
"Cut!"
Teriak sutradara ketika puas melihat akting Megan.
"Aktingmu semakin bagus, Megan!" pujinya.
Jarang-jarang sutradara itu memuji pemain filmnya pasti akting Megan memang meningkat.
Itu karena suasana hati Megan cukup bagus akhir-akhir ini jadi membuat akting perempuan itu mengalir begitu saja.
"Apa aku boleh istirahat sekarang?" tanya Megan.
"Istirahatlah, kita mulai lagi saat set syuting sudah siap," jawabnya.
Megan berjalan menuju tempat duduknya, di sana ada Tia yang tengah sibuk melakukan panggilan dari orang-orang yang ingin memakai jasa Megan.
"Mana ponselku?" tanya Megan seraya duduk di kursi lipat miliknya.
Tia memberikan ponsel perempuan itu walaupun mulutnya masih berbicara pada seseorang di sambungan telepon.
"Tidak ada pesan lagi hari ini," gumam Megan yang mengecek kotak pesan di ponselnya. Biasanya Theo akan rajin mengirim pesan tapi dari kemarin suaminya itu tidak mengirim pesan sama sekali. "Apa dia sesibuk itu?"
Kemudian Megan melihat galerinya dan tersenyum kecil ketika memutar video yang dikirim oleh Parto. Video di mana Theo yang belajar motor dan potret pemuda itu dengan SIM nya.
Bahkan saat Theo berjalan berkeliling motor dengan Parto nyasar di gang buntu sampai mereka dikejar anjing.
Megan jadi merindukan pemuda polos itu.
"Beberapa minggu lagi kita akan bertemu," gumamnya.
Tia yang sudah selesai melakukan panggilan menggelengkan kepalanya melihat Megan yang melamun seperti itu. "Memikirkan suamimu?" tanyanya.
"Mana ada," elak Megan yang langsung sadar.
"Oh iya, ada beberapa iklan yang ingin melakukan kerja sama. Kau akan menerimanya, 'kan?" tanya Tia memastikan.
"Ambil saja semuanya, selagi kau bisa mengatur jadwalnya," jawab Megan.
"Baiklah, ini mungkin efek dari gosip itu," tambah Tia.
Walaupun menyebalkan memang sebagian besar pasti karena itu apalagi banyak netizen yang mendukung hubungan Megan dan Ruben.
"Karena sudah terlanjur sepertinya kau harus berbicara pada Ruben untuk membuat drama putus," usul Tia kalau memang Megan menginginkan semua itu berakhir.
"Bukankah Ruben melakukan klaim secara sepihak, aku juga akan melakukannya," sahut Megan yang akan mengikuti cara main lelaki itu.
"Kenapa dia menghubungiku?" tanya Megan.
Tia melirik ke ponsel Megan supaya tahu siapa yang dimaksud. "Mungkin uangnya habis!"
"Bisa jadi," Megan akhirnya terpaksa menerima panggilan itu. "Ada apa, Mom?"
"Megan... begitu kah caramu berbicara pada mommymu?" Berta meneriaki anak perempuannya.
"Butuh berapa? Aku akan mentransfernya sekarang juga," Megan tidak mau berbasa-basi.
"Apa aku seperti ingin meminta uang padamu?" tanya Berta.
"Bukankah hubungan kita memang seperti itu?" Megan tidak mau kalah.
Berta terdengar menghela nafas. "Aku tidak mau kita bertengkar, aku ada di depan pintu apartemen mu sekarang. Cepat beritahu password nya!"
"Apa?" Megan tentu saja kaget. "Kenapa mommy ada di sana? Aku sedang syuting di luar kota jadi tidak ada di apartemen!"
"Aku akan menunggumu pulang, aku habis kena tipu dan tidak punya tempat tinggal," ucap Berta menjelaskan.
Gawat! Bagaimana kalau Berta bertemu dengan Theo.
"Mom, aku akan membantu menyewa rumah tapi pergi dari apartemenku," pinta Megan.
"Kau sungguh keterlaluan Megan! Aku bahkan belum makan dan lelah, aku butuh tempat sekarang!" Berta memaksa.
Pada saat itu bersamaan dengan Theo yang baru kembali ke apartemen setelah pemuda itu kerja shif siang di hotel.
Theo keluar dari lift dan mendapati ada seorang ibu-ibu di depan pintu unit Megan.
"Siapa itu?" batin Theo seraya mendekat.
Berta masih berbicara dengan putrinya di sambungan telepon, dia nampak menyebut nama Megan beberapa kali.
"Ibu siapa? Kenalan kak Megan?" tanya Theo karena penasaran.
Apapun yang menyangkut istrinya dia harus peka.
Berta melihat pemuda yang menegurnya. "Kenalan? Aku mommy nya Megan!"
"Astaga, ibu mertua..." Theo berseru dalam hatinya.