I'M On Your

I'M On Your
Chapter 15



🍒🍒


Setelah berkerja keras selama tiga hari dua malam, waktunya memanjakan diri di kasur empuk ku. Melanjutkan membaca novel yang belum ku kembalikan, ya novel yang di pilihkan oleh adiba. Sedangkan dua novel di atas meja sedang menanti gilirannya, ya dua novel itu juga dari adiba.


Setelah malam itu di panggil kak akhza dan aku tidak jadi mampir di stand adiba. Tapi entah apa maksud dan tujuan kebaikan adiba yang menungguku di dekat ruang osis hanya untuk memberikan dua buku tersebut. Aku tak ingin menyalah artikan, bagiku guyonan dua pria yaitu wildan dan kang ujang udah jadi beban hidup.


Apalagi di tambah satu, hemmm, baru ini aku merasa ada yang suka. Ya


semoga saja perasaanku salah…


“mbakkk..” panggil adik tersayankku,


selama tiga hari sibuk aku jarang memperhatikannya.


“iya ada apa?” jawabku.


“mbakkkk...., aku lapar, tolong masak ..., anak gadis jangan rebahan nanti jadi prawan tua yang gak laku-laku”


Ku kerutkan keningku setelah mendengar kata-kata indah Fathan di balik pintu kamarku. Itu adik ku lagi mohon dibelas kasiani atau lagi mengutuk kakaknya. Suruh masak tapi kata-katanya kok gak enak di dengar batinku.


Aku segera beranjak dari kasur, tu anak orang nanti mati kelaparan.


“udah gede ya masak sendirilah”


kataku setelah melihat Fathan yang bersandar di dinding dekat pintu.


“kan mbak yang wanita” jawabnya


“emang wanita wajib masak gitu,,, tu ngaji yang benar” kataku sambil berjalan ke dapur.


Ibu sepertinya tidak masak, setelah melihat aku lagi liburan meski bukan hari minggu. Sedangkan Fathan gak sekolah. karena tadi malam diare yang membuat tubuhnya lemas.


“udah sana tiduran dulu, nanti kalau matang aku atar” kataku pada Fathan yang membuntuti ku.


“jangan lama ya mbak” katanya lemah.


Keluargaku bukan orang kaya, ya sangat sederhana dan Alhamdulillah tercukupi, namun ketika akan masak, kita tidak langsung mendapatkan bahan yang sudah tersedia di kulkas. Jadi diputuskan untuk belanja di toko sayur, karena ini cukup siang untuk menunggu tukang sayur keliling lewat.


“tumben mbak fatin belanja” sapa ibu


tetangga yang ketepatan lagi belanja.


“iya bu, “ jawabku singkat.


“kok gak sekolah” tanyanya.


“lagi libur sehari” jawabku.


Emang benar hari ini sekolah meliburkan satu hari untuk istirahat.


“ kemarin malam, dari mana mbak kok di antar mobil bagus” sambungnya lagi,


otakku yang awalnya lobet langung nyambung seketika. Ya tadi malam aku nebeng irtifa, karena pulangnya kemalaman.


“habis acara sekolah bu” jawabku singkat.


“kok pulangnya malem sekali,” tanya curiga.


Ya pantas saja jika ibu itu tak tau ada acara sekolah di sekolahan kami,karena hanya sedikit yang bersekolah di sekolahan elit, aku pun jika tidak beasiswa mana mampu bayar spp nya.


“karena selesainya emang malam “


jawabku berusaha menekan emosiku, ya meskipun aku itu kalem bukan berarti aku tak punya rasa kesal ya.


“ Ati-ati low mbak, jaman sekarang orang sulit ditebak, muka kalem bukan berarti bener, itu anaknya sebelah rumah pak RT, yang kelihatannya sok polos, ehh tiba-tiba udah lahiran, padahal nikahnya masih tiga bulan” ucapnya. Aduh mulai ghibah ni, dari pada aku menimpali ucapan ibu tadi lebih baik ku abaikan aja.


“bu ini sudah” ucapku pada ibu pedagang sayur.


“ dasar anak jaman sekarang gak sopan sama orang tua” gumamnya yang masih terdengar di telingaku. aku hanya tersenyum simpul saja sambil mengambil belanjaan ku.


“mari bu” ucapku sebelum pergi.


Udah ku tebak, pasti ibu tadi akan membicarakan ku dengan ibu penjual sayur, apalagi mengaitkan dengan orang yang dibicarakan tadi, anak rumahnya sebelah pak rt. Yang dipandang buruk belum tentu buruk yang di pandang baik belum tentu baik, jadi lebih amannya diam saja dari pada menerka-nerka keburukan orang lain, nanti malah salah mengertikan hahaha..


🍒🍒


Liburan sementara kita sudah habis. Aku dan Fathan sudah siap dengan seragam sekolah. Adikku menaiki motor bututnya. sedangkan aku sedang mengayun sepeda. Lama aku tak membahas kang ujang, bukan berarti aku melupakannya.


Karena lama tidak bertemu bukan berarti rindu, aku


hanya sedang menghindar saja agar mood ku baik sampai di sekolah, hingga kegiatan belajarku berjalan lancar, namun hari ini ku putuskan untuk berangkat melewati jalan yang lebih cepat dan tidak menyita waktu lama meski ada tantangan besar


siap menghadang hehehe…


Dari jarak sepuluh meter sosok nya


sudah terlihat di pelupuk mata. Namun aku enggan untuk  menyapanya. Seperti bertemu puja hati yang


lama  tak bertemu dan menahan rindu sekian lamanya, itulah tatapan kang ujang saat ini pada ku. Ya dengan langkah cepat ia berjalan untuk menghadang ku dengan kantong plastik di tangannya.


Kalau saat ini yang ku kendarai mobil tentu dia sudah ku tabrak aja, meski harus mendekam di penjara, tapi jangan lahh.


“neng fatin, lama akang gak jumpa


semakin cantek aja” ucapnya. Merusak suasana pagi hari ku yang cerah tanpa awan.


“maaf kang fatin lagi buru-buru” ucapku.


Membelokkan roda sepedaku, tapi ini


orang tua malah ikutan juga. Kang ujang menyodorkan plastik yang ia bawa. Perasaan


sudah lama aku tak lewat jalan ini, tapi ini orang kok gak hilang-hilang, seharusnya begitu kan.


“maaf kang fatin udah bawa bekal”,


kataku sambil menunjukkan plastik yang berisi kotak makan kosong.


“tapi neng,,,” ucapnya dengan


ekspresi melas tapi aneh di mataku, ya kang ujang kalau gak salah sih umurnya di atas umurnya ibu. Tapi karena gak seratus persen jadi belum nikah, dan apes nya aku di kejar-kejar.


“ maaf ya kang, nyingkir dikit ya”


ucapku, yang membuat kang ujang memberiku sedikit jalan. Langsung saja aku tancap


gas, eh tancap kaki untuk mengayuh. Sedangkan teriakan kang ujang di belakang ku abaikan.


“tu keringet, apa air ya fa”


tanya  irtifa yang sudah duduk manis di


aula. Bukannya menjawab aku langsung duduk di sebelah irtifa yang memang di peruntukkan untuk ku.


yang belum teratur.


“mana aggy” tanyaku. Sambil celingak-celinguk kesamping.


“tadi bilangnya mau nambah libur,


tapi gue marahin di chat,, ya jadi dia mau berangkat tapi telat” cerita irtifa.


“eh loe lagi dikejar-kejar pengagum


rahasia mu itu kan?” tanya irtifa.


Aku hanya mengangguk saja. Tidak penting


membahas kang ujang di sekolah.


Tak lama acara di mulai. Hari ini adalah acara pengumuman pemenang lomba dan stand kelas yang terbaik. Namun si ketua kelas kita juga belum hadir, padahal satu kelas sudah kumpul semua tanpa ada yang izin absen kecuali si ketua dan wakilnya.


“hello guys”


Ya yang kita tunggu sudah datang


meski bukan orang penting. Ya mereka berdua datang bersamaan, atau mungkin


mereka sudah bersekongkol untuk tidak masuk tadi.


“udah terlambat tiga puluh menit, denda bayar langsung ke bendahara” ucap irtifa.


“galak amat low udah kayak


emak-emak, untung bukan emak gue” ucap wildan.


“gagal rencana kita ni gy”


lanjutnya.


Aggy yang di ajak bicara hanya cuek


bebek.


“spa suruh berangkat, tadi gue kan Cuma


kasih pilihan, low pada berangkat atau nanti kita sepak bareng-bareng dari


kelas” sahut irtifa.


“udah jangan debat, acara sudah


mulai.” Kataku melerai


Lima belas menit telah berlalu. Namun


tak ada satupun nama kelas kami yang di sebut. Kalau masalah lomba cerdas cermat aku tau kelas kami memang tak lolos. Tapi untuk lomba yang lainya kok tidak ada satu pun yang juara gitu. Tapi sudahlah belajar dari kekalahan itu akan membuat kita semakin kuat, kuat menerima kenyataan bahwa kita bukan orang yang diharapkannya hehehe.


Hingga sampai semua perlombaan sudah di sebutkan, semua para wakil kelas lain maju dan silih berganti, tidak ada satupun perwakilan


kelas kami yang maju ke depan. Memang kami tak ada menang sama sekali, mengharapkan menang di stand terbaik pun hanya sebuah peluang kecil.


Kami masih fokus mendengarkan mc membacakan urutan pemenang stand terbaik dengan berdoa, bahwa kelas kami memiliki kesempatan itu. Namun sayang juara tiga sudah di tempati kelas IPA, yang disusul juara dua yang di tempati kelas IPS, tetangga kelas kita, dan yang terakhir kelas adiba.


sungguh kecewa tapi tak sampai patah


hati. Namun yang membuat terkejut kelas kami di panggil sebagai stand favorit dan istimewa karena pengunjungnya terbanyak dan pernah di kunjungi bapak perwakilan yayasan itu.


Irtifa  gembira, sampai merusak gendang telingaku. Segera ku suruh aggy untuk maju. Namun dia malah mendorongku hingga aku berdiri. Semua


siswa menatap ke arahku. Dengan sedikit rasa percaya diri aku melangkah. Segera ku


ambil posisiku di samping adiba.


“kelas mu keren fa” ucap adiba yang


bicara seperi berbisik.


“kelas mu juga” jawabku.


Tak lama ketua pelaksana, naik keatas panggung untuk memberikan hadiah. Yang menurut ku itu spesial, karena sejak dari tadi para guru dan bapak kepsek yang memberikan langsung pada  pemenang lomba. Para pemenang mendapatkan


satu piala dan satu piagam penghargaan yang akan di pasang di kelas masing-masing untuk di kenang.


Sedangkan tangan ku yang mungil ini harus


memegang piala, serta sertifikat piagam, dan buket bunga mawar putih yang cukup besar.


“selamat” ucap kak akhza, yang tidak bisa menjabat tanganku.


Setelah itu sesi foto, karena tadi terakhir kak akhza berdiri di depanku, jadi dia mengambil tempat di sampingku. Yang membuat aku dag dig dug gak karuan setelah di apit dua cowok yang menurutku


sama-sama tampan.


“bagaimana perasaannya fa” ucap


irtifa setelah kembali, yang di sambut teman satu kelas. Aku hanya tersenyum simpul, namun wajahku tidak bisa menyembunyikan pipi merah merona yang entah mereka artikan karena aku grogi, malu atau kerena ada yang lain, yang jelas itu hanya aku yang tau.


“mari kita sambut ibu Pj kita dengan


pelukan hangat” ucap wildan dengan tangan terlentang seolah akan memeluk, namun


dengan sigap irtifa menghalanginya.


“dilarang peluk calon kakak ipar gue”


ucap irtifa yang mengurungkan niat wildan.


“dia calon bini gue, kalau gitu low


mau magang jadi adik gue ya” jawab wildan yang mendapat tinjuan tangan mungil


irtifa.


“udah lah ayokk kita ke kelas,


lanjutin debatnya nanti, kasian fatin yang lagi hatinya maratonan” ucap aggy.


Kami pun akhirnya keluar aula, karena memang acara sudah usai. Aggy membawa piala dan irtifa membawa sertifikat, sedangkan aku membawa buket bunga kesayanganku, setelah melalui


debat panjang dengan wildan yang memintanya , untuk digunakan buat bucinin cewek-cewek yang lewat koridor sekolah. Hingga membuat salah mengartikan bahwa ketidak bolehanku adalah rasa cemburu padanya, pede sekali dia…


bersambung....


JANGAN LUPA KOMEN VOTE N LIKE..😚😚😚