
Karena jadwal syutingnya besok, Megan tinggal sehari lagi di rumah sakit supaya kondisinya benar-benar pulih.
Theo masih setia menunggu istrinya, dia sudah mendapat izin dari kepala kebersihan hotel yang mengizinkannya selama seminggu penuh untuk ke luar kota.
Saat ini, dia ikut berbaring di samping Megan dengan Theo yang memeluk istrinya.
"Jadi, kau naik kereta api untuk datang kemari?" tanya Megan seraya mengadah menatap Theo. "Akan aku pesankan hotel, tunggulah aku karena sebentar lagi aku akan selesai syuting. Aku ingin pulang naik kereta api bersamamu!"
"Kalau begitu kita bisa memesan kereta api kelas bisnis," balas Theo.
Dia sangat senang karena Megan tidak arogan seperti dulu, justru cara membahagiakan istrinya adalah dengan hal-hal sederhana.
"Kakak harus istirahat karena besok akan kembali syuting," Theo menaikkan selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
"Kau akan ada di sini sampai aku tidur, 'kan? Aku suka aromamu," Megan menghendus leher suaminya kemudian mengecupnya.
Hanya diperlakukan seperti itu saja, tubuh Theo rasanya bergetar bahkan batang lato-latonya mulai bangun.
Theo tidak boleh egois walaupun ingin bermain lato-lato dengan Megan. Istrinya sedang tidak fit seperti biasanya.
"Kakak, cepatlah tidur!" Theo mengelus kepala Megan.
Namun, perempuan itu bisa merasakan kalau Theo tengah gelisah.
"Kau ingin bermain lato-lato?" tanya Megan.
"Tidak," jawab Theo seraya memalingkan wajahnya.
"Sepertinya ini tidak bisa berbohong," Megan dengan nakal menyentuh bagian celana suaminya yang menyembul.
Theo semakin gelisah, dia mencoba menjauhkan tangan Megan.
"Jangan begini, Kak," tolaknya.
Bukannya berhenti, Megan justru semakin bersemangat.
"Sebenarnya ada cara lain mengeluarkan bibit lato-lato itu tanpa harus dimasukkan. Ini adalah pelajaran tambahan dan berguna ketika sedang berjauhan dengan pasangan," jelas Megan.
"Coba keluarkan dulu!" pinta Megan.
"Tapi, ini di rumah sakit, Kak. Nanti ada yang melihat," Theo yang masih mempunyai jiwa polos tentu saja takut ketahuan.
"Ini sudah malam, perawat tidak akan kemari kalau kita tidak memanggilnya," Megan tetap memaksa supaya Theo bisa menerima kelas tambahan.
Akhirnya Theo mau dan membuka resleting celananya.
Sesuai dugaan Megan kalau batang lato-lato itu sudah tidak tertolong lagi.
"Ini harus segera dikeluarkan, coba urut memakai tanganmu sendiri," ucap Megan mengarahkan.
"Hah? Kenapa harus begitu?" Theo rasanya masih asing melakukan hal seperti itu.
"Hal normal bagi seorang pria mengeluarkan secara solo, justru kalau mengendap dalam tubuh akan menjadi penyakit," jelas Megan.
Yang Theo tahu hanyalah mimpi basah, dia tidak pernah melakukan solo karir seperti yang Megan jelaskan.
Jadi, kali ini Theo akan mencobanya karena sudah dalam keadaan darurat.
"Bayangkan saja saat kita bermain lato-lato," Megan membimbing seraya mencium suaminya.
Sementara tangan Theo bermain di bawah sana, rasanya dia tidak bisa menahan diri lagi. Jadi hanya hitungan menit saja bibit lato-latonya sudah keluar dan membasahi tangannya.
"Kau selalu belajar dengan baik," komentar Megan sambil mencari tisue.
"Lain kali lakukan seperti ini kalau tidak bisa menahannya atau kalau pasanganmu sedang menstruasi," lanjutnya.
Tunggu, Megan jadi melewatkan sesuatu?
Bukankah dia belum menstruasi semenjak pertama kali berhubungan dengan Theo?
Buru-buru Megan melihat tanggal di ponselnya dan menghitung. Sudah hampir dua bulan semenjak kejadian malam itu.
"Ada apa, Kak? Apa kakak sakit?" tanya Theo cemas ketika melihat wajah istrinya memucat.