
brakk,, prang
suara dari depan membuat aku dan mama menoleh bersamaan, menatap ruang gelap yang tak tersentuh cahaya. suara dari benturan benda berbahan besi itu cukup memekak telinga karena terpantul oleh dinding. mataku masih menatap siluit gelap seseorang yang sedang memukul pintu jeruji.
“ma, siapa dia?” tanyaku sambari mengeratkan tubuhku ke dekat ibu mertua.
“tenglah fathin,...”
bukanya menjadi tenang, aku semakin ketakutan. kini jantung semakin berdetak kencang, dan kakiku mulai lemas, namun bibirku komat-kamit membaca doa keselamatan.
prang…
suara yang berasal dari depan membuat aku spontan menarik lengan ibu mertua.
“ma ayo pergi…”
“kemana fathin….” ucap ibu mertua sebelum terpotong dengan kata lain.
“nidhom…” suara dari ibu mertuaku menghentikan langkahku, menatap pria yang masih berada di bawah gelap dengan sedikit cahaya yang menyorot wajahnya, kini bibirku yang terasa kalut berkeser sedikit membentuk lengkungan, yang membuat perasaan ku teng seketika, kak nidhom yang datang langsung merangkul ibunya sesaat, sedangkan bibirku masam karena melihat penampilan suamiku yang berantkakan.
“kak, kenapa…..”
“ayo kita pergi dari sini secepatnya” intruksi kak nidhom memotong pertanyaanku yang sedang mengkhawatirkan, kini tenganku sudah dalam genggamannya.
“ayo ma…” ajak kak nidhom.
“mama di depan biar aku di belakang..” ucapku melapas pegangan kak nidhom.
“tidak, kau saja depan fathin” kini ibu mendorongku, sedangkan tanganku sudah di tarik kak nidhom.
sebenarnya jalanku sedikit tertabrak-tabarak karena minimnya pebcahayaan, apalagi lilin yang di bawa kak nidhom tak mampu menyingkirkan kegelapan.
tak lama kami sampai di sebuah anak tangga yang cukup sempit.
“apakah hanya tangga ini jalan satu-satunya nid?” tanya ibu mertua yang berjlan di belakangku.
“hanya ini ma, dan kita harus hati-hati” ucap kak nidhom tanpa menoleh. benar apa yang di katakan tangga ini mimeang licin dan jika sampai terperles kita bisa tergelencir dan jatuh. meski ragu aku segera melangkah mengikuti kak nidhom.
“mama gak papa?” ucapku menoleh kebelakang, wanita baruh baya itu tersengal-sengal nafasnya.
“mama gak kuat kalian duluan saja”
“tidak ma, kita harus keluar bersama,,, kak, mama lelah tidak biasahkah kita istirahat”
“berhenti, hanya akan mengulur waktu kia,” jawab kak nidhom.
“tapi mama…”
“benar sayank, apa yang dikatakan suami mu, ayo kita lanjut…”
aku hanya menghela nafas, berharap rasa letihku juga menghilang. meski sebsarnya kakiku rasanya seperti jelly.
setelah sekian lama, akhirnya kami menemukan cahaya benderang dari luar, dalam hatiku bersorak kegirangan meski saat ini kondisi kami belum aman, setidaknya di depan ujung smna ada sebuah harapan.
nmun tak kala bibir pintu itu semaki dekat tiba-tiba suara tawa menyambut kedatangan kami.
“selamat datang menatu dan manta istriku..” ucap seseorang yang menyambut kami dengan galak tawa, aku yang berada di belakang punggung kak nidhom sedikit menyembul. namun kak nidhom menghadangku dengan mendorong kepalaku.
“aku sedah menyelesiakan tugasku, jadi biarkan aku membawa mereka…”
“apakah permainan ku semudah itu?”
“maksudmu?”
“kau ingatkan, dalam dua nyawa, kau harus memilih siapa yang dikorbankan?”
ucapan pria yang begitu dingin itu membuat aku membuku, apalagi mengingan konddisikami di ujung tangga sempit.
“kau pria bren….” belum usai kak nidhom ingin melangkah… tiba-tiba kak nidhom mendorongku hingga tubuhku terbentur dinding batu,,,
bersamam sebuah benda meluncur tanpa suara….
bugh….