
Megan masih berada di tempat pemotretan. Sorot lampu masih menyorotinya, walaupun terasa panas perempuan itu harus tetap profesional.
"Bagus, Megan!" seru sang fotografer.
Perempuan itu bernafas lega karena dia bisa beristirahat.
"Minumlah," Tia memberikan botol air mineral.
Megan menerima botol air mineral itu dan meminumnya. "Setelah ini jadwalku hanya syuting, 'kan?"
"Iya, kali ini kau mendapat peran sebagai protagonis wanita yang jatuh cinta pada office boy. Mirip-mirip ceritamu di kisah nyata," ledek Tia.
"Jadi, kau pasti akan mendalami peranmu," sambungnya.
"Diamlah!" Megan tampak tidak suka.
"Sebaiknya jika kau tidak ingin melanjutkan pernikahanmu, jangan beri suamimu harapan. Setiap kali kalian bercinta pasti lama-kelamaan akan tumbuh rasa," ucap Tia memberi saran.
Sebenarnya Megan memang masih belum memikirkan bagaimana masa depan pernikahannya bersama Theo. Yang jelas untuk sekarang, dia tentu saja tidak mau pernikahannya sampai terbongkar.
"Menurutmu bagaimana cara membuat dia menceraikan aku?" tanya Megan kemudian.
"Kenapa bukan kau yang meminta cerai?" Tia bertanya balik.
"Kau tahu sendiri bagaimana polosnya dia, yang ada aku malah disumpahinya kena azab," gerutu Megan.
Bukannya prihatin, Tia justru menertawakan Megan, pasti perempuan itu kewalahan menghadapi suaminya.
"Lebih baik kau pikirkan tentang siklus datang bulanmu karena itu yang paling penting, selanjutnya kita pikirkan nanti," balas Tia.
Memang benar siklus datang bulan adalah yang paling penting untuk sekarang.
Selesai dari tempat pemotretan, Megan dan Tia singgah di sebuah restoran untuk makan siang.
"Kau tahu suamiku memberi makan apa?" tanya Megan ketika menunggu pesanan makanan datang.
"Apa?" tanggap Tia.
"Nasi padang dan nasi pecel," Megan berkata dengan gelak tawa. "Dan anehnya aku memakannya sampai habis!"
"Oh iya, jangan lupa mampir ke swalayan untuk membeli pengaman. Aku akan melanjutkan kelasku, suamiku harus tahu caranya memuaskan aku," tambah Megan.
"Sisi positifnya, kau tidak bergonta-ganti pasangan lagi. Sepertinya ini memang jalan dari yang di atas supaya kau berhenti dari kebiasaan burukmu," ucap Tia menyimpulkan.
Entah kenapa Megan tidak membalas perkataan Tia itu walaupun terdengar sangat menyebalkan.
Dan sesuai keinginannya mereka singgah di swalayan dulu untuk membeli beberapa pengaman.
Dalam perjalanan pulang, ponsel Megan terus berbunyi karena salah satu grup chat tengah ramai membahas sesuatu.
Grup chat itu adalah grup chat penghuni apartemen, di sana semua staff dan security bahkan menjadi member grup.
Ada pengumuman jika telah ditemukan pakaian dalam jatuh dari balkon lantai atas.
Mereka bertanya-tanya siapa pemilik pakaian dalam itu. Megan mempunyai firasat tidak enak jadi dia pura-pura tidak tahu.
"Ada apa?" tanya Tia yang menyetir mobil.
"Tambah kecepatan saja," balas Megan.
Sesampai di apartemen, Megan buru-buru naik ke unitnya. Dan benar saja sesuai dugaan, di balkon unitnya Theo yang sebelumnya menjemur pakaian di sana jatuh ke bawah tertiup angin.
"Theo..." teriak Megan.
Jangan sampai ada yang tahu, Megan bergegas mengambil pakaian yang masih tersisa untuk dia sembunyikan.
Bersamaan dengan itu, security apartemen memencet bel unit Megan untuk bertanya mengenai pakaian dalam misterius.
"Saya tentu saja tidak tahu," ucap Megan mengelak.
"Semua unit sudah kami periksa tapi tidak ada yang mau mengaku," Security itu tampak kesal.
"Pasti ini ulah anak-anak, lihat saja pakaian dalamnya bergambar spongebob," tambahnya.
Megan mengeratkan gigi gerahamnya, sepertinya dia harus membawa Theo berbelanja dan mengganti semua barang pemuda itu yang menurutnya kampungan.