
Tia merasa tidak kaget karena penolakan Megan itu karena dia sudah lama mengenal sang aktris. Dia tahu bagaimana Megan jatuh bangun membangun karirnya selama ini sampai Tia tahu bagaimana sifat dan kebiasaan Megan.
"Benarkah semudah itu berpisah dengan Theo?" tanggap Tia seraya mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Aku tahu kalau kau saat ini masih terguncang karena kehamilanmu, kau bersikap dingin seperti ini untuk menutupi rasa takutmu," Tia memberikan foto USG yang baru saja dia ambil. "Usianya masih empat minggu, jangan lupa ada aku dan Theo. Kau tidak sendirian!"
"Kau pasti butuh waktu sendiri, bukan? Aku tidak akan mengganggumu!"
Setelah berkata seperti itu, Tia pergi meninggalkan sang artis sementara Megan perlahan melihat foto USG bayinya.
Air matanya menetes perlahan, dia meletakkan foto USG di dadanya. Megan merasa tidak pantas untuk menjadi ibu dari bayinya.
...***...
"Kak Tia..." panggil Theo ketika melihat perempuan itu berada di lobi penginapan.
Tentu saja Tia kaget karena Theo bisa tahu penginapan yang dia tempati. Ternyata dari unggahan Megan terakhir kali jadi Theo mencarinya.
Pemuda itu menunggu sampai Megan atau Tia kembali.
"Ayo kita bicara!" ajak Tia.
"Kakak mana?" Theo masih mengharapkan istrinya.
Dari mata Theo yang bengkak, Tia bisa melihat kalau pemuda itu habis menangis.
"Kapan kau akan berhenti menjadi laki-laki cengeng," tegur Tia.
"Kakak tiba-tiba mengajak berpisah setelah melakukan kelas tambahan padaku. Aku terus bertanya-tanya, apa salahku?" Theo kembali menitikkan air mata. Dia kembali teringat kata-kata dari Megan yang menyakitkan.
"Aku memang tidak punya banyak uang dan aku memang suami tidak bisa diandalkan tapi aku bisa memperbaiki semuanya. Aku hanya butuh kakak memberiku waktu," lanjutnya semakin berderai air mata.
"Mari kita bicarakan hal lain, ini mengenai bakatmu!"
Tia ingin mengalihkan pembicaraan, dia takut keceplosan mengenai kehamilan Megan. Kalau Theo tahu sekarang dengan kondisi Megan yang tidak stabil justru akan semakin menyakiti hati pemuda itu.
Apalagi Tia merasa kalau Megan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Aku mempunyai kenalan produser di rumah produksi musik. Dia mempunyai beberapa lagu yang belum menemukan penyanyi yang pas, aku akan merekomendasikanmu, apa kau siap?" tanya Tia kemudian.
Theo agak terkejut karena Tia menawari hal besar seperti itu, dia pikir akan memulai karir dari undangan televisi dan undangan para artis-artis senior. Bisma sudah memberi gambaran sebelumnya.
Namun sekarang, dia seperti mendapat kesempatan emas.
"Aku akan mencobanya," jawab Theo.
"Baiklah, aku akan bicara padanya. Sekarang kau harus segera pulang," ucap Tia setengah mengusir.
Hari itu, Theo memang pergi tapi dia tidak pulang. Dia akan mengintai pergerakan Tia atau Megan. Topi, masker dan kaca mata, tidak lepas dari pemuda itu.
Penantian Theo membuahkan hasil ketika Megan kembali ke penginapan tapi tak lama perempuan itu kembali ke lobi dengan membawa koper. Dan Tia mengejar Megan, terjadi perang argumen yang membuat Theo penasaran kenapa manager dan artis itu saling berseteru.
Walau pada akhirnya, Megan menang karena Tia yang mengalah.
"Aku akan bersama Ruben!" seru Megan.
Setelah berkata seperti itu, Megan keluar dari penginapan kemudian masuk ke sebuah mobil yang sudah menunggunya.
Theo tidak mau kehilangan jejak, buru-buru dia mencari ojek untuk mengejar istrinya.