I'M On Your

I'M On Your
Chapter 43



Cup


aku tercengang menerima perlakuan yang tidak terduga. rasanya wajah terbakar rasa malu, entah seperti apa warna pipiku. sedikit demi sedikit aku membuka sebelah mataku.


dia sudah tidak ada di depan, aku menghela nafas pelan menatap pintu yang sedikit terbuka setelah seseorang keluar dari sana.


aku lupa aku mau apa tadi, seketika otak ku lambat untuk berpikir, apa lagi untu mencerna perlakuan tadi. beberapa kali aku menggelengkan kepalaku, menyatakan semua itu tidak benar tidak nyata, tapi terasa.


pipiku kembali memerah....


aku melupakan bahwa tadi aku ingin pergi ke kamar mandi. dengan cepat aku masuk kedalam dan membereskan mandi ku dengan cepat.


kini aku kembali lagi di kejutkan oleh kehadiran kak nidhom. menatapnya membuat aku ingin bersembunyi di lubang semut, andai tubuhku mungil kecil dan dapat bersembunyi di manapun.


kak nidhom datang dengan sebuah koper kecil.


"kita pindah malam ini"


ucapnya. aku terdiam sesaat memandangnya.ini sudah malam dan kami harus pindahan.


aku ngantuk


"baiklah"


kataku yang bertolak belakang dengan kata hati.


mengapa suamiku mudah sekali mengintimidasi...


***


beberapa kali aku menguap di dalam kelas, bahkan aggy sudah berkali menyenggol ku.


"tumben ngantuk, lagi ngapain lo semalam" tanya aggy yang terdengar menggoda dan menyiratkan maksud tertentu, tapi aku lebih baik diam dari pada salah menerka.


"mahasiswa teladan, tiada lain bergulat dengan materi dan buku" jawabku.


aggy hanya mengangguk-angguk tapi masih dengan ekspresi yang sulit aku tebak.


masih ada waktu satu jam sebelum masuk kelas lagi, kami berdua keluar ke cafe green. lebih tepatnya aku mengantar aggy mencari minuman favoritnya yang hanya di situ.


"lo mau apa fa, biar goe pesenin"


"terserah kamu aja gy, lagi gratisan ya ngikut sama yang bayar" jawabku.


belum selesai aku duduk, aku melihat sosok tubuh yang aku kenal.


haduh


kataku dalam hati, orang tersebut masuk kedalam. aku segera duduk dan mengambil majalah di meja dan membacanya.


"lo di sini gy" ucap orang tersebut menyapa aggy dengan jarak 5 meter.


se berusaha aku menyembunyikan wajah, tetap saja di ketahui olehnya. mata kamu saling bertemu ketika majalah di rengit paksa oleh tangan seseorang.


"fathin!!" suara melengking yang memenuhi udara itu milik irtifa.


para pengunjung menatap kearah kami. irtifa yang baru sadar segera menutup mulutnya dan duduk langsung di sampingku.


dalam hati sudah menghitung mundur, dan benar saja....


"kenapa lo gak bilang kalau di sini?"


aku hanya menampilkan senyum manis ketika mata sahabatku itu ingin melompat keluar karena Memelototi ku.


"udah tenang dulu"


kataku sambil memberikan irtifa segelas air putih, lalu belum sedetik di tangannya sudah tandas.


"lo jahat banget sich fa" sambungnya.


"nanti aku jelasin"


"gue minta sekarang" ucap irtifa sambil Memberengut menampilkan ekspresi yang menurutku tambah imut.


"oke"


akhirnya sambil makan aku menceritakan segala hal mengenai beasiswa, ya meski aku tak menceritakan semuanya mengenai siapa yang menyarankan. dan intinya pernikahan ku belum ku ceritakan sama sekali pada mereka berdua.


"hmmm, takdir memang gak akan ke mana lo itu akan tetap menjadi bestie gue fa" ucap irtifa setelah mendengarkan ceritaku.


"alay" sambut aggy.


"sudah-sudah jangan mulai ya" kataku melerai.


setelah perdebatan antara dua makhluk yang jadi teman tapi jiwa musuh bebuyutan. kami berpisah, irtifa pulang dan kami melanjutkan ke kelas.


"nanti gue mau main basket fa, sorry gak bisa sampai jam terakhir" ucap aggy.


"oky, asal jangan nitip absen" kataku membuat aggy garuk garuk kepala.


***


pukul lima sore kuliah baru usai, aggy yang bolos di jam terakhir membuat aku berjalan ke kedap kampus sendirian.


akhza : gue tunggu di basemen kampus


me:oky, otw kesana


sebuah pesan dari akhza. aku segera berjalan ke basemen. namun mata ku tak sengaja menatap punggung yang tak asing, berjalan dengan seorang mahasiswa yang tak asing pula. iya primadona kampus kita mahasiswa ilmu komputer yang menjadi model kampus.


entah perasaan dari mana hatiku sangat mencolos, aku tidak salah lihatkan bahwa itu kak nidhom yang masuk ke dalam mobil dengan model kampus.


dengan perasaan yang tak tahu itu apa aku segera berjalan ke mobil di mana akhza telah menunggu ku.


"maaf lama"


"gak papa"


setelah duduk tenang aku memilih diam, namun pikiranku berjalan menerka apa yang kulihat tadi meski tidak ku temukan jawabannya.


ya mungkin aku harus sasar diri, aku bukan siap siapa dan bukan apa apa untuknya. mama telah tiada dan tentu pernikahan ini sudah tiada artinya lagi baginya.


tak terasa embun bening sudah berada di sudut mata, aku yang sadar akan hal itu segera menghapusnya. untuk apa menangisi sebuah hubungan yang dari awal memang tiada hati untuk kami saling mencintai, bukankah lebih baik dia melepas, dan membiarkan aku bebas dengan mimpiku, aku yakin hari itu pasti tiba...


"kamu gak tanya kenapa aku jemput"


"aku hanya menggeleng"


"nenek ingin ajak kamu makan malam"


"oh " kataku tidak bersemangat, suasana hatiku senang buruk.


"kamu sakit fa"


"tidak"


"oh"


akhirnya sampai rumah kami hanya diam, aku ingat tadi malam kami baru pindah, dan malam ini aku kembali di rumah itu di sambut nenek.


usai makan aku segera naik keatas, intinya malam ini aku tidak bersemangat untuk berbincang bincang dengan nenek atau anggota keluarga kak nidhom.


"lo kenapa fa"


suara yang muncul tiba-tiba di belakangku, membuat aku menoleh sekilas. ya adiba membuntuti ku setelah melihat kepergian ku dari ruang keluarga.


"aku lelah, ingin istirahat"


"ok, mat malam"


aku hanya mengangguk dan menatap adiba yang masuk kedalam kamarnya.


sampai kamar aku langsung menenggelamkan wajahku di bantal, melampiaskan segala sesak yang mengganggu lelahku, aku sensitif karena mungkin aku lelah dan terbebani tugas,


bukan karena melihat hal tadi itu bukan! aku tak mungkin cemburu karena aku tak punya perasaan teriakku dalam hati.


tapi mengapa ada yang sakit di sini. dan aku tak tahu itu apa? jujur dalam hati ku aku membencinya yang membuat hati ku merasakan sesuatu yang sulit untuk ku artikan....


dalam alam bawah sadar pun aku masih menangis, hingga sampai bermimpi bahwa kak nidhom datang dan menemaniku, melepas jilbabku dan mengusap pelan rambutku. rasa yang sesak ini tiba-tiba membaik.


ketika aku mendapatkan ketenangan dari sebuah pelukan hangat, mimpi memang indah dan kenyataan ada kalanya menyakitkan. aku lelah dan aku butuh tempat bersandar....


andai dia nyata, maka bukan hal yang sulit untuk ku jatuh cinta....


selamat bangun di sebuah mimpi yang nyata...


bersambung....


jangan lupa vote komen dan like🥰🥰