
Walaupun Tia sudah melakukan penyangkalan atas berita Megan dan Ruben, berita mengenai mereka menjalin hubungan semakin menjadi trending topic.
Karena Ruben secara sepihak telah melakukan wawancara dan membenarkan berita itu.
"Wow, wow, wow..." Bisma yang melihat berita itu di media online langsung dibuat terkejut.
Dia langsung mencari Theo yang bersiap-siap pulang.
"Sudah lihat berita tentang Megan? Bukankah kau fansnya? Lihat ini..." Bisma memperlihatkan berita Megan dari ponselnya pada Theo.
Theo tidak tertarik kalau menyangkut berita semalam, dia tidak mau melihat berita itu dan menepis ponsel Bisma.
"Aku percaya pada kak Megan," tegas Theo.
Bisma sampai bertepuk tangan mendengarnya. "Kau memang fans sejati!"
Tidak mau terpengaruh karena gosip murahan, Theo memilih untuk mencari ojek dan memintanya mengantar ke pasar sebelum pulang ke apartemen.
Theo berbelanja bahan-bahan membuat seblak terlebih dahulu kemudian pulang.
Sementara di apartemen, Megan tampak kesal karena saat ini tengah melihat televisi dan ada berita mengenai dirinya dengan Ruben.
Di berita itu, Ruben dengan tidak tahu malunya mengaku-ngaku sebagai kekasihnya.
"Sialan, mentang-mentang dia jadi sponsor filmku lantas bisa bertindak sesuka hatinya," Megan mematikan televisi dengan melempar remotenya.
"Aku tidak boleh terpengaruh," lanjutnya.
Megan menghubungi Tia supaya memundurkan jam keberangkatan karena dia menunggu Theo terlebih dahulu.
"Aku akan menjemputmu siang nanti dan kita bahas lagi beritamu dengan Ruben," balas Tia.
Saat Theo datang, Megan harus bersikap tenang seolah tidak tahu mengenai berita yang beredar. Dia benar-benar tidak mau bertengkar dengan suaminya apalagi mereka akan berjauhan.
Dan tak lama yang ditunggu datang juga, Theo datang dengan membawa plastik belanjaan bahan-bahan seblak.
"Kakak, aku pulang," ucap Theo.
"Aku menunggumu," Megan berjalan ke meja pantry dan duduk di sana supaya bisa melihat Theo yang tengah memasak.
Jujur saja Megan sering mendengar makanan bernama seblak tapi belum pernah mencoba memakannya.
"Apa di kampungmu ada yang berjualan seblak?" tanya Megan.
"Iya, biasanya aku membelinya di pasar malam," jawab Theo.
"Tapi, karena di rumah banyak sayur, kadang aku membuatnya sendiri hanya perlu membeli telur, kerupuk seblak dan toping yang kita suka," lanjutnya.
"Pokoknya telur tidak ketinggalan, ya," komentar Megan yang membuat mereka tertawa bersama.
Sejenak seperti tidak terjadi apa-apa karena baik Theo atau Megan yang tidak mau membahasnya.
"Ini bagaimana cara menyalakan kompornya, Kak?" tanya Theo yang katro karena tidak bisa memakai kompor listrik.
Megan pun berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan menuju kompor dan menunjukkan caranya.
Namun, tanpa dia duga, Theo tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aku merindukan, Kakak," ucap Theo seraya menyembunyikan wajahnya di punggung Megan.
Megan tersenyum kemudian membalik tubuhnya, dia mencium Theo dan pemuda itu membalasnya. Terjadi perang lidah untuk beberapa detik.
"Astaga, sudah bangun, ya? Ternyata suamiku sudah mulai nakal," komentar Megan yang merasakan tonjolan di celana Theo.
Mendengar Megan memanggilnya suamiku, insting laki-lakinya langsung mode on. Theo mengangkat tubuh Megan dan mendudukannya di pantry dapur.
"Kita main lato-lato satu kali di sini ya, Kak? Aku sepertinya mau meledak," ucap Theo yang dilanda gairah yang membara.
Tanpa menunggu persetujuan dari Megan, Theo mulai mencumbu leher istrinya. Kali ini Theo yang mendominasi permainan.
"Sepertinya dia sudah lulus dari kelasku," batin Megan yang bisa merasakan Theo sudah bisa membangkitkan gairahnya tanpa perlu bimbingan lagi.