
"Jadi ayahmu mengejar ibumu?" tanya Tia pada Ara yang duduk sambil makan es krim di kursi kerjanya.
Ara mengangguk. "Aku juga heran, kenapa ibu tidak lelah bermain kabur-kaburan!"
"Biarkan saja mereka, nanti juga kembali ke sini," timpal Bisma yang juga ada di sana.
Tia mendengus kasar, dia harus mengatur jadwal ulang untuk cast pemain filmnya.
"Kita tunggu Theo membawa Megan kemari," ucapnya kemudian.
...***...
Megan berjalan dengan kaki telanjangnya di pinggir pantai. Dia menikmati angin laut dan deburan ombak yang membasahi kakinya.
Pantai itu terlihat sepi mungkin karena masih dibilang pagi jadi Megan memanfaatkan suasana itu untuk sendirian.
Jika sudah siang dan banyak pengunjung, Megan pasti pergi. Dia berencana ingin menemui sang mommy. Pasti Berta sudah tahu kalau dia kembali dari berita yang beredar.
Tak lama, Megan merasakan ada seseorang yang memasang jaket ke tubuhnya dari belakang.
"Di sini dingin jadi pakai ini," ucap seseorang itu.
Dari suara dan aroma parfum yang masuk ke indera penciuman Megan, tidak salah lagi itu adalah orang yang dia hindari.
"Aku harus berlari, aku tidak boleh menyedihkan dan bergantung padanya," batin Megan seraya berlari menjauhi Theo.
Namun, Theo mampu mengejar dan memeluk Megan dari belakang sampai langkah kaki perempuan itu berhenti.
"Sejauh apapun kau berlari, aku pasti akan mengejarmu," ucap Theo.
"Kenapa kau tidak memulai hidup barumu dengan wanita lain?" tanya Megan.
"Karena aku menyukai kakak, aku sudah mengatakannya berulang kali, aku sangat menyukai kakak. Jadi, jangan pergi lagi," pinta Theo dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Megan.
Jantung Megan berdebar mendengar itu.
"Aku ingin tahu, apa yang kau pikirkan. Aku ingin tahu, apa yang kau lihat. Aku ingin tahu, apa yang kau dengar, aku ingin tahu semuanya,"
"Makilah aku sesuka hatimu asal kau tidak pergi dan yang paling penting..."
"Aku ingin kakak yang memilikiku bukan yang lain!"
Megan dibuat tak bisa berkata-kata, setelah semua sakit hati yang dia berikan pada Theo, bisa-bisanya lelaki itu justru memberinya cincin.
"Aku baik-baik saja jika kakak tidak mengakuiku, aku bisa bersembunyi selama yang kakak inginkan,"
"Sekarang katakan padaku kalau kau ingin bersamaku,"
Theo meminta seperti Theo tujuh tahun lalu.
Seketika dinding yang dibangun Megan langsung runtuh seketika.
"Kau sengaja berkata seperti itu supaya aku tidak punya alasan untuk pergi, bukan?" Megan bertanya dengan derai air mata.
"Kau membuatku supaya tidak bisa menolak permintaanmu tapi pada kenyataannya, aku memang tidak bisa menolak dan selalu tidak bisa...."
"Akan aku akhiri semua ini dengan mengabulkan permintaanmu tapi kau tahu sendiri resikonya!"
Theo tersenyum seraya memeluk Megan, kali ini pelukan dari depan yang membuat wajah Megan tenggelam di dadanya.
"Apapun aku terima asal kau tetap bersamaku," ucap Theo yakin.
"I love you, Megan. Always..."
Megan membalas pelukan Theo dan menangis karena bisa merasakan semua ketulusan Theo padanya. Dia sekarang tidak akan lari lagi.
Mereka berciuman dan tidak peduli dengan sekitar mereka sejenak.
"Ayo, pindah ke mobil!" ajak Theo.
Di dalam mobil mereka kembali berciuman dengan Megan yang duduk di pangkuan Theo, kali ini ciuman mereka lakukan dalam keadaan Megan yang sadar.
"Apa aku boleh memanggil sayang?" tanya Theo.
"Panggil sesuka hatimu," balas Megan.
"Apa aku juga harus memanggil kangmas?"