Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 27 - Pertanyaan



"Sulis..." panggil Bisma yang sedari tadi mencari pemuda itu.


Theo pada saat itu masih membersihkan salah satu kamar hotel dan mendengar suara Bisma yang masuk ke kamar itu.


"Ada apa?" tanya Theo tanpa menoleh ke arah temannya.


"Apa kau sudah selesai?" Bisma sudah berdiri di samping Theo.


"Sedikit lagi ini," sahut Theo yang masih sibuk melakukan pekerjaannya.


"Katanya kau butuh pekerjaan tambahan, di ballroom ada pesta dan kekurangan pramusaji. Lumayan kan apalagi bisa melihat para artis ibukota," Bisma menjelaskan.


Kalau begini, Theo jadi tertarik. Dia mempercepat pekerjaannya kemudian pergi bersama Bisma untuk menawarkan jasa pramusaji di pesta.


Theo dan Bisma diberi seragam lalu diminta untuk melayani para tamu pesta.


"Aku tidak suka bau minuman ini," ucap Theo ketika disuruh berkeliling untuk membawa wine.


"Kita hanya bekerja, suka atau tidak suka hanya bisa menelannya tanpa protes," balas Bisma. Dia berkeliling duluan.


Theo memilih arah yang berlawanan dari Bisma, dia berjalan dengan nampan berisi beberapa wine. Sampai pemilik pesta, bertepuk dan memanggilnya untuk mendekat.


"Kemari!" seru Maya.


Pemuda itu pun berjalan ke arah meja Maya berada, tiba-tiba tangannya bergetar karena mendapati istrinya juga ada di meja itu.


"Kakak..." batin Theo. Dia melihat Megan duduk disebelah seorang lelaki, lelaki yang tampan dan tampak dewasa apalagi dari penampilannya seperti orang kaya dan mapan. Sesuai kriteria ibu Megan.


Sementara dirinya terlihat memakai seragam pramusaji. Sangat berbanding terbalik.


Tidak kalah terkejut, Megan membelalakkan mata karena melihat Theo yang menjadi pramusaji. Kedua tangannya mengepal karena menahan kekesalan.


"Ada apa denganmu?" tegur Maya yang melihat Theo mematung.


"Ma... maafkan saya," Theo langsung berusaha menguasai dirinya. Dia meletakkan gelas-gelas berisi wine yang dia bawa di meja itu.


"Apa kakak juga akan meminum cairan neraka ini?" batin Theo.


Dia tidak mau melihatnya jadi setelah dari meja itu, Theo tidak melanjutkan pekerjaannya. Lebih baik dia kembali menjadi petugas kebersihan seperti biasa.


Namun, Theo tidak bisa menahan diri. Dia menangis di koridor kosong dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Theo..." panggil seseorang.


Dia mengenal suara itu, saat dia menoleh ke belakang Megan sudah berdiri di sana.


"Kenapa menangis di sini? Temui aku di parkiran," Megan berlalu untuk pergi ke parkiran basement.


Setelah Theo meletakkan gelas-gelas wine tadi, seperti biasa teman-temannya pasti akan memaksanya minum. Tapi, kali ini Megan menolak keras dan memilih berpamitan pulang.


Perempuan itu kemudian mencari Theo yang dia temukan menangis di lorong sunyi, terlihat begitu menyedihkan.


Sepertinya mereka perlu bicara jadi Megan meminta suaminya itu untuk menemuinya di dalam mobil.


Beberapa menit menunggu, kaca mobilnya diketuk seseorang dan Megan langsung membukanya.


"Masuklah!" pinta Megan.


Dia sudah menghubungi Tia supaya menyusulnya setelah dia selesai berbicara pada Theo.


Saat ini pasangan suami istri sudah duduk berdua di kursi belakang.


"Apa yang membuatmu menangis?" tanya Megan membuka suara.


"Apa kau berpikir, aku menjadi Budhe Juminten?"


"Aku seorang artis jadi kau harus terbiasa jika adanya gosip-gosip murahan yang beredar apalagi setelah pesta seperti ini."


Megan berusaha membuat Theo memaklumi jika nantinya ada berita tidak menyenangkan hati pemuda itu apalagi Theo sudah memakai ponsel canggih.


Seperti biasa, Megan selalu dibuat spechless dengan tanggapan suaminya.


"Aku percaya dengan kakak, masalahnya sekarang aku tidak percaya pada diriku sendiri. Seharusnya aku bisa memanggil istriku saat kita bertemu tak terduga seperti tadi, tapi aku hanya bisa diam karena..."


Theo tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena air matanya menetes lagi.


"Karena apa, hem?" Megan meraup wajah Theo dengan kedua tangannya.


"Kakak pasti malu mempunyai suami seperti aku, 'kan?" tanya Theo.