Hidden Husband

Hidden Husband
S2 | HH BAB 71 - Gempa Lokal



Ara terbangun saat beralih gendongan, dia bingung karena berada di gendongan Tia, bukan ibunya lagi.


"Ibu di mana?" tanya Ara.


"Kau bangun?" Tia tetap menggendong anak itu tanpa menurunkan tubuhnya yang kecil. "Ternyata kau sudah pandai berakting sama seperti ibumu, ya?"


Ara baru teringat dengan akting sakit perutnya dan ternyata memang Megan masih peduli padanya. "Kenapa ibu berbohong kalau tidak pernah menganggapku ada?"


"Sebagai seorang pemain film, Megan dituntut harus bisa berakting dan menguasai emosinya. Jadi, jangan percaya padanya," balas Tia.


"Dan bersabarlah, ayahmu pasti bisa menaklukkan ibumu!"


Tia menurunkan Ara kemudian mencari Bisma yang mengamati mobil sedari tadi.


"Bagaimana?" tanya perempuan itu.


"Mobilnya pergi dan kita ditinggal," jawab Bisma.


"Kalau begitu kita pesan taksi dan pulang ke rumahku saja," ucap Tia seraya adu tos dengan lelaki itu.


"Rencana pertama berhasil, kita tunggu selanjutnya, apa yang akan terjadi," Bisma kemudian merangkul Tia karena kesenangan.


"Lepaskan, ada Ara di sini," Tia mencoba menjauhkan tangan Bisma darinya. Padahal dalam hatinya suka.


...***...


Karena Megan berhalusinasi ke arah penyatuan raga, Theo segera membawa mobil ke apartemennya. Dia tidak mau ada mobil bergoyang.


Di dalam perjalanan Megan bernyanyi dan tertawa sendiri, kadang juga menangis sendiri tanpa sebab.


Ternyata efek buah kecubung lebih kuat dari pada alkohol. Bahkan kalau mengonsumsi berlebihan, bisa sampai di rawat atau pingsan berhari-hari.


"Aku terbang... Aku terbang..." Megan merasa mempunyai sayap dan terbang.


Padahal Theo tengah menggendongnya di pundak seperti karung beras. Lelaki itu membawa Megan masuk lift yang berada di parkiran basement dan langsung menuju lantai paling atas, di mana unit penthouse berada.


Namun, baru saja pintu terbuka, Megan tiba-tiba turun dan langsung menyerang Theo sampai lelaki itu ambruk ke lantai.


Megan duduk di atas perut lelaki itu dengan tubuh membungkuk karena ingin mencium Theo.


Terdengar suara decapan lidah karena Theo menyambut ciuman dari Megan, dia sangat merindukan istrinya. Mungkin di alam bawah sadarnya, Megan juga merasakan hal yang sama.


"Eugh!" Megan melenguh karena Theo sekarang mengambil alih dengan mencium leher dan meremas buah dadanya.


"Ayo kita pindah tempat," bisik Theo. Dia berusaha berdiri dan menggendong Megan seperti bayi koala.


Theo membuka pintu kamar lalu berjalan ke arah ranjang dan menurunkan Megan di sana. Dia berjongkok sambil membuka high heel yang dikenakan istrinya.


Ketika high heel terlepas, Theo mencium kaki istrinya itu dan semakin naik sampai ke paha.


Megan mulai menggelinjang kegelian, refleks dia membuka bajunya sendiri.


"Aku akan melakukan sesuatu yang belum kau ajarkan di kelasmu," ucap Theo.


"Apa itu?" tanya Megan.


"Seperti ini," Theo membuka kedua kaki Megan dan menurunkan segitiga bermuda perempuan itu.


Megan sangat gugup karena mengerti sesuatu yang akan dilakukan oleh lelaki itu. Dan benar saja tak lama dia merasakan serangan di bawah sana.


Dia hanya bisa meremas seprai karena merasakan sensasi luar biasa dari lidah tebal Theo yang mengacak-ngacak miliknya.


Sampai Megan merasakan puncaknya di sana, nafasnya terengah dan rasa kantuk mulai melanda.


"Ini baru permulaan, aku belum selesai," Theo berbisik di telinga Megan supaya perempuan itu tetap membuka mata.


Megan tertawa kecil karena efek kecubung masih ada pada dirinya. "Apa setelah ini akan ada gempa lokal?"