Hidden Husband

Hidden Husband
HH BAB 55 - Mulai Debut



Semakin Megan keras kepala, semakin Tia penasaran apa file yang dimaksud Ruben sampai membuat perempuan itu mengusirnya dan Theo pergi.


Tia harus lebih bersabar dan selalu waspada karena tidak tahu apa rencana Ruben selanjutnya.


Untuk sementara Tia akan melupakan itu karena ada pekerjaan yang harus dia urus dulu.


Saat check out dari hotel, ponsel Tia berbunyi karena mendapat panggilan dari produser musik kenalannya yang tertarik untuk menarik Theo ke rumah produksi musik.


"Minggu depan, dia bisa langsung ke studio rekamanku!"


Mendengar itu, Tia merasa lega akhirnya Theo mempunyai harapan untuk berkarir.


"Aku akan memberitahu managernya," balas Tia.


Jika mengingat Theo yang memberikan nomor Bisma padanya, Tia rasanya ingin tertawa. Bisa-bisanya pemuda itu mempunyai manager sebelum memulai apapun.


Tia pun menghubungi Bisma yang pada saat selesai bekerja shif malam.


"Siapa ini?" gumam Bisma ketika melihat nomor asing menghubunginya. Dia menerima panggilan itu karena takut itu adalah panggilan penting.


Dan benar saja, Tia memperkenalkan diri dan memberitahu tentang jadwal temu antara Theo dan produser musik yang ingin meminang pemuda itu.


"Dan bisakah kau membantu Theo? Dia pasti sedang kesulitan," ucap Tia setelah berbicara panjang lebar.


Awalnya Bisma tidak mengerti maksud Tia tapi setelah mendapat panggilan dari Theo pagi itu, dia langsung mengerti karena Theo sementara ingin tinggal bersama di kosnya.


Setelah sampai, Theo memang langsung mengemasi barangnya di apartemen Megan, dia berpamitan dengan Berta.


Tapi, seperti biasa ibu mertuanya mengacuhkan dirinya.


"Baguslah kalau kau sadar diri," ucap Berta begitu menohok.


Theo tidak merasa tersinggung seperti biasa, dia lalu pergi ke pos security untuk berpamitan dengan Parto dan lainnya.


"Tinggal di tempatku saja, ya," Parto menawarkan diri tapi Theo menolaknya. Dia ingin tinggal bersama Bisma saja.


Ketika Theo sampai, Bisma membantu menurunkan semua barang Theo.


"Tidak apa-apa, bersusah dahulu bersenang kemudian, kau mungkin sekarang jadi gembel begini tapi siapa tahu kau akan jadi orang sukses besok," Bisma memberi semangat dan tidak mau terlalu banyak bertanya mengenai hal pribadi Theo. Biarlah temannya itu nanti cerita-cerita sendiri.


Theo berusaha tegar apapun yang terjadi, dia tidak menangis sama sekali karena tidak mau jadi laki-laki cengeng.


"Apa kau siap tampil di televisi?" tanya Bisma.


"Awalnya memang kau hanya menjadi bintang tamu saja tapi minggu depan ada produser musik yang ingin mengontrakmu, ini awal yang bagus untuk karirmu," Bisma menjelaskan.


Theo sedikit terhibur walaupun di kepalanya memikirkan keadaan Megan.


"Oh iya, apa ibumu sudah membeli ponsel baru?" Bisma mengalihkan pembicaraan.


"Aku tanya Budhe Juminten dulu," Theo kemudian menghubungi tetangga fenomenalnya itu.


Beruntung Budhe Juminten langsung menerima panggilan dari Theo.


"Apa ibu sudah beli ponsel, Budhe?" tanya Theo di sana.


"Sudah tapi ibumu masih belajar, namanya baru pegang ponsel, ibumu takut karena ada getar-getarnya," jawab Budhe Juminten jujur.


Theo tertawa mendengarnya, pasti lucu jika melihatnya secara langsung.


"Kasih tahu ibu saja kalau aku mau masuk televisi ya, Budhe. Biar ibu bisa lihat," ucap Theo memberitahu.


"Weleh, kok bisa masuk televisi?" Budhe Juminten bingung.


Berita viral Theo memang belum masuk ke kampungnya.


"Ternyata kampung kita punya artis, sebentar aku cari marbot masjid biar bisa diumumkan pakai speaker masjid," lanjut Budhe Juminten bersemangat. Semua warga kampung harus melihat Theo.