
Ibu Sri membuat teh kemudian membawa teh itu ke meja ruang tamu di mana Megan yang tampak tegang menyambut kedatangan Berta.
"Minum dulu, tidak baik perempuan hamil terlalu larut dalam emosi," ucap Ibu Sri memberi peringatan secara halus.
Megan menurut, dia mengambil teh buatan ibu mertuanya dan meminumnya.
"Lihatlah keluarga suamiku lebih menganggapku manusia," ucap Megan dengan maksud menyindir.
"Tidak ada hari di mana aku menyesali semua yang telah terjadi, kalau ada lebih dari maaf pasti aku akan berikan padamu," tanggap Berta.
Megan menghela nafasnya, sebenarnya tidak ada gunanya dia marah, toh badai sudah berlalu. Dia harus bisa berdamai dengan keadaan.
"Ibu, apa itu nenekku lagi?" tanya Ara yang ingin mencairkan suasana.
"Iya, Ara bisa memanggilnya Oma," jawab Megan seraya mengelus rambut putrinya itu.
Ara berdiri dan melangkah mendekati Berta, dia ingin mencium tangan Omanya dan memperkenalkan diri.
"Nama saya Ara," ucapnya yang membuat Berta menangis.
Berta langsung memeluk cucunya yang cantik itu, walaupun Theo jauh lebih muda dari Megan tapi lelaki itu berhasil mendidik Ara dengan baik.
"Maafkan Oma," ucap Berta.
Mulai hari itu, hubungan Megan dan Berta mulai terjalin lagi bahkan Berta menawarkan diri membantu acara pernikahan putrinya.
Dan Tia cukup terbantu akan hal itu. Pokoknya Megan dan Theo hanya terima jadi saja.
Sebelum bibit kecubung semakin berkembang, acara pernikahan itu segera digelar secara sederhana tapi elegan sesuai permintaan Megan.
Rata-rata tamu undangan dari kalangan crew agensi, sesama artis atau musisi. Jadi, acara pernikahan menjadi sorotan media.
Walaupun banyak yang pro, ada beberapa yang kontra dan memberi komentar jelek pada Megan. Theo harus meminta pengertian pada semua penggemarnya supaya tidak membully istrinya yang sedang hamil anak kedua mereka.
"Sepertinya banyak respon positif," ucap Bisma yang melihat komentar-komentar di akun sosial media.
"Aku akan mengurangi bermain sosial media setelah ini," balas Theo.
Keduanya pun masuk ke tempat acara lagi.
"Setelah ini giliranmu," ucap Theo yang ingin melihat managernya itu juga menikah.
"Tenang saja, aku sudah mempersiapkan pernikahan dan bulan madu. Jangan sampai kau mengganggu kami saat enak-enaknya," Bisma memberi peringatan dari awal.
"Siapa juga yang mau mengganggu," Theo berkata seraya mendekati istrinya. Dia ingin meminta berdansa dengan perempuan itu.
Hal yang diinginkan Theo selama ini, setelah mereka mempunyai pijakan kaki yang sama.
"Aku meminta pesta sederhana tapi tetap saja membuatku kewalahan," protes Megan yang merasa lelah.
"Setelah ini kau harus bedrest di kampung, sayang. Kau harus terbiasa dengan suara ayam berkokok di pagi hari, suara jangkrik di malam hari, apalagi saat musim penghujan banyak katak akan bersenandung, jangan lupakan mulut Budhe Juminten yang suka heboh," ucap Theo yang membuat Megan tertawa.
Dia tahu kalau Budhe Juminten tidak jahat, hanya saja mulutnya memang suka ceplas ceplos.
"Aku pasti akan terbiasa lama-kelamaan," balas Megan. Dia sudah memantapkan pilihannya, lagipula kalau bosan dia bisa pergi ke kota.
Sebagai istri juragan beras berkedok musisi, Theo pasti akan bisa memenuhi semua permintaan dan kebutuhannya.
"Apa aku sudah pernah mengatakan ini?" Megan mendekat dan berbisik di telinga suaminya. "Aku menyukai suamiku berondongku!"
"Ehem!" Theo berdehem mendengarnya. "Katakan hal seperti ini di atas ranjang nanti malam!"