
Megan tidak sabar menunggu Theo pulang kerja jadi pagi itu Megan berinisiatif menjemput suaminya di hotel tempat Theo bekerja.
"Aku berada di parkiran, cepat kemari!" Megan berbicara di sambungan telepon. Dia menghubungi Theo supaya mendatanginya di parkiran basement hotel.
Tak lama yang ditunggu-tunggu Megan datang juga, Theo mengenal mobil istrinya dan langsung mengetuk kaca mobil.
"Kakak?" panggilnya.
Megan menurunkan kaca mobilnya. "Cepat masuk!"
"Kenapa kakak menjemputku?" tanya Theo sambil duduk di kursi depan.
Megan berusaha menahan emosinya. "Apa kau kemarin mencuci baju dan menjemurnya di balkon apartemen?"
Dengan polosnya Theo menganggukkan kepala.
"Memangnya ada apa, Kak?" tanyanya kemudian.
Terpaksa Megan memperlihatkan grup chat yang heboh kemarin.
"Kau mengenal siapa pemiliknya?" tanya Megan memperlihatkan pakaian dalam spongebob Theo.
"Lah, itu kan pakaian dalamku," balas Theo jadi mengerti. "Apa terjatuh ya, Kak?"
"Ya iyalah jatuh kalau tertiup angin dan jatuhnya ke kepala security makanya jadi heboh lalu dicari pemiliknya," jelas Megan.
"Waduh, kalau begitu aku harus minta maaf pada security itu," Theo jadi tidak enak hati.
"Kau mau kena denda? Jangan pikir aku tinggal di rumah susun, ya," kesal Megan.
"Lagi pula kenapa harus spongebob, kau seperti anak TK!"
"Padahal itu edisi terbatas, aku belinya di pasar malam dari hasil panen jagung," balas Theo. Dia merasa pakaian dalam spongebob itu mempunyai filosofi tersendiri.
Kepala Megan langsung pusing seketika, dia akhirnya diam atau bisa lepas kendali. Perempuan itu membawa Theo ke sebuah pusat perbelanjaan tapi sebelum itu, mereka sarapan terlebih dahulu.
Megan berhenti di salah satu restoran langganannya.
Theo menurut dan mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam restoran itu.
"Pesan menu breakfast dua porsi dan kopi latte," ucap Megan pada pelayan.
Di restoran itu Megan bebas membuka masker karena setiap mejanya memiliki sekat dan terjaga privasinya.
Theo sedari tadi hanya diam karena baru pertama kali masuk ke sebuah restoran yang bentuknya seperti itu. Ada rasa insecure karena dia hanya bisa memberi Megan makan nasi padang dan nasi pecel.
"Dengarkan aku, ya. Aku akan sibuk syuting jadi jangan membuat masalah di apartemen atau ada yang curiga dan mengulik hubungan kita lebih dalam," ucap Megan membuka suara.
"Setelah ini kita akan berbelanja kebutuhanmu dan jangan cuci baju lagi, kau bisa menjadikan satu pakaian kotormu di walk in closet. Setiap pagi taruh di depan pintu apartemen nanti ada tukang laundry yang mengambilnya," tambahnya memberi penjelasan.
"Termasuk pakaian dalam?" tanya Theo.
"Ya iyalah, memangnya kenapa? Malu?" cecar Megan yang melihat raut wajah suami bocilnya itu. Dan Theo mengangguk tanda kalau pemuda itu malu pakaian dalamnya disentuh orang lain.
"Lebih malu lagi kalau pakaian dalam terbang dan jatuh mengenai kepala orang apalagi jadi perbincangan grup chat apartemen. Di grup chat itu isinya orang-orang penting dan rata-rata pengusaha," jelas Megan.
Penjelasan Megan itu semakin membuat Theo insecure. Bagaimana kalau orang-orang itu tahu kalau Megan mempunyai suami yang pekerjaannya hanya sebagai housekeeping hotel?
"Maafkan aku, Kak. Lain kali aku akan berhati-hati lagi," ucap Theo kemudian.
Bersamaan dengan itu, menu yang dipesan sudah datang. Pasangan suami istri itu makan tanpa berbicara lagi.
Theo makan dengan lahap, kapan lagi dia bisa merasakan makanan enak. Untuk hari ini, dia tidak makan telur lagi.
Saat membayar, Megan meminta bill dan memberikan kartunya. Mereka masih bergeming di tempat duduknya tanpa harus pergi ke kasir.
Pelayan hanya perlu menggesek kartu menggunakan alatnya.
"Totalnya tujuh ratus sembilan puluh ribu, terima kasih," ucap pelayan restoran itu seraya mengembalikan kartu dan memberikan kertas struk.
"Alamak, sarapan sama dengan seperempat gajiku," batin Theo.