
Hampir dua bulan ini, Theo menunggu kabar dari Tia tapi perempuan itu tidak memberi kabar tentang rencana dinner yang dia minta.
Dia tidak bisa mendatangi Megan langsung karena harus promo lagu terbarunya dan pergi dari kota satu ke kota lain. Bahkan Theo hanya bisa istirahat saat dalam perjalanan saja, kadang di mobil dan kadang di hotel.
Akun sosial media yang telah dia buat kini mempunyai banyak pengikut sampai Theo mempunyai fanbase sendiri. Theolovers
Theo tidak bisa menampik berkat mereka juga, rejekinya terus mengalir karena mereka membantu memviralkan lagunya dan merepost setiap promo dari agensi musik yang menaungi Theo sekarang.
Sementara Bisma menjadi orang yang paling sibuk karena tidak bisa lepas dari dua ponselnya. Yang satu membalas chat yang satu menerima panggilan.
"Baiklah, baiklah," Bisma menjawab sponsor yang ingin mendanai konser tunggal Theo.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku minta istirahat seminggu?" Theo melakukan protes karena Bisma tidak memberinya waktu untuk urusan pribadi. "Lagi pula tenggorokanku mulai sakit, seharusnya kau memikirkan kesehatanku juga!"
"Ini masih rencana dari sponsor, belum ada dokumen resmi yang harus ditanda tangani dan aku sudah menghubungi dokter untuk masalah tenggorokanmu," balas Bisma.
"Mulai sekarang mulai kurangi jadwal, aku tidak mau terlalu mengejar harta kalau pada akhirnya tidak bisa bertemu dengan keluargaku," Theo memberi peringatan keras.
Pada saat itu, mereka masih dalam perjalanan karena baru pulang dari luar kota.
Tiba-tiba Tia menghubungi dirinya, Theo pikir perempuan itu akan memberinya kabar mengenai dinner yang telah dia rencanakan.
Dengan sorai gembira, Theo menerima panggilan itu.
"Theo!" pekik Tia.
"Megan kecelakaan!"
Rasanya jantung Theo berhenti berdetak, tangannya langsung gemetaran.
"Ka... kakak..." Theo yang sudah lama tidak menangis, akhirnya mengeluarkan air matanya kembali.
Setelah mendapat lokasi rumah sakit, Theo segera menuju ke lokasi itu. Butuh waktu beberapa jam untuk sampai karena jarak yang Theo tempuh lumayan jauh dan terjebak macetnya ibukota.
Saat sampai, Theo berlari untuk melihat keadaan Megan. Dia memakai jaket hodie yang menutup kepalanya dan juga masker di wajahnya.
Beruntung luka Megan tidak terlalu parah jadi perempuan itu tidak perlu di operasi, hanya saja tubuh Megan banyak luka karena terkena pecahan kaca.
"Kak Tia..." panggil Theo ketika berpapasan dengan manager itu.
Tia pada saat itu baru saja membeli makanan di kantin rumah sakit karena Megan yang baru saja sadar.
"Bagaimana keadaan kakak?" tanyanya.
"Ambillah ini dan temui dia, aku akan mengurus kasus kecelakaannya," Tia memberikan makanan yang dibelinya.
Namun Theo tidak mau menerimanya begitu saja, dia ingin tahu semuanya dengan jelas kenapa Megan bisa mengalami kecelakaan.
"Ini kasus kecelakaan yang sudah direncanakan, mobil yang membawa Megan tiba-tiba dipukul pengendara motor memakai benda keras sampai kacanya pecah, supirnya kehilangan keseimbangan dan menabrak pembatas jalan. Beruntung tidak ada korban hanya saja sang supir dan Megan jadi luka-luka bahkan mereka sampai tidak sadarkan diri," jelas Tia.
"Siapa pelakunya?" tanya Theo semakin merasa cemas. Kenapa ada orang jahat yang melakukan hal seperti itu pada istrinya?
"Aku masih menduga ini ulah Ruben karena dia mempunyai dendam dengan Megan," lanjut Tia.
Semakin Tia berusaha menjelaskan, semakin Theo menuntut jawaban kenapa hal itu bisa terjadi?
"Jangan sembunyikan apapun dariku, jangan anggap aku anak kecil tapi anggap aku sebagai suami kakak," pinta Theo.
Tia menghela nafasnya. "Baiklah, sudah saatnya kau tahu apa yang sebenarnya terjadi!"