama, sehingga tak ku sadari jika adzan isyak sudah berlalu. bahkan detak jarum jam di dinding tak terdengar karena saking asyiknya kau melamun pada duniaku.


seseorang yang masuk dalam kamarku membuat aku reflek terjaga dari rebahan, dan langsung terduduk di tepi ranjang.


"oh, kak nidhom" ucapku.


"sudah waktunya sholat" ucapnya, yang ku jawab dengan anggukan.


"pinjamkan perlengkapan sholat ke adikmu" ucapnya lagi.


"oh iya" jawabku.


aku segera bangkit dan keluar. ku kira kaka nidhom tak pernah solat, pasalnya aku tak pernah tahu di sholat, atau memang dia yang jarang di rumah, mengingat kata sholat aku sedikit lega.


hari memang semakin malam, waktu pun sudah menunjuk ke angka 12, tapi aku belum bisa tidur, meski mataku sebenarnya kantuk. kak nidhom sedang bersandar di ranjang ku. sedangkan aku duduk di meja dengan tangan memegang novel.


aku sebenarnya sudah tahu isi ceritanya, sehingga membaca ini hanya sebuah formalitas. mungkin malam ani aku akan tertidur dengan duduk di kursi, kamarku tidak seperti kamar kak nidhom yang terdapat sofa panjang dan karpet halus.


dari balik buku kulihat kak nidhom masih asik dengan dunianya...


kapan dia tidur batinku bertanya. tak lama kak nidhom bangkit dari duduknya, matanya menyusuri seluruh ruangan kamarku.


"kau suka mengoleksi si novel? " tanyanya yang berdiri tak jauh dariku.


"iya" jawabku singkat. meskipun begitu aku diam-diam meliriknya.


jantungku berhenti seketika ketika kak nidom mengulurkan tangannya untuk mengambil benda bersampul biru itu.


Tidakkkk Diaryku teriakku dalam hati yang tak sampai keluar. dengan cepat aku merampas buku yang di pegang kak nidhom.


kak nidhom menatapku dengan sebuah pertanyaan yang di ekspresikan melalui wajah.


"maaf ini buku pribadiku" jelas ku, yang membuat dia mengangguk mengerti.


"ya sudah kita tidur" ucapnya sambil kembali ke ranjang ku. aku yang di ajak hanya diam.


"kau ingin bergadang?" tanyanya yang membuat aku menggeleng.


"kasurku tidak muat untuk kita" ucapku memberanikan diri menyampaikan sesuatu yang ada di kepala.


"aku yang di tepi kau tidurlah dekat dinding" ucapnya, aku menatap ranjang dengan horor, ranjang di kamarku tak seluas milik kak nidhom, yang ada jika kami berdua tidur di situ, kami akan....


pikiranku terputus, ketika tubuhku melayang mendadak daan mendarat di kasurku. aku ingin protes tapi mendadak diam.


"tidurlah" ucap kak nidhom yang sudah berbaring di sampingku,


kami tak pernah sedekat ini, dan itu membuatku tak bisa memejamkan mata meski dia tengah memunggungi ku...


entah sejak kapan aku tertidur, dan saat terbangun aku menyadari sesuatu yang janggal..


Aaaaaa....


Bersambung..


JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE🥰😘😘