I'M On Your

I'M On Your
Chapter 74



marah!!


kecewa, itulah saat ini sifat yang meliputi hatiku, memilih diam dan menelan rasa kecewa lalu meneguknya. mungkin aku terlalu egois, di beri sedikit perhatian hingga berharap lebih.


siapa diriku?


aku istrinya bukan, dan itu wajar aku kecewa, aku marah.


dengan mulut terdiam menahan sesak di dada yang mengebu-gebu, aku memilih memasukan beberapa pakaian yang sempat ku keluarkan tadi.


aku tak ingin memandang balkon, tapi sudut mataku tak bisa berpaling.


seberapa pentingkah urusannya itu, hingga mengorbankan liburan kami


aku menghela nafas pelan, lalu beranjak ke atas ranjang, mungkin dengan memejamkan mata sebentar, aku dapat tenang dengan hati lapang dada. jika waktunya pulang pasti dia juga akan membangunkan ku.


alam mimpi pun baru ku raih, nafas ku pun mulai teratur, perasaanku pun mulai tenang, namun sayup-sayup dalam keadaan setengah sadar aku merasakan tubuhku tertimpa suatu benda, dengan mata masih tertutup aku mencoba menyingkirkan namun gagal, remang-remang aku menangkap sosok tampan dengan senyum manis.


aku bisa halu, ketika kondisi ku dalam mode marah.


"kak nidhom!! "


pekik terkejut, menyadarkan dari mimpiku yang ternyata nyata. tanpa aku sadari aku sudah dalam posisi duduk, menatap suamiku yang tengah memandangku.


"ini jam berapa? " tanyaku panik sambil melihat jam tanganku, namun yang kulihat di pergelangan tanganku kosong, seingatku tadi aku tidur dalam keadaan siap, mengapa aku sarang memakai baju tidur ku? . aku menatap kak nishom yang ternyum menyebalkan membalas dengan tatapan horor.


"aku melihat tidurmu tidak nyaman, kurasa menggantinya adalah pilihan yang tepat"


jelasnya, menjawap pertanyaan yang masih berkecamuk dalam pikiranku, kini wajahku sudah pias, memilih untung memalingkan pandangan ke arah jendela yang memperlihatkan pemandangan yang masih malam.


"ada apa? "


"tidak" jawabku menahan rasa malu.


"maaf jika aku lancang" ucapnya.


"kapan jadwal pesawatnya"


tanyaku mengalihkan pembocaraan. kini kak nidhom menatapku dengan wajah ingin mendapat tamparan dari tanganku, itupun jika aku berani.


"emm e, ini jam berapa? "kataku, yang membuat aku semakin terlihat konyol, kak nodhom menatapku dengan menahan senyum.


"itu tidak ada kaitan nya deng.. emm"


kerena reflek dan dalam mode sangat malu aku menutup mulut kak nidhom, aku tak ingin membahas hal tadi titik, dan dia tetap ingin membahasnya.


"aku memaafkannya, tolong jangan bahas itu" ucapku dengan kecepatan kilat tanpa jeda. kak nidhom menatapku dengan telapak tanganku masih di atas bibirnya.


"maaf" ucapku setelah menyadari apa yang telah kulakukan, ya mengapa saat ini aku sedang panas dingin atas tindaknya. sebenarnya tidak ada yang salah, kami sudah menikah dan dia suamiku.


"kia kau lucu" ucap kak nidhom, kini aku yang menahan malu berubah menatapnya dengan melotot.


"kita sudah menikah, jadi... "


"tolong jangan bahas kak.. " kataku, debgan gerakan ingin menutup mulut kak nidhom tapi dengan sigap dia mencegah tanganku.


kondisi kak nidhom yang tertidur membiat sedikit ambigu,.


"kanapa? "


"aku malu" jawabku jujur apa adanya, aku sudah malu dan aku tidak bisa mengelak dari hal itu. kini mataku menatap netra kak nidhom yang menatapku, aku bukan sesorang yang ahli dalam membaca tatapan seseorang meski aku mengambil jurusan psikologi.


"kak, aku tidak nyaman" ucapku, melihat kondisi yang sedikit menindih kak nidhom, bukannya melepaskan tangannya dari pinggangku dia malah mengeratkan pelukannya yang membuat aku menempel yang membuat beberapa rambutku berjatuhan di di samping wajahnya.


"aku tahu di hatimu belum sepenuhnya ada aku, tapi mulai saat ini aku tak ingin ada privasi di antara kita"


"maksudnya"


"sudah lah jangan pikirkan, ini masih jam dua, kau tidur atau.... "


???


bersambung...


jangan lupa like, vote dan komen sebanyak-banyaknya😘🥰🥰