Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 89 - Bayi Kecubung



Megan dan Theo memang menjadi couple goal yang diidamkan oleh para netizen apalagi potret mereka sering menghiasi sosial media.


Apalagi saat kabar Megan yang mengundurkan diri dari dunia entertainment dan memilih hidup di kampung, pasangan itu semakin menjadi buah bibir.


Usia kandungan Megan sudah memasuki bulan ketujuh jadi perutnya sudah membesar. Dia harus segera ke kampung karena ingin melahirkan ditemani oleh anak dan ibu mertuanya.


"Nanti aku menyusul kalau pekerjaanku sudah selesai semua, sayang," ucap Theo ketika melepas istrinya pergi.


"Aku menunggumu," balas Megan yang sebenarnya tidak mau berpisah dengan suaminya.


Theo langsung mencium istrinya, dia suka Megan yang bersikap manja. Dia pasti akan merindukan perempuan itu.


Akhirnya Megan dan calon bayi kecubung meninggalkan kota dan pergi ke kampung halaman Theo, kampung Suka Maju.


Entah siapa yang memberi nama kampung itu.


Ara dan Ibu Sri menunggu kedatangan di rumah baru, rumah itu sudah mulai terdapat furniture yang Megan pesan dari kota.


Ada beberapa perlengkapan bayi juga yang disiapkan.


"Nek, sepertinya kita harus melakukan gladi resik saat adik nanti mau lahir," ucap Ara yang sudah memikirkan sejauh itu.


Ibu Sri sampai tertawa mendengarnya. "Lahiran tidak perlu gladi resik, ibumu pasti tahu tanda-tandanya nanti dan kita bisa langsung membawanya ke rumah sakit!"


"Aku jadi takut," Ara memainkan stroller bayi adiknya dan meletakkan bonekanya di dalam sana.


Sampai yang ditunggunya datang juga, Megan datang dengan perutnya yang membesar.


"Apa ibu lelah?" tanya Ara perhatian.


"Tidak, adikmu sepertinya senang berada di rumah baru, dari tadi bergerak terus," jawab Megan yang mendudukkan dirinya di sofa.


Ara meletakkan daun telinganya di perut ibunya, dia ingin merasakan gerakan adiknya di dalam sana. Dan benar saja bayinya menendang terus.


"Jangan nakal, ya," ucap Ara sambil mengusap-usap perut buncit itu.


Ara begitu perhatian pada calon adiknya, dia bahkan rela menabung uang jajannya untuk dia belikan mainan bayi.


"Kan adiknya belum lahir, kenapa sudah dibelikan mainan?" tanya Megan sambil menggelengkan kepalanya.


"Adik pasti suka ini, aku tadi membelinya di pasar malam bersama nenek," Ara memutar mainan itu kemudian baling-balingnya yang warna-warni memutar.


Dari sini Megan bisa melihat kalau Ara akan menyayangi adiknya nanti.


Sesuai harapan Theo, kehamilan Megan kali ini dipenuhi perasaan bahagia dari ibunya. Jadi, waktu cepat berlalu tanpa terasa usia kehamilan tinggal menunggu hari.


Dan di saat itu Theo sudah pulang karena ingin menjadi suami siaga.


"Adik terus bergerak sepertinya ingin jadi pemain sepak bola," jawab Ara dengan asumsinya karena memang bayi kecubung diprediksi berjenis kelamin laki-laki. "Aku akan menabung untuk membeli bola!"


"Bayi belum bisa main bola, uang jajannya dibelikan makanan saja," Theo harus melarang dari sekarang atau Ara akan membeli barang-barang lagi untuk adiknya yang belum lahir.


Malam itu, bulan tampak berwarna merah, tidak seperti biasanya. Megan terjaga dari tidur karena merasa kesakitan.


Pergerakan dari Megan membangunkan Theo, lelaki itu mendapati istrinya yang meringis menahan nyeri.


"Apa sakit? Sepertinya mau melahirkan," ucap Theo.


Megan menganggukkan kepala setuju. "Cepat, kita harus ke rumah sakit sekarang!"


Tanpa babibu lagi, Theo segera membawa istrinya ke sebuah klinik bersalin karena rumah sakit jaraknya lumayan jauh.


Dia ingin istrinya cepat ditangani.


"Lahiran tengah malam begini ditambah bulannya berwarna merah," ucap Ibu cemas.


"Jangan mikir tidak-tidak, Bu. Istriku sudah kesakitan dari tadi," balas Theo yang bersiap menyetir mobil.


Mereka pun berangkat ke klinik bersalin dan saat sampai para petugas dengan sigap membantu Megan melahirkan.


"Sakit.." keluh Megan yang merasa melahirkan kali ini jauh lebih sakit dari pada melahirkan Ara dulu.


"Tenang sayang, aku ada di sini," Theo menggenggam tangan istrinya dan berdiri di samping Megan.


"Aku merasa kepalanya sudah mau keluar," ucap Megan.


Para petugas memeriksa dan benar saja kepala bayi sudah terlihat.


"Pembukaannya cepat sekali," para petugas klinik sampai bingung. Seolah sang bayi tidak sabar ingin keluar.


Hanya perlu sekali mengejan saja, bayi laki-laki Megan dan Theo sudah keluar. Bayi yang sehat dengan berat di atas empat kilo gram.


Bayi itu hanya menangis sebentar kemudian tidur di atas dada ibunya.


"Dia lebih besar dari Ara dulu," komentar Theo yang melihat bayi laki-lakinya.


Megan tersenyum haru, akhirnya bisa melihat bayi kecubungnya. "Siapa namanya?"


"Agam Sulistiyono," jawab Theo.


...***...


NB : Bulan merah nanti ada hubungannya sama cerita Agam, ya.