Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 74 - Kabur Lagi



Megan melihat pemandangan ibu kota dari balkon apartemennya, sudah lama sekali dia tidak melihat pemandangan seperti itu.


Semua yang telah dia rencanakan tidak berjalan dengan baik. Izin visanya hanya beberapa bulan saja jadi dia harus kembali ke Inggris lagi.


Tapi, kenapa semua jadi terasa berat ketika sudah melihat Ara secara langsung?


Megan pikir, anak itu akan membencinya tapi justru sebaliknya. Theo sudah mengajari anak itu dari awal jadi sekarang Megan sendiri yang kewalahan.


"Aku tahu ini rencanamu tapi aku tidak bisa tinggal lebih lama, aku masih berwarga negara Inggris jadi visaku hanya beberapa bulan saja, aku sedang kehabisan tenaga untuk marah padamu," ucap Megan mengirim voice note pada Tia.


Rupanya Theo mendengarnya, dia mendekat dan memeluk Megan dari belakang.


"Kalau begitu, kita sahkan saja pernikahan kita secara negara supaya kau mempunyai izin tinggal yang tetap atau pindah warga negara," ucap Theo.


Sebenarnya Megan kaget tapi dia berusaha setenang mungkin.


"Kenapa kau melakukan ini padaku?" Megan masih berusaha menjauh.


"Aku sedang kehabisan tenaga karena ulahmu jadi biarkan aku sendiri," lanjutnya.


"Aku sudah bersabar dan memberimu waktu selama tujuh tahun, apa itu masih kurang?" tanya Theo.


Megan selalu di skakmat dan hanya bisa terdiam.


"Lepaskan sikap keras kepalamu itu, lihatlah Ara sekarang," Theo mengangkat tubuh perempuan itu untuk masuk ke dalam dan membawa Megan ke kamar di mana Ara sudah tertidur.


"Temani Ara, aku tidak akan mengganggumu lagi," pinta Theo.


Dia ingin memberi ibu dan anak itu waktu berdua, mungkin saat Ara tidur, Megan tidak akan ragu menyentuh anak perempuan itu.


Dan benar saja Megan terus memandangi wajah Ara yang tertidur pulas, tangannya bahkan mengelus setiap jengkal wajah Ara.


"Apa kau benar anak yang aku kandung?" tanya Megan lirih. Air matanya menetes begitu saja karena dulu sempat berpikir untuk menggugurkan anak tidak berdosa itu.


Megan akhirnya memeluk Ara dan ikut tertidur bersama putrinya.


"Ibu..." Ara memanggil Megan dengan suara rendah. "Apa setannya sudah pergi?"


Ara ingin terus berada dipelukan sang ibu tapi dia tidak tahan karena buang air kecil. Anak itu membuat gerakan-gerakan yang membuat Megan terbangun.


"Ada apa?" Megan refleks bertanya.


"Aku ingin pipis," jawab Ara.


Buru-buru Megan mengangkat tubuh Ara untuk dia bawa ke kamar mandi, jangan sampai anak itu mengompol.


"Kenapa ditahan? Bagaimana kalau kandung kemihmu pecah," protes Megan sambil melihat Ara yang duduk di atas closet.


"Aku takut nanti kalau aku ke kamar mandi, ibu akan pergi lagi," jawab Ara.


"Kau memang sama seperti ayahmu, ya. Selalu membuatku kesulitan menjawab," ucap Megan sebal.


"Apa kami seperti TTS yang susah untuk dijawab?" tanya Ara semakin memancing.


"Entahlah, kalian mempermainkan aku," gerutu Megan.


Lebih baik dia mandi dan segera pergi dari tempat itu, dia akan protes pada Tia habis-habisan.


Namun seperti biasa langkahnya mampu dihentikan oleh Theo yang pada akhirnya membuat Megan harus pergi bersama ke agensi.


"Kita akan turun terpisah, bukan?" Megan membuka pintu mobil ketika mereka sampai.


Buru-buru Megan pergi, bukan masuk ke gedung agensi tapi justru mencegat taksi dan kabur.


"Ibu pergi kemana lagi?" tanya Ara bingung.


"Ternyata ibumu memang suka main kabur-kaburan," balas Theo.