
Tia terus menunggu kabar dari Megan dan Theo di gedung agensi miliknya sampai akhirnya yang ditunggunya datang juga.
Dia melihat Megan datang sendirian.
"Ibu..." Ara langsung berlari memeluk perut Megan. "Kenapa ibu suka kabur?"
Kali ini Megan tidak menghindari Ara lagi, justru perempuan itu berjongkok dan memeluk putrinya.
"Apa setannya sudah benar-benar pergi?" tanya Ara memastikan karena ibunya memeluk dirinya secara sadar.
"Kenapa ayahmu selalu mengajarimu seperti itu?" tanggap Megan sambil mengeratkan pelukannya. "Aku bahkan merasa tidak pantas jadi seorang ibu, aku tidak pernah menggendongmu, memelukmu, merawatmu, menyusuimu bahkan tidak pernah melihat tumbuh kembangmu. Aku sudah melewatkan banyak hal!"
Ara tersenyum, anak itu justru mencium pipi Megan. "Tidak masalah, aku baik-baik saja selama ini dengan ayah dan nenek. Tapi apa aku boleh minta sesuatu pada ibu?"
"Apa itu?" tanya Megan.
"Di sekolahku akan merayakan hari ibu, aku ingin ibu datang ke acara itu," pinta Ara.
Sebelum menjawab, Megan melirik ke arah Tia sejenak.
Perempuan itu mengangguk karena Tia akan memberi waktu Megan untuk pergi ke kampung Theo.
"Baiklah," jawab Megan akhirnya.
Bahkan tanpa Megan meminta maaf, Ara sudah menerimanya dengan tangan terbuka tanpa rasa marah dan benci. Theo benar-benar mendidik putri mereka dengan baik.
Sementara Theo berada di ruangan lain, dia tengah membicarakan jadwalnya dengan Bisma. Karena Theo akan bermain film jadi jadwal konser ke luar kota harus menyesuaikan.
"Setelah semua jadwal selesai, jangan ambil job lagi," pinta Theo.
Bisma mengangguk paham. "Apa ini karena akan meresmikan pernikahanmu?"
"Tentu saja, banyak yang harus diurus apalagi mengurus berkas pindah negara yang memakan waktu," jelas Theo.
Kemudian Theo menepuk pundak managernya itu.
"Bukankah kau juga harus mencari jodoh? Kau tidak bosan menjadi bujang lapuk?" sindirnya.
"Seleraku sepertinya sama denganmu, ini pasti karena aku bergaul denganmu!"
"Cih, bilang saja suka sama Tia, kenapa harus membawa-bawaku. Lagi pula cepat nyatakan perasaanmu atau nanti kau ditinggal kawin dengan orang lain," Theo menakut-nakuti.
"Dia sepertinya menungguku," ucap Bisma percaya diri.
Theo ingin membalas lagi tapi keburu Ara masuk ke ruangan itu dan meminta cepat pulang.
"Ayo ayah, aku tidak jadi menghabiskan waktu di kota karena ibu mau datang ke acara sekolahku," ucap Ara.
"Benarkah?" Theo cukup terkejut karena sebelumnya mereka sudah sepakat untuk menyembunyikan hubungan sampai semua berkas pernikahan selesai.
Jadi, untuk memastikan Theo akan bertanya pada Megan secara langsung.
Pada saat itu, Megan masih membicarakan masalah naskah dan izin tinggal yang harus diurus serta kewarganegaraan.
"Kau akan melepas karirmu jadi artis dan hidup di kampung?" tanya Tia.
"Entahlah, aku hanya ingin mengabulkan permintaan Ara," jawab Megan.
Dia sebenarnya gugup karena akan bertemu dengan ibu Theo.
"Apa aku terlihat tua?" tanya Megan.
"Walaupun kau lebih tua sepuluh tahun dari Theo tapi kalian sangat serasi sekarang, tidak seperti kakak adik lagi," jawab Tia sambil mengamati wajah Megan. "Kau hanya perlu banyak tersenyum!"
"Kau juga harus waspada karena para gadis desa banyak yang menjadi fans Theo!"
Megan jadi gusar dan merasa cemburu. "Apa memang sebanyak itu?"
"Kau lihat saja member Theolovers sebanyak apa, kalau dia mau mencari yang lain sudah dari dulu Theo lakukan, jadi bersyukurlah mempunyai suami berondong yang setia," jawab Tia.
Walaupun begitu, Megan masih tidak merasa tenang. Dia takut saat sudah memulai semuanya ada perusak datang.
"Di mana Ruben sekarang?" tanya Megan.