
Malam itu, Theo tidak bisa tidur karena Megan tiba-tiba berubah dingin padanya. Dia diacuhkan jadi Theo bertanya-tanya, apa salahnya?
"Apa kakak sudah tidur?" tanya Theo pada Megan yang tidur menyamping dan membelakanginya.
Tidak ada jawaban jadi Theo membaringkan diri di sofa karena jujur saja, dia belum ada istirahat.
Walaupun badan lelah tapi matanya tidak bisa terpejam.
"Apa aku melakukan kesalahan di kelas tambahan?" gumam Theo.
Dia merasa bodoh karena tidak tahu apapun karena hidupnya yang lurus-lurus saja. Kalau seandainya Megan datang ke kampungnya pasti akan tahu kenapa Theo bisa seperti itu, bahkan penduduk kampung pasti tidak akan tahu Megan itu siapa.
Karena di kampungnya pecinta film azab garis keras, bukan film layar lebar seperti yang Megan bintangi.
Kalau pun Megan menjadi bintang iklan, mereka tidak akan ngeh.
"Kakak tidak marah padaku, 'kan?" Theo masih bertanya-tanya.
Jam terus berputar akhirnya baik Megan atau Theo terlelap dengan mimpi mereka masing-masing.
Keesokan paginya ketika Theo terbangun, dia sudah mendapati Megan bersiap-siap. Bahkan selang infus sudah tidak ada lagi.
"Kenapa kakak tidak membangunkan aku?" protes Theo.
Seperti semalam, Megan masih bersikap dingin padanya.
Jadi, Theo memutuskan untuk membersihkan diri dulu di kamar mandi dan ikut bersiap-siap pergi.
Pada saat pemuda itu keluar dari kamar mandi, Megan sudah tidak ada. Ternyata perempuan itu meninggalkan Theo dan saat ini sudah berada di lobi rumah sakit untuk menunggu Tia.
Semua biaya ditanggung oleh produser jadi Megan tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit.
"Kakak, kenapa aku ditinggal?" Theo bertanya setengah berbisik dan duduk di samping Megan.
Tanpa banyak kata, Megan memberikan tagihan rumah sakit yang jumlahnya puluhan juta.
"Apa kau mampu membayarnya?" tanya Megan tiba-tiba.
Theo membaca tagihan itu dan membatu. "Maafkan aku, Kak. Aku pasti akan menggantinya suatu hari nanti."
"Kau selalu saja berkelit, ya." Megan berbicara dengan nada arogan. "Mari kita berpisah mulai sekarang!"
Seperti disambar petir di siang bolong, Theo langsung bersimpuh di depan istrinya.
"Katakan apa salahku, Kak? Aku pasti akan memperbaikinya, bukankah kita masih banyak rencana? katanya kakak mau naik kereta api bersamaku dan ingin berkencan dengan motor seperti rencana kita!"
"Jadi, jangan berkata perpisahan semudah itu," Theo mengeluarkan air matanya, dia tidak mau berpisah dengan istrinya. "Aku akan melakukan apapun untuk kakak!"
"Satu-satunya yang aku inginkan adalah berpisah darimu," balas Megan seraya melempar amplop gaji pemberian Theo sampai uang di dalamnya jatuh berserakan. "Kau pikir uang segitu bisa untuk memenuhi kebutuhanku?"
"Apa tadi? Kereta api? naik motor? aku tidak akan melakukan hal kampungan seperti itu, aku berkata seperti itu hanya ingin menyenangkanmu saja," lanjut Megan.
Kemudian perempuan itu berdiri dan berkata lagi dengan sinis.
"Pulanglah dan kemasi semua barangmu dari apartemenku, saat aku pulang, aku ingin kau sudah tidak ada di sana!"
Setelah berkata seperti itu, Megan berjalan keluar dari rumah sakit dan menunggu Tia yang datang bersama Ruben.
Megan sengaja merangkul Ruben ketika lelaki itu datang dan membenarkan berita di antara mereka.
"Akhirnya kau sadar juga, Megan," Ruben mengusap kepala perempuan sambil berfoto bersama sang aktris untuk dia unggah di sosial media.