
Setelah berusaha keras dan dibantu Theo akhirnya Megan berhasil buang air dengan sukses walaupun ada drama menangis.
"Tidak apa-apa, sayang. Ini akan jadi pengalaman baru untukmu, seorang Megan buang air di closet jongkok. Itu sangat keren," ucap Theo berusaha menghibur.
Megan memukul dada Theo pelan, bisa-bisanya dia yang tidak bisa menggunakan closet jongkok seperti itu disebut keren.
Dia pikir cukup sampai disitu ternyata ada hal lain terjadi, tiba-tiba listrik padam yang membuat seluruh kampung jadi gelap gulita.
Theo buru-buru mengambil lampu emergency supaya ada penerangan.
"Apa hal ini sering terjadi?" tanya Megan.
"Daerah kampung memang sering terjadi pemadaman listrik begini," jawab Theo. Dia mengecek kamar Ara dan memberi lampu emergency di sana.
Tak lupa lelaki itu memberikan lotion nyamuk di tangan dan kaki putrinya.
"Apa itu?" tanya Megan yang menyusul ke kamar Ara.
Megan berdiri tapi ditarik Theo untuk duduk, Theo juga mengoleskan lotion nyamuk di tangan istrinya.
"Karena kipas angin mati biasanya jadi banyak nyamuk," ucap Theo menjelaskan.
Baru pertama kali Megan memakai lotion nyamuk yang baunya menyengat seperti ini.
Ternyata listrik padam karena hujan deras disertai guntur, Megan jadi takut.
"Apa ini karena aku datang kemari?" tanya Megan jadi cemas.
"Tentu saja tidak, sepertinya alam merestui pembuatan anak kecubung," goda Theo.
"Kenapa kau selalu memberi nama aneh pada anak-anakku," protes Megan.
"Anak-anakku? Berarti mau menambah lagi, 'kan?" Theo semakin menggoda istrinya.
"Aku belum memikirkannya," Megan berdiri karena ingin menghindari Theo tapi rupanya lelaki itu mengikuti langkah kakinya dan merangkulnya dari belakang.
"Jangan terus menghindar, kita sudah harus memikirkan masa depan dan jangan terbelenggu masa lalu," pinta Theo.
"Tapi..." Megan mengingat dirinya yang selama terpengaruh obat. "Aku banyak kekurangan bahkan mentalku saja tidak sehat, aku orang gila, Theo! Bagaimana mungkin aku bisa jadi ibu yang baik?"
Bahkan sampai hal sekecil itu Theo perhatikan dan memang benar semenjak bertemu suami dan anaknya, Megan tidak mengonsumsi obat. Biasanya dia harus minum obat penenang dan obat tidur di malam hari supaya tidak gelisah.
"Kau sudah menemukan obatmu yang sesungguhnya, sayang," Theo mengecup tengkuk Megan.
Hari semakin dingin karena hujan belum berhenti dan suasananya sangat cocok untuk membuat anak.
Theo membimbing istrinya masuk kamar dan memberi foreplay pada Megan supaya perempuan itu siap untuk dimasuki.
"Kau belajar dari mana?" tanya Megan yang merasa Theo semakin handal, tidak kaku seperti dulu.
"Kan istriku adalah guruku," jawab Theo.
"Sepertinya aku tidak mengajari ini," komentar Megan ketika Theo menyesap sesuatu di bawah sana. Dia bahkan harus menahan teriakan.
"Aku sudah memodifikasinya sendiri," ucap Theo memberi alasan.
Foreplay demi foreplay yang diberikan Theo mampu membuat Megan tidak berkutik sama sekali.
Akhirnya mereka melakukan penyatuan lagi dalam kondisi Megan yang sadar.
"Ugh!" Megan merasa milik suaminya semakin besar dan mentok sampai ke ujung. Dia sampai meringis dan ngilu.
"Siap?" Theo bertanya karena ingin memaju mundurkan pinggulnya.
Namun, bersamaan dengan itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka karena lupa dikunci.
"Ayah... Ibu..." panggil Ara yang terbangun karena suara guntur.
Buru-buru Theo dan Megan menyembunyikan diri di dalam selimut, mereka pura-pura tidur.
Ara semakin mendekat dan melihat kedua orang tuanya tidur telentang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh, hanya menyisakan bagian kepala saja.
"Aku mau tidur di tengah," ucap Ara bersiap naik ke atas ranjang.
"Jangan!!" Theo dan Megan langsung membuka mata lalu berteriak bersama.