
Megan mengambil ponselnya yang tidak terpakai lalu memberikannya pada Theo. "Pakailah ini, jangan membuat mataku sakit saat melihat ponselmu itu!"
"Apa ini tidak apa-apa?" Theo tidak terbiasa menerima barang cuma-cuma.
"Itu masih baru, aku mendapat endorse dari perusahaannya," jelas Megan.
Theo membuka ponsel itu dan wallpaper depan ada foto Megan yang sangat cantik. Dia tersenyum kemudian berterima kasih pada istrinya.
"Aku akan belajar menggunakannya," ucap Theo.
"Nanti juga bisa-bisa sendiri, yang jelas sekarang beban hidupmu akan bertambah karena harus beli kuota internet. Tapi, tenang saja kalau di apartemen ada wifi yang bisa kau gunakan," balas Megan seraya membaringkan dirinya di atas kasur.
"Aku lelah dan mau tidur lagi, kalau aku sudah syuting akan jarang bisa beristirahat," tambahnya.
Tidak mau mengganggu istrinya, Theo cepat pergi dari sana. Namun, Megan menahan langkahnya sebentar.
"Kalau security bertanya siapa kau, jawab saja adikku, okay," Megan memberi peringatan keras lagi kalau status mereka tidak boleh bocor.
Theo mengerti, dia tidak mau menghalangi karir istrinya.
Pemuda itu pun akhirnya pergi atau dia akan terlambat.
...***...
Seperti biasa, Theo akan menggunakan banyak energinya untuk membersihkan kamar-kamar hotel baik kamar itu baru ditinggal maupun akan digunakan.
Dia akan beristirahat di pantry bersama rekan-rekannya. Mereka biasanya makan atau minum kopi di sana bersama-sama.
Pada saat itu Theo meminta salah satu rekannya untuk membantunya memindahkan sim card ke ponselnya yang baru.
"Ini gimana caranya?" tanya Theo pada Bisma.
Bisma meminta kedua ponsel Theo kemudian membantunya memindah sim card. "Megan Brox?"
Tanya pemuda yang usianya lebih tua dua tahun dari Theo. Dia melihat wallpaper ponsel Theo yang baru.
"Cantik, 'kan? Aku salah satu fansnya," ucap Theo berdusta. Di dalam hatinya dia minta maaf berulang kali karena berbohong.
Bisma menggelengkan kepalanya. "Cantik bagi orang yang tidak tahu boroknya, aku beberapa kali tidak sengaja memergokinya gonta ganti pasangan di hotel ini. Kehidupan artis kan rata-rata memang begitu, aku juga pernah mendapati artis dengan selingkuhannya, parah parah!"
"Tapi kak Megan orang baik, aku percaya itu," Theo tetap membela istrinya walaupun dia mendapati kenyataan yang menyakitkan.
"Itu karena kau fansnya, coba nanti kalau kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, kau pasti akan illfeel," Bisma berani bertaruh.
Namun, Theo tetap berpendirian teguh.
"Aku percaya dengan kak Megan," balas Theo dengan yakin.
"Terserahmu saja," Bisma memberikan ponsel baru Theo yang sudah dia pasang sim card. "Kau banyak uang ya, ponsel ini kan kalau tidak salah harganya lima belas jutaan ke atas!"
"Aneh, kau kan yang punya ponsel masak tidak tahu harganya,"
"Aku cuma dikasih,"
Theo pasti akan menjaga baik-baik ponselnya yang seharga motor itu.
Sesuai janjinya, setelah pulang kerja keesokan paginya Theo membelikan Megan nasi pecel.
"Yang satu pakai ayam, yang satu telur saja," ucap Theo memesan.
"Telur adanya yang rebus," sahut pemilik warung.
"Iya tidak apa-apa," Theo rela makan apa saja supaya bisa berhemat. Lebih baik dia makan telur setiap hari dari pada minta-minta uang pada istrinya kalau uangnya habis.
Setelah membayar dua bungkus nasi pecel, Theo berjalan cukup jauh untuk memesan ojek yang akan mengantarnya ke apartemen istrinya.
"Piye iki, rumahnya apartemen tapi kok naik ojek," komentar mang ojek itu ketika sampai di tempat tujuan.
"Cuma numpang saja, Mang," balas Theo seraya memberikan ongkos ojek itu.
Dia kemudian berjalan ke parkiran basement dan naik lift dari sana. Theo menyender di dinding lift karena lelah. Setelah ini dia akan tidur lebih lama dari pada kemarin.
"Kakak, aku pulang..." Theo bersuara ketika masuk ke unit apartemen Megan.
Pada saat itu, Megan baru bangun tidur dan bermain ponsel di meja makan.
"Aku di sini!" serunya mendengar suara Theo.
Pemuda itu pun mendatangi istrinya. "Kakak belum makan, 'kan? Aku bawa nasi pecel!"
Demi menghargai Theo, Megan memang sengaja menahan laparnya padahal bisa saja dia pesan makanan.
"Aku menunggumu pulang," ucap Megan berhenti main ponsel.
Di depannya sudah ada nasi pecel dengan lauk dada ayam, Megan melirik nasi pecel Theo yang lagi-lagi lauknya telur tapi kali ini telurnya rebus.
"Kau sepertinya memang suka telur, ya?" tegur Megan.
"Iya, telur kan proteinnya tinggi," Theo memberi alasan lagi.
"Aku juga suka telur," ucap Megan seraya tersenyum nakal dan melirik celana Theo.
"Maksudnya kakak suka lato-lato ku?" tanya Theo langsung paham dengan telur yang dimaksud istrinya.
Megan mengangguk. "Iya, telur kembar!"