Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 90 - Ending



Baby Agam menjadi rebutan sampai Megan tidak mempunyai kesempatan untuk mengurus bayinya, dia hanya bisa menyusui bayi laki-laki itu setelahnya baik Ara, Theo dan Ibu mertuanya bergantian bermain dengan baby Agam yang gembul.


"Lihatlah pipinya, seperti bakpao kan ayah," ucap Ara sambil menoel-noel pipi adiknya.


"Adonan kecubungnya kelebihan fermipan makanya jadi mengembang seperti ini," balas Theo.


Mereka seperti mempunyai mainan baru.


"Biar seharian betah itu bermain dengan Agam," ucap Ibu Sri seraya mendekati Megan. Dia membawa nampan berisi makanan yang dimasaknya. "Sayur daun katuk baik untuk melancarkan ASI!"


Baru pertama kali ini Megan mencoba sayuran itu, rasanya tidak terlalu buruk.


"Ini enak, Bu," komentar Megan. Dia jadi cepat lapar karena menyusui.


"Pokoknya jangan memikirkan hal yang membuat setres karena nanti pengaruh juga pada bayi," ucap Ibu Sri lagi.


"Bagaimana mau setres, di sini dikelilingi oleh orang-orang yang sayang padaku lagipula aku seperti tidak mempunyai bayi karena tidak diperbolehkan mengurusnya," balas Megan yang membuat menantu dan mertua itu tertawa bersama.


Hari demi hari terus berlalu, Agam tambah besar dan pintar. Anak itu tumbuh dengan kasih sayang melimpah ruah. Tapi, Agam sepertinya mempunyai dunia lain yang hanya bisa dilihat oleh anak itu.


"Ayah, sepertinya orang itu tidak bisa berjalan karena ada anak kecil yang menggelantung di kakinya," ucap Agam pada Theo.


Pada saat itu Agam dan Theo berada di jalanan yang tengah macet, ada seorang pejalan kaki yang cara berjalannya diseret dan memakai tongkat.


"Kan Ayah sudah bilang kalau lihat yang aneh-aneh, tidak usah dihiraukan," balas Theo pada putranya yang sudah berusia lima tahun itu.


Agam sepertinya memang bisa melihat hal tak kasat mata, bahkan beberapa kali memergoki tuyul di pasar yang ingin mencuri uang para pedagang.


"Aku tidak suka mereka, mereka suka dekat-dekat," ungkap Agam. Hal yang paling menakutkan ketika terjadi kecelakaan, Agam bisa melihat korban kecelakaan yang berdarah-darah mendekat padanya.


Theo sudah berusaha meminta bantuan para ahli agama supaya menutup mata batin Agam tapi semua selalu bilang kalau Agam anak yang spesial.


"Nanti malam kita ke pasar malam beli gulali dan naik kora-kora kesukaanmu," bujuk Theo supaya suasana hati Agam membaik.


"Baiklah, Ibu sama mbak Ara juga diajak ya, Ayah," sahut anak itu.


Malam itu, Theo membawa keluarga kecilnya ke pasar malam.


Ara menggandeng tangan adiknya dan berjalan duluan untuk mencari penjual gulali.


Sementara Theo berjalan berdua dengan Megan.


"Anak-anak sudah besar, apa kita perlu menambah lagi?" tanya Theo.


"Aku sudah cukup pusing dengan Agam yang menangis setiap diganggu mbak Kunti jadi stop produksi anak mulai sekarang," balas Megan.


Theo tertawa seraya merangkul istrinya. "Tapi kau bahagia kan, sayang?"


"Kau takut aku tidak bahagia, ya?" Megan justru bertanya balik.


Perempuan itu membalas rangkulan suaminya sambil matanya yang memandangi dua anak mereka yang makan gulali.


"Aku sangat bahagia dan terima kasih sudah hadir di hidupku," ucap Megan seraya mengecup pipi suaminya.


"Aku juga berterima kasih karena malam itu sudah menodaiku," balas Theo.


Megan menyikut perut suaminya karena jika membahas hal itu dia akan malu. Tapi, tidak bisa dipungkiri karena malam itu dia bisa merasakan kebahagiaan seperti sekarang.


"I love you, Sulistiyono," ucap Megan dalam hatinya.


...***...


...TAMAT...


Lanjut cerita mbak Ara habis itu cerita Agam ya😘


Jangan lupa follow akun NT othor dan IG @dhevisjwta