Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 30 - Nafkah Lahir Batin



Kalau begini Theo bukan seperti remaja yang telah diperkosa Megan tapi Theo seperti seorang laki-laki sejati.


Bahkan Theo kuat menggendong Megan sambil berjalan menuju kamar.


Megan terus mengerang dan Theo tidak berhenti menghentak tubuhnya.


"Jangan keluarkan di dalam," Megan memberi peringatan.


Tapi, lagi-lagi terlambat karena Theo keburu menembakkan banyak bibit lato-latonya.


"Terlanjur, Kak," balas Theo yang tubuhnya ambruk di atas punggung Megan.


Megan tidak bisa menanggapi lagi karena masih mengatur nafasnya.


Permainan lato-lato pagi ini sungguh luar biasa karena Theo yang mulai pro.


"Kakak istirahat biar aku lanjut membuat seblaknya," ucap Theo sambil menutupi tubuh polos istrinya dengan selimut.


Theo kembali ke dapur sambil memunguti bajunya dan Megan yang tercecer di lantai.


Kemudian dia mulai memasak seblaknya, karena suasana hatinya bagus, rasa seblak hari ini sangat mantap. Theo sangat puas dengan rasanya saat mencicipinya.


"Megan..." panggil Tia seraya membuka pintu apartemen.


Bukannya Megan yang perempuan itu dapati tapi justru Theo dengan mangkok seblaknya.


"Apa kabar?" tegur Theo.


Tia mendekati pemuda itu karena penasaran dengan mangkok di tangan Theo. "Apa ini?"


"Seblak buatanku, kakak mau?" Theo menawarkan seblak buatannya karena dia membuat lebih dari dua porsi.


"Boleh," balas Tia seraya duduk di meja makan. "Megan di mana?"


"Kakak masih kelelahan," jawab Theo.


"Kelelahan?"


"Kami habis bermain lato-lato,"


"Lato-lato?"


"Itu..." Theo jadi malu mengatakannya. "Cara berkembang biak!"


"Aku akan memanggil kakak," Theo pun berlalu ke kamar untuk memanggil Megan.


Di dalam kamar Megan baru selesai mandi, dia masih memakai bathrobe di tubuhnya.


"Kakak, seblaknya sudah jadi, di luar ada kak Tia," ucap Theo saat masuk dalam kamar.


"Tia sudah sampai?" tanggap Megan. Dia mau langsung keluar dari kamar tapi Theo menahannya sebentar.


Theo memeluk dan mencium Megan, maklum pemuda itu tengah kasmaran. Ini pertama kalinya dia merasa jatuh cinta pada wanita.


"Bagaimana permainanku, Kak? Apa jauh lebih baik dari sebelumnya?" tanya Theo.


"Lumayan," komentar Megan dengan kekehan.


"Kenapa kakak selalu menilai dengan kata lumayan?" protes Theo yang tidak puas dengan jawaban istrinya.


Megan mengelus dada suaminya. "Jadi mau jawaban seperti apa?"


"Jangan memancingku," Theo takut khilaf lagi.


"Kau bermain sangat baik, pertahankan," ucap Megan seraya menepuk pipi suaminya.


Ah, akhirnya Megan mengakuinya. Theo pasti akan mempertahankan prestasinya bermain lato-lato.


"Saat kakak pulang nanti aku pasti sudah lancar naik motor, kita bisa jalan berdua," ucap Theo.


"Aku menunggunya," balas Megan.


Mereka berjalan berdua dengan bergandengan tangan keluar dari kamar, mereka ke arah meja makan yang menjadi pusat perhatian Tia.


"Ya ampun, vibes kalian berdua seperti pasangan pengantin baru," komentar perempuan itu.


"Kan memang pengantin baru," tanggap Theo seraya menggeser mangkok seblak ke arah istrinya. "Makanlah, Kak!"


Megan melihat seblak buatan Theo kemudian melirik ke arah Tia yang sudah makan duluan. "Bagaimana rasanya?"


"Enak, coba saja," balas Tia.


Tidak mau membuang waktu, Megan langsung memakan seblaknya dan memang rasanya seperti yang Tia katakan.


Theo merasa bangga dengan seblak buatannya, dia merasa menjadi suami berguna karena sudah memberi nafkah batin dan lahir pada istrinya.